Manajemen pemeliharaan yang tepat dapat mengurangi kerugian akibat perlambatan pertumbuhan ayam broiler (Foto : Adam Rahadian)
Oleh : Dr. Paridjata Westra, M.Agr.S., M.Agr.Sc.,DVM
Kelangkaan bahan pakan khususnya jagung dan kedelai berpengaruh pada kenaikan harga bahan pakan ayam. Hal ini menjadi masalah bagi peternak, karena harus menekan biaya produksi, agar masih memperoleh keuntungan. Sebagai produsen pakan ternak maupun peternak, mereka perlu mencari solusi untuk menekan biaya produksi, seperti misalnya dengan mengurangi nilai diet atau memperbaiki Feed Conversion Ratio (FCR), serta menekan biaya produksi pakan namun tanpa mengorbankan performa ayam.
Berdasarkan hasil penelitian, fosfor adalah nutrisi yang begitu penting untuk mendukung proses fisiologis pada ternak yaitu untuk memelihara dan memacu pertumbuhan badan khususnya unggas golongan hewan monogastrik. Sayangnya, sebagian besar fosfor di dalam bahan pakan seperti jagung, kedelai, dan sebagainya, terkandung dalam bentuk asam fitat (inositol hexaphosphate) yang bersifat kompleks.
Baca Juga : Maggot Sebagai Alternatif Sumber Protein Alami
Asam fitat digolongakan sebagai anti nutrisi yang mengikat protein/asam amino dan nutrisi esensial lainnya, sehingga dengan adanya asam fitat tersebut, ketersediaan asam amino esensial yang ada di dalam pakan ayam menjadi terbatas atau berkurang. Selain itu, ayam juga tidak mampu mencerna dengan sempurna asam fitat karena kapasitas daya ikat asam fitat yang ada dalam setiap bahan pakan tidak sama dan juga tergantung pada pH didalam saluran cerna.
Apabila pH rendah di dalam proventrikulus dan gizzard, maka asam fitat menjadi mudah mengikat protein yang kemudian akan membentuk asam fitat protein kompleks. Selanjutnya, bila pH lebih tinggi khususnya pada saluran cerna bagian bawah, artinya asam fitat mempunyai afinitas tinggi terhadap mineral dan ini berpengaruh buruk pada produktivitas ayam. Oleh karena itu, bisa disimpulkan bahwa asam fitat menyebabkan ayam dan ternak monogastrik lain seperti babi akan kehilangan banyak energi dan protein. Artinya, secara keseluruhan asam fitat menyebabkan kerusakan performa ayam dan merugikan peternak.
Enzim phytase
Enzim phytase yang digunakan untuk imbuhan pakan berfungsi untuk memecah asam fitat yang terkandung di pakan dan membebaskan fosfor inorganik dan inositol. Selain itu, enzim phytase juga akan membebaskan protein, asam amino, trace mineral, dan nutrisi lain yang menempel dengan asam fitat. Akibatnya, fosfor dan nutrisi lain seperti trace mineral dan protein menjadi banyak tersedia dan bisa digunakan untuk memelihara dan memacu pertumbuhan badan ayam.
Penambahan enzim phytase juga dapat mengurangi dan bahkan menghilangkan penambahan fosfor inorganik yang notabene harganya mahal sehingga terjadi penghematan biaya produksi. Bukan itu saja, dengan penambahan enzim phytase, nutrisionis bisa mengurangi baik energi dan protein (khusus asam amino) di dalam formulasi pakan. Efeknya adalah penggunaan energi dan asam amino di dalam saluran cerna ayam meningkat. Inilah yang disebut sebagai ekstra keuntungan. Selain itu, penggunaan enzim phytase juga menurunkan polusi fosfor di lingkungan sehingga lingkungan akan lebih sehat.
Baca Juga : Daging Ayam Untuk Menjaga Pertumbuhan dan Kesehatan
Tersedia dua jenis phytase yang patut diketahui oleh nutrisionis yaitu fungal phytase dan Escherichia coli phytase. Rata-rata jenis E. coli phytase 67% lebih efektif dibanding fungal phytase. Hal tersebut bisa terjadi karena E. coli phytase lebih cepat  dan lebih lengkap dalam memecah asam fitat terutama dalam kondisi pH saluran cerna rendah. Selain itu juga,  E. coli phytase  lebih aktif dan efektif dalam menghidrolisis IP6 content phytate. Aktivitasnya mencapai level 164% terhadap IP6 (phospahate-6) dalam subtrat soy protein.
Memaksimalkan manfaat phytase
Tingkat kandungan asam fitat dalam bahan pakan bervariasi dan berpengaruh negatif  pada keseluruhan utilisasi nutrisi dan pada akhirnya menurunkan performa ayam. Penambahan enzim phytase generasi baru bisa mengatasi banyak pengaruh negatif anti nutrisi. Di saat harga bahan pakan seperti jagung, kedelai, dan sebagainya meningkat, maka penambahan enzim phytase dalam pakan harus memahami karaktristik enzim phytase tersebut. Penggunaan phytase Escherichia coli dan Schizosaccharomyces pombe lebih aktif dibanding phytase sodium, serta jauh lebih unggul dibanding fungal phytase. Dengan demikian, penggunaan phytase S. pombe dengan dosis 0.1 FTU/ml bisa menjadi pilihan atau nutri phytase  500 FTU/g/concentrate 75-150 g/MT.
Berdasarkan paparan yang telah dijelaskan pada paragraf-paragraf sebelumnya, maka keuntungan dalam menggunakan enzim phytase di dalam formula pakan antara lain: pertumbuhan broiler menjadi lebih tinggi; efisiensi pakan lebih baik; biaya formulasi pakan (cost feed formulation) lebih rendah; ME/kg pakan lebih rendah; kondisi litter lebih kering (bau kandang berkurang); serta keuntungan akan lebih tinggi. Penulis merupakan praktisi perunggasan tinggal di Surabaya, Jawa Timur.