FGD Prospek Industri Peternakan Itik Nasional Fakultas Peternakan UGM
POULTRY INDONESIA, Yogyakarta – Indonesia memiliki plasma nuftah di sektor perunggasan yang beragam. Potensi tersebut memiliki prospek yang baik untuk penguatan ekonomi masyarakat berbasis industri. Usaha ternak itik merupakan usaha perunggasan yang cukup berkembang di Indonesia saat ini. Hal itu dibahas dalam Focus Group Discussion “Prospek Industri Peternakan Itik Nasional” pada Jumat, (11/5) di Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada di Kampus Bulaksumur Yogyakarta.
Baca Juga : Ayam Lokal, Sejarah, Istilah,  dan Arah Pengembangannya
Meskipun tidak sepopuler ternak ayam, itik mempunyai potensi yang cukup besar sebagai penghasil telur dan daging. Daging dan telur itik menjadi pangan altenatif yang lebih terjangkau dibandingkan daging sapi dan ayam ayam kampung yang relatif mahal. Data BPS tahun 2017 menyebutkan bahwa populasi itik mencapai 50 juta ekor, sedangkan
itik manila mencapai 8,5 juta ekor.
Pada tahun 2016, produksi telur itik mencapai 0,3 juta ton, jumlah tersebut menyumbang 16,2% dari produksi telur total. Sedangkan untuk daging, itik menyumbang 25,03% dari total produksi daging nasional dari semua komoditas ternak pada tahun 2015.
Baca Juga : Cargill Berikan Bantuan Untuk Kembangkan Komunitas Peternak Lokal
Pada tahun 2017, produksi daging itik mencapai 43,200 ton, sedangkan telur
mencapai 308,600 ton. Akan tetapi, peternakan itik masih memerlukan perhatian lebih sehingga potensinya dapat dioptimalkan. Konsep industrialisasi peternakan itik dari hulu sampai hilir harus segera digarap untuk mendapatkan manfaat yang lebih baik.
FGD tersebut dimaksudkan agar mampu menghasilkan
pemikiran tentang pengembangan dan prospek industri itik di Indonesia dan menguatkan komunitas peternak dan pengusaha itik. PI