Vaksinasi sebaiknya diberikan sedini mungkiin untuk memberikan perlindungan terbaik bagi ternak
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Pemberian vaksinasi sejak dari penetasan (hatchery) dipercaya dapat meningkatkan antibodi alami sejak dini. Berdasarkan data yang dihimpun oleh Ceva, salah satu perusahaan penyedia vaksin hatchery, menyebutkan pada tahun 2008 merupakan awal mula ditemukannya hatchery vaccine IBD. Namun penetrasi pasar kala itu masih sangat kecil, sehingga dari total pengguna vaksin di Indonesia, hanya 20% yang mau menggunakan teknologi hatchery vaccine, sisanya sebesar 80% masih menggunakan vaksin konvensional. Akan tetapi, sepuluh tahun berselang yaitu pada tahun 2018, sebanyak 80% pelanggan mereka sudah mau beralih ke hatchery vaccine, sisanya sebesar 20% masih menggunakan vaksin konvensional. Hal tersebut disampaikan oleh Jessica Lee selaku Asia Veterinary Services Manager Ceva Animal Health Asia dalam Seminar Chick Day di Jakarta tanggal 9 April 2019 silam.
Dengan adanya teknologi hatcery vaccine, para peternak di lapangan memiliki opsi lain dalam melakukan usaha budi daya. Dengan memesan DOC yang sudah divaksin bahkan sejak sebelum masuk kandang, maka seharusnya bisa menurunkan risiko terkena penyakit yang disebabkan oleh virus. Sehingga dalam waktu minggu kedua dan ketiga masa pemeliharaan, peternak tinggal mengatur manajemen yang tepat dalam pemeliharaan dan hanya memberikan booster vaksin untuk meningkatkan kembali titer antibodi.
Baca Juga : Mengenal Teknologi Vaksin Sejak dari Penetasan
Dalam rangka persiapan vaksinasi, hal pertama yang harus dilakukan adalah menyiapkan area vaksinasi. Hal yang harus diperhatikan pada area ruang persiapan vaksin, yaitu hanya akses untuk petugas yang berkepentingan bukan untuk dijadikan tempat beristirahat atau lainnya dan menjaga agar ruang vaksinasi selalu dalam keadaan bersih. Jika ruang persiapan vaksin tidak dipersiapkan dengan baik, maka berpotensi terjadi kontaminasi mikroba saat proses pencampuran vaksin. Berdasarkan pengalaman di lapangan, menunjukkan bahwa kontaminasi mikroba dapat menghasilkan kerugian besar dalam daya tetas dan lebih jauh dapat menyebabkan kematian dini.
Ada banyak sekali teknologi vaksinasi yang tersedia untuk penerapan di hatchery. Namun pemberian vaksin di hatchery masih sangat rentan adanya kontaminasi dari lingkungan. Sehingga akhir-akhir ini berkembang teknologi otomatisasi yang memungkinkan pemberian vaksin di dalam telur telur tetas atau secara in ovo.
Baca Juga : Pencegahan Terhadap Penyakit Avian Influenza
Berdasarkan riset yang dilakukan oleh PT Zoetis Animal health Indonesia, yang disebutkan oleh Dr. Tarcisio Villalobos, DVM pada acara Zoetis Hatchery Seminar pada Maret tahun lalu, mengatakan bahwa dampak vaksinasi in ovo terhadap kualitas anak ayam, dapat memperkuat penerapan proses persiapan vaksin yang lebih cermat, higienis, dan aman sehingga nantinya menghasilkan anak ayam yang sudah mendapatkan respons imun paling awal sebagai perlindungan terhadap beberapa penyakit.
Teknologi yang digunakan untuk vaksinasi in ovo juga memberikan cara yang lebih efektif dalam menyalurkan vaksin ke telur broiler maupun layer. Dengan vaksinasi secara in ovo ini diyakini dapat memberikan perlindungan yang lebih baik terhadap DOC yang nantinya akan dilepas ke konsumen. Maka dari itu, kemajuan teknologi in ovo ini tampaknya akan menjadi keniscayaan dalam rantai bisnis penyedia vaksin dan pihak hatchery. Di mana selain sangat efisien dan efektif dalam pemberian dosis maupun organ sasarannya, juga akan menjamin keamanan hatchery dari cemaran kontaminasi mikroorganisme patogen yang tidak diinginkan dari lingkungan luar.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Agustus 2019 dengan judul “Mengenal Teknologi Vaksin Sejak dari Penetasan”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153