Ayam kampung memiliki resistensi yang tinggi terhadap serangan penyakit dibandingkan dengan ayam ras.
POULTRY INDONESIA, Jakarta – Dewasa ini konsumen di dunia sudah mulai jenuh dengan konsumsi daging putih dari ayam ras. Hal tersebut terlihat dari beberapa negara yang mulai melakukan penelitian terhadap ayam berwarna atau juga biasa disebut color bird. Perusahaan itu antara lain Sasso di Prancis dan Dominant CZ di Ceko, yang memproduksi color bird karena dianggap menghasilkan kualitas daging lebih baik dari broiler yang ada selama ini. Tekstur dagingnya yang unik dan memiliki rasa yang khas membuat produk kuliner olahan dari ayam kampung ini mulai naik daun. Namun ada beberapa permasalahan dalam intensifikasi budi daya ayam lokal saat ini. seperti mahalnya harga pakan komersial khusus ayam lokal, terbatasnya bibit unggul, serta waktu pemeliharaan yang cukup lama.
Selain itu juga ada beberapa sifat alamiah dari unggas lokal yang bisa dibilang kurang menguntungkan. Seperti instinct peck order dan kanibalisme yang tinggi jika unggas lokal tersebut dipelihara dalam satu kandang postal seperti broiler. Sifat ayam lokal cenderung lebih agresif dibandingkan dengan ayam ras, karena habitat asal dari ayam lokal di Indonesia adalah Red Jungle Powl. Naluri alamiah bertahan dari alam liar ayam hutan merah sangat kuat. Terbukti dari postur tubuh yang ramping, kaki lebih panjang, serta sayap yang kokoh.
Baca Juga : Jalan Terjal Pengembangan Unggas Lokal
Sifat ayam lokal yang biasa diumbar di alam masih terbawa jika ayam lokal harus dipelihara di dalam kandang. Apalagi jika kebutuhan akan nutrisi dan suasana kandang terlalu penuh, tingkat kejadian kanibalisme akan meningkat. Heat stress juga berdampak besar terhadap terjadinya kanibalisme di dalam pemeliharaan unggas lokal. Hawa panas yang dirasakan akan mendorong ayam dengan sifat superior untuk melakukan kanibalisme. Oleh karena itu, penting bagi para peternak ayam lokal untuk memerhatikan manajemen pemeliharaan. Manajemen itu meliputi pemberian pakan dengan nutrisi yang seimbang, suhu dan udara di dalam kandang.
Penanganan kanibalisme dan peck order
Dalam penanganan kanibalisme dan peck order dapat dilakukan dengan perlakuan pemberian pakan dan minum harus secara adlibitum atau terus menerus. Ketika pakan dalam tempat pakan ayam sudah mulai terlihat sedikit, sebaiknya langsung saja diberikan lagi jangan menunggu pakan tersebut habis. Karena ketika pakan di tempat pakan ayam mulai sedikit, ayam lokal tersebut mulai terlihat sisi agresifnya yaitu mematuki ayam ayam lain atau bahkan sampai memulai perkelahian antar ayam dominan untuk memperebutkan pakan.

Meningkatkan produktivitas ayam lokal harus dibaca secara menyeluruh, tidak bisa hanya mempertimbangkan dari satu aspek manajemen saja.

Hal tersebut juga berlaku untuk air minum. Jika pemberian air minum masih diberikan secara manual, maka harus selalu tersedia 24 jam air minum untuk ayam. Ayam mampu bertahan antara 15-20 hari jika tidak diberi pakan. Namun jika tidak diberi minum sama sekali, ayam hanya mampu bertahan selama 2-3 hari saja, sehingga dapat memicu agresivitas dari ayam lokal tersebut.
Selain itu, perlu diperhatikan mengenai kepadatan kandang. Usahakan agar rasio di dalam kandang tetap 1:5-9, yaitu setiap 1 meter persegi hanya diisi oleh 5 – 9 ekor ayam. Jika tidak, maka dengan kepadatan yang tinggi, ayam akan mulai mematuki ayam lain yang ada di dalam kandang.
Baca Juga : Ayam Lokal : Sejarah, Istilah, dan Arah Pengembangannya
Lalu perhatikan suhu dan sirkulasi udara dalam kandang, usahakan agar suhu kandang tidak terlalu panas juga tidak terlalu dingin. Juga pertimbangkan untuk memberikan vitamin dan mineral tambahan untuk menyiasati jika penyebab dari kanibalisme adalah kekurangan asupan mineral. Pemberian tenggeran untuk ayam dalam kandang juga mampu mengurangi masalah kanibalisme dan peck order.
Tenggeran tersebut berfungsi sebagai tempat istirahat ayam sehingga mampu mengurangi stres baik bagi ayam yang dominan maupun bagi ayam yang sub ordinat. Tenggeran dapat berupa kayu, bambu, maupun besi dengan ketebalan 4-5 cm. Sebaiknya tenggeran berbentik lingkaran untuk memudahkan ayam bertengger di atasnya. Untuk panjang maupun pendeknya tenggeran sebaiknya disesuaikan dengan keadaan ruangan kandang. Domi
Artikel ini adalah ringkasan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Juli 2018 di halaman 64 dengan judul “Mengatasi Kanibalisme pada Ayam Lokal. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153