Pembangunan closed house memiliki dampak positif pada sistem pengajaran di Fakultas Peternakan (Foto : PI_Dini)
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Tantangan budi daya unggas kian kompleks seiring berkembangnya zaman. Kendala iklim, pelarangan penggunaan antibiotic growth promoter (AGP) pada pakan, hingga tuntutan produk berkualitas dan berkuantitas tinggi adalah sekian persoalan yang mesti dihadapi peternak. Dalam menghadapi hal itu, penerapan teknologi pada proses budi daya pun menjadi kebutuhan yang mendesak. Hadirnya inovasi teknologi dalam proses budi daya unggas mampu membuat proses produksi berjalan efektif, efisien, dan menghasilkan produk bermutu tinggi.

Penerapan teknologi mutakhir dalam sektor perunggasan telah merambah ranah akademi. Beberapa perguruan tinggi di Indonesia pun semakin akrab dengan ragam inovasi terbaru, salah satunya kandang sistem tertutup atau closed house

Sebelum menerapkan teknologi tersebut, ada batu sandungan yang perlu dilewati terlebih dahulu. Tantangan ini berupa sosialisasi dan adaptasi teknologi secara merata bagi insan perunggasan. Oleh karenanya, pembiasaan terhadap inovasi yang sedang berkembang perlu dilakukan sejak dini. Perusahaan perunggasan terintegrasi, sebagai pemain utama industri perunggasan, telah menyadari hal itu. PT Charoen Pokphand Indonesia (CPI) misalnya, berinisiatif menggandeng berbagai perguruan tinggi dalam penerapan teknologi budi daya ini. PT CPI menghibahkan closed house yang diharapkan mampu menjadi teaching farm bagi para pengajar dan mahasiswa. Selain PT CPI, ada pula PT Japfa Comfeed yang ikut membangun kualitas mahasiswa dengan menyediakan laboratorium di salah satu universitas. Berbagai pihak lainnya pun bersinergi dalam meningkatkan mutu pendidikan peternakan unggas kepada generasi pelanjut.
Baca Juga : 
Penandatanganan kerja sama pembangunan closed house telah dilakukan oleh PT CPI bersama Kemenristek Dikti, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Dewan Riset Nasional, serta empat perguruan tinggi yang berlangsung 15 Mei 2017 lalu di Gedung BPPT Jakarta. Empat perguruan tinggi itu antara lain Universitas Diponegoro Semarang, Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, Universitas Hasanuddin Makassar, serta Universitas Airlangga Surabaya. Belakangan, Universitas Andalas di Padang pun mendapat program pembuatan closed house ini.
Setelah lebih dari setahun program ini berlangsung, manfaat nyata pun diungkapkan oleh pihak perguruan tinggi. Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) misalnya, melalui Koordinator Closed House Dr. drh. Muhammad Syamsi, MP., mengatakan bahwa pembangunan closed house memiliki dampak positif pada sistem pengajaran di Fakultas Peternakan. Pembangunan closed house berkapasitas 21.000 ekor dengan luas 12 x 120 meter persegi tersebut, menurut Syamsi, sangat bermanfaat sebagai sarana praktikum seperti pada mata kuliah Kesehatan Ternak, Manajemen Ternak Unggas, dan Ternak Potong. “Setiap periode kami membuka kesempatan kepada mahasiswa dan mahasiswi yang ingin magang di Closed house. Bulan Juli ini sedang berjalan periode kelima pemeliharaan dan kami memberikan kesempatan kepada 14 mahasiswa dan 8 mahasiswi untuk magang,” ungkap Syamsi, Jumat, (13/7).
Ia menambahkan, tugas mahasiswa magang hanya membantu dalam proses operasional pemeliharaan seperti saat chick in, panen, dan lain sebagainya. Peserta magang juga bisa bertugas dalam hal administrasi yang dibantu oleh tenaga kerja tetap. “Harapannya, pelajar magang disini memiliki keahlian yang lebih dibandingkan mahasiswa atau mahasiswi lainnya,” tutur Syamsi. Dini
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi September 2018 di halaman 76 dengan judul “Modernisasi Budi Daya Unggas di Lingkup Akademi”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153