Jagung merupakan bahan pakan yang sangat penting bagi bisnis perunggasan
POULTRY INDONESIA – Jakarta, Industri pakan unggas merupakan industri yang selalu mengikuti perkembangan industri budi dayanya. Pakan unggas yang banyak membutuhkan bahan pakan pendukung seperti jagung, bungkil kedelai, dan lain-lain sudah menjadi hal yang harus ada terlebih dahulu sebelum berbicara proses produksi pakan. Fakta di lapangan yang menunjukkan bahwa tidak semua bahan pakan dapat dipenuhi dari hasil pertanian lokal, maka importasi adalah hal yang mau tidak mau tetap dilakukan demi keberlangsungan proses produksi tetap berjalan.

“Namun sejak kebijakan pelarangan impor diberlakukan, hal ini membuat para pelaku industri pakan harus memutar otak untuk bisa terus mencukupinya. Oleh karena itu data produksi selalu menjadi hal menarik untuk dilihat oleh para pelaku industri bidang ini”.

Seperti halnya jagung, sebagai bahan pakan yang paling dominan dalam seluruh formulasi pakan, maka stok komoditas ini harus selalu tercukupi. Selama ini, bahan pakan seperti jagung tidak hanya dipenuhi dari jagung lokal semata melainkan juga didatangkan dari luar negeri. Namun sejak kebijakan pelarangan impor diberlakukan, hal ini membuat para pelaku industri pakan harus memutar otak untuk bisa terus mencukupinya. Oleh karena itu data produksi selalu menjadi hal menarik untuk dilihat oleh para pelaku industri bidang ini.
Data jagung masih diperdebatkan
Terkait dengan data jagung di Indonesia, Ketua Asosiasi Petani Jagung Indonesia (APJI), Sholahudin, menegaskan bahwa selama rentang waktu 2018 ini pemerintah telah menargetkan produksi jagung nasional akan mencapai 30 juta ton. Sholahudin juga sangat mengapresiasi target yang sudah ditetapkan oleh pemerintah.
Baca Juga : Kabar Bisnis Pakan Unggas
Meski sebetulnya dari sudut pandang petani terdapat banyak kendala yang membuat produksi jagung diperkirakan hanya berkisar antara 26 – 27 juta ton. “Paling minim, kami bisa melakukan produksi sebanyak 24 juta ton untuk tahun ini, dan produksi sebesar itu hampir sama dengan produksi tahun lalu, di mana dengan produksi sebesar itu kami menjamin kebutuhan jagung baik untuk bahan pakan ternak maupun untuk bahan baku makanan dan minuman dapat tercukupi dengan baik, dan tidak perlu impor,” tegas Sholahudin, ketika ditemui Poultry Indonesia (27/5) di perkebunan jagung Desa Banyubang, Kecamatan Solokuro, Kabupaten Lamongan.
Jaminan akan kemampuan produksi dalam negeri itu terbukti dengan adanya produksi yang cukup, bahkan bisa melakukan ekspor jagung pada kwartal pertama tahun ini. Besaran ekspor jagung untuk tahun ini diawali dengan 160 ribu ton, dan direncanakan akan terus meningkat mendekati target yang diberikan oleh pemerintah yaitu sekitar 500 ribu ton.
Farid, Yafi, Domi
Artikel ini adalah ringkasan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Juli 2018 di halaman 20 dengan judul “Ketersediaan Bahan Pakan Unggas. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153