Puyuh memiliki keunggulan jika dibandingkan dengan ternak unggas lain, diantaranya tidak memerlukan lahan yang besar
POULTRY INDONESIA, Jakarta – Jenis puyuh yang biasa diternakkan di Indonesia berasal dari jenis Coturnix-coturnix japonica. Selanjutnya dalam upaya peningkatan mutu genetik puyuh, dilakukan seleksi pada beberapa generasi sehingga diperoleh Puyuh Padjadjaran, yang terdiri atas galur murni warna bulu cokelat dan hitam. Salah satu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan produktivitas telur puyuh yaitu melalui persilangan. Upaya ini dapat dilakukan dengan menyilangkan puyuh warna bulu cokelat dan hitam, sehingga terhindar dari inbreeding.
Faktor yang memengaruhi produktivitas telur yang dihasilkan puyuh selain kualitas bibit dan pakan adalah manajemen atau tata laksana pemeliharaan. Aspek penting dalam manajemen pemeliharaan di antaranya mengenai perkandangan, pemberian ransum dan air minum serta sanitasi lingkungan kandang. Kandang yang digunakan dalam budi daya puyuh terbuat dari triplek, kayu dan ram kawat, di mana kandang tersebut dibagi menjadi 3 periode yaitu kandang periode starter, grower, dan layer.

“Puyuh merupakan komoditas unggas lokal penghasil daging dan telur yang potensial karena mudah diternakkan dan produktivitasnya tinggi.”

Keunggulan dari beternak puyuh petelur Padjadjaran ini adalah tidak terlalu menghabiskan modal yang besar. Modal yang digunakan untuk memulai beternak puyuh relatif kecil, dan mampu menghemat lahan karena tidak memerlukan lahan yang luas. Kandang periode starter berukuran 100 cm x 80 cm x 40 cm mampu menampung 200 ekor, kandang periode grower berukuran 200 cm x 80 cm x 40 cm mampu menampung 100 ekor, sedangkan kandang periode layer berukuran 100 cm x 60 cm x 40 cm dengan jumlah populasi 30-40 ekor.
Peralatan kandang yang digunakan di antaranya tempat ransum, tempat air minum, egg tray yang digunakan untuk menyimpan telur puyuh, mesin tetas, thermometer dan hygrometer yang digunakan untuk mengukur suhu dan kelembapan. Peralatan lain yang diperlukan dalam pemeliharaan puyuh adalah timbangan, generator dan lampu pijar sebagai sumber pemanas.
Baca Juga : Perlunya Sosialisasi Closed House Untuk Peternak
Menurut hasil penelitian Sudjana (2018), Total pakan yang dikonsumsi puyuh petelur betina selama 7 minggu sebanyak 619,640 gram, dengan rataan 12,65 gram per ekor per hari. Sementara total konsumsi puyuh jantan sedikit lebih rendah dari betina yaitu sebanyak 544,038 gram dengan rataan 11,10 gram per ekor per hari.
Ransum yang digunakan selama masa pemeliharaan periode starter adalah ransum komersial dari pabrik berbentuk mash. Untuk konversi ransum, nilai konversi ransum puyuh petelur selama 7 minggu mengalami nilai yang berubah-ubah setiap minggunya baik jantan maupun betina. Secara keseluruhan nilai konversi ransum puyuh petelur betina selama tujuh minggu sebesar 4,550 dan jantan sebesar 4,525. Konversi ransum dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain bobot badan, imbangan energi protein ransum, suhu lingkungan dan kesehatan. PI
Artikel ini adalah ringkasan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Agustus 2018 di halaman 78 dengan judul “Manajemen Pemeliharaan Puyuh Padjadjaran”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153