Oleh : Prof. Budi Tangendjadja
Pelarangan penggunaan AGP dan antikoksi sebagai imbuhan pakan sesuai dengan amanat Pasal 22 ayat 4c UU No 18/2009 juncto No 41/2014 tentang Peternakan Kesehatan Hewan. Kebijakan ini akhirnya diterapkan sejak 1 Januari 2018. Hal ini karena penggunaan antibiotik pada pakan akan berasosiasi dengan munculnya beberapa strain patogen resisten, di antaranya Salmonella spp., Campylobacter spp., Escherichia coli, dan Enterococcus spp.

Indonesia sudah mengenal dari nenek moyang akan pentingnya pengobatan penyakit manusia dengan bahan-bahan yang berasal dari tanaman, yang dikenal dengan nama jamu. Berbagai penyakit pun bisa disembuhkan dengan campuran bahan tanaman tersebut. Lalu, bagaimana dengan penerapannya pada unggas?

Sebenarnya untuk menguji suatu tanaman berhasiat untuk pengobatan harus mengalami beberapa uji baik secara kimia atau uji in vitro bahkan in vivo termasuk uji klinisnya. Pengujian bahan aktif tanaman untuk anti bakteri maupun anti mikroba lainnya yaitu:
  1. Analisis kandungan bahan aktif. Khasiat suatu tanaman biasanya diakibatkan oleh satu atau beberapa bahan aktif yang dapat dianalisis di laboratorium kimia. Bahan aktif harus diketahui dulu jenisnya dibandingkan dengan standar. Bahan aktif dapat dianlisis dengan chromatography, baik gas chromatography, liquid chromatography maupun High Performance Liquid Chromatography (HPLC). Untuk membuktikan struktur kimianya dapat dilanjutkan dengan Mass Spectra atau NMR.
  2. Uji in vitro. Sifat anti bakteri dapat diuji secara in vitro dengan melihat daya hambatnya terhadap pertumbuhan bakteri menggunakan ukuran zona bening (clearing zone). In vitro dapat juga dilakukan dengan media cair dengan melihat penghambatan pertumbuhan bakteri.
  3. Uji klinis. Pengujian secara klinis dapat dilakukan dengan hewan baik model hewan misalnya tikus atau kelinci maupun dengan ternak yang dituju. Hewan harus “dibuat sakit” dengan uji tantang dan bahan aktif tanaman diuji untuk kemampuannya mengurangi atau menghilangkan gejala klinis ketika hewan sakit.
  4. Uji penampilan produksi. Dalam kenyataannya, keberhasilan suatu bahan aktif tanaman untuk digunakan sebagai pengganti AGP harus diuji di ternak produksi untuk membuktikan bahwa bahan aktif tersebut mampu menggantikan AGP. Dalam pengujian harus dimasukkan perlakuan kontrol positif (yang diberi tantangan) dan kontrol negatif yang tanpa tantangan (hewan sehat) di samping perlakuan bahan aktif dibandingkan dengan AGP. Pengujian berbagai tingkat atau jumlah pemakaian bahan aktif harus juga dilakukan untuk menentukan konsentrasi bahan aktif yang dimasukkan dalam pakan.
Baca Juga : Belajar Tiada Ujung
Kadang-kadang bahan aktif harus diberikan dalam jumlah tertentu agar hasilnya kelihatan tetapi seringkali kalau kandungannya terlalu tinggi malahan dapat meracuni ternaknya. Perlu diingat bahwa bahan aktif tanaman merupakan senyawa kimia yang dihasilkan oleh tanaman dalam mempertahankan diri dari predator (disebut juga senyawa sekunder) sehingga dapat memberikan pengaruh negatif ketika jumlahnya berlebih. Penulis merupakan Peneliti Utama di Balai Penelitian Ternak (Balitnak) Ciawi, Bogor.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Oktober 2018 di halaman 84 dengan judul “Bahan Aktif Tanaman Pengganti AGP”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153