Edy Purwoko, selaku Country Manager Ceva Animal Health Indonesia, yang kami temui di sela-sela acara mengungkapkan bahwa tema seminar tersebut adalah Pullet Quality: Key Success of Good Layer Performance.. Dengan pullet yang kualitasnya bagus, nantinya kita akan mendapatkan potensi genetik yang bagus pula dari layer. “Kenapa pullet management kita angkat pada Layer Day kali ini? Karena kita tahu bahwa kualitas pullet sangat penting agar nantinya kita bisa mendapatkan produksi telur yang optimal. Dan dalam acara ini Ceva bisa berbagi, Ceva bisa bersilaturrahmi, dan Ceva bisa beranjangsana kepada para pelanggan setia Ceva di layer,” ungkap Edy.

 

Para pembicara pada Seminar Layer Day 2019
Ancaman ND dan IB di lapangan
Penyakit Newcastle Disease (ND) dan penyakit Infectious Bronchitis atau IB, memang merupakan penyakit akibat infeksi virus yang sangat mengancam di industri perunggasan. Penyakit ini sangat merugikan untuk peternak baik di broiler maupun layer. Ada dua hal masalah yang perlu digarisbawahi terkait penyakit ND terutama di Indonesia. Pertama selalu dan sering kali untuk mengatasi solusi penyakit ini, peternak breeding menggunakan vaksin live dan vaksin killed, yang dilakukan berkali-kali. Hal ini menyebabkan titer penyakit ND menjadi tinggi. Dan konsekuensinya adalah anak ayam yang ditetaskan mempunyai maternal antibodi yang sangat tinggi pula. Sehingga memunculkan adanya interferensi antara maternal antibodi dengan vaksin ND live dan vaksin ND killed yang diberikan, dan membawa dampak kekebalan yang didapatkan pada DOC menjadi terlambat.
Faktor kedua, di Indonesia tantangan penyakit untuk ND sangat tinggi. Ketika ayam yang kita miliki di kandang kekebalannya turun, salah satunya stres akibat lingkungan misalnya, ayam ini akan sangat mudah terinfeksi oleh penyakit ND, sehingga tentu ini akan mengganggu produktivitas. Dari sini Ceva akan memberikan solusi dengan meluncurkan inovasi teknologi vaksin yang baru untuk ND berupa vektor vaksin yaitu Vectormune ND.
Vectormune ND merupakan vektor vaksin yang menggunakan HVT Marek sebagai vektornya dan juga memasukan gen F dari virus ND. Vaksin yang digunakan di hatchery ini dapat memproteksi dalam jangka waktu panjang dan juga memberikan perlindungan terhadap turunnya produksi akibat serangan ND.
Di layer, vektor vaksin yang akan digunakan adalah Vectormune ND + Rispens sehingga peternak layer bisa sekaligus memberikan vaksin marek dan ND sekaligus. Vaksin ini juga akan mengurangi shading (pencemaran) virus ND di lapangan.
Jessica Lee, selaku Veterinary Service Manager for Poultry, Ceva Animal Health Asia melihat bahwa di Indonesia ini ada banyak sekali masalah terkait penyakit ND dan IB yang harus dikendalikan. “Saya yakin Vectormune ND yang Ceva punya bisa mengatasi permasalahan ND ini di Indonesia. Karena Vectormune ND ini dirancang menggunakan teknologi yang bagus, proteksi dari Vectormune ini sangat kuat. Di samping itu, Vectormune ND ini bisa mengurangi penyebaran penyakit ND di lapangan, baik utuk broiler (Vectormune ND) dan layer (Vectormune ND + Rispens). Jadi ini merupakan produk lengkap yang kami punya, sebagai salah satu solusi untuk penyakit ND di Indonesia,” tandas Jessica.

 

Seminar Layer Day 2019 diselenggarakan di dua kota, yakni Solo dan Tangerang
Kunci Sukses untuk Performa Layer
Dalam seminar yang menghadirkan tiga pemateri tersebut, Ceva memberikan informasi kepada para pelanggannya tentang apa saja kunci sukses untuk mendapatkan performa yang bagus di layer. Dr. Magali Charles, Hendrix Genetics yang merupakan salah satu pemateri dalam seminar tersebut menyebutkan cara memaksimalkan produktivitas layer melalui kontrol manajemen pullet.
Magali menjelaskan bahwa ada tiga tahapan yang perlu dilalui, tahapan tersebut ia beri nama 5, 16, dan 300. Angka 5 berarti pada ayam umur 5 minggu, kita harus memastikan pullet yang kita pelihara sudah mencapai berat yang diinginkan, yaitu sudah mencapai berat 400 gr. Tahapan kedua ia menyebut 16 yang artinya, pada ayam umur 16 minggu kita harus bisa memastikan bahwa keseragaman dari pullet harus mencapai 80% dengan berat rata-rata berat ayam 1400 gr. Dan pada tahapan terakhir yaitu 300, ini merupakan kunci ketiga, dimana harus diperhatikan tercapainya berat badan dari mulai produksi 5% sampai puncak produksi. Pada periode tersebut pertambahan berat badan harus mencapai 300 gr.
Wintolo, selaku Layer and Breeder Development Manager, Ceva Animal Health Indonesia menjelaskan, Ceva mempunyai suatu konsep yang terintegrasi dalam pemeliharaan layer. Adanya pelarangan penggunaan Antibiotic Growth Promoters (AGP), dan dengan kondisi lingkungan di Indonesia yang seperti ini, tentu para pemain di industri perunggasan harus memutar otak, untuk bagaimana kita bisa menghasilkan produktivitas yang optimum.
Data Ceva menyebutkan di tahun 2018 sebanyak 63% penyakit pada layer disebabkan adanya gangguan pada sistem pernafasan. Dan angka ini konsisten dimana berdasarkan laporan sampai bulan Maret 2019 tercatat kasus pernafasan tetap mendominasi bahkan mencapai 80% dari seluruh kasus yang dilaporkan. Dari sini ada dua strategi yang bisa kita terapkan di kandang. Pertama kita harus meningkatkan biosekuriti dan yang kedua harus memperbaiki program vaksinasi. Berbicara tentang vaksin, Ceva menawarkan beberapa solusi yang bisa diaplikasikan oleh para peternak layer. Pertama Ceva fokus pada inovasi produk berupa vektor vaksin, dan juga melengkapi range produk termasuk vaksin kombinasi.
Selain inovasi produk, Ceva juga memberikan dukungan pada equipment. Dukungan equipment ini diberikan Ceva dalam bentuk fokus pada hatchery vaksinasi. Tak hanya Inovasi produk dan dukungan equipment, Ceva juga melengkapinya dengan memberikan paket atau dukungan program service. Dukungan service Ceva yang sudah dilakukan seperti C.H.I.C.K Program, dimana untuk program ini Ceva sudah diakui oleh lembaga independent internasional, Bureau Veritas. Kemudian Ceva juga memiliki EGGS Program dimana dapat membantu peternak layer dalam memonitor vaksinasi di lapangan. Dan yang terakhir Ceva memiliki tim professional yaitu veterinary service team, dimana divisi ini bertugas untuk melakukan monitor, melakukan diagnosa, serta melakukan pemeriksaan laboratorium, termasuk sampling organ, dan jika terjadi suatu kasus di lapangan, divisi ini yang akan melakukan investigasi tentang temuan kasus tersebut