Salah satu contoh peningkatan nilai tambah produk dengan adanya perubahan fisik produk (Foto : PI)
Oleh : Arief Daryanto
Fluktuasi harga daging ayam dan telur sebenarnya bukan fenomena yang baru. Hal ini dikarenakan produk perunggasan secara umum bersifat musiman, mudah rusak dan permintaan tidak elastis. Tidak hanya di Indonesia tetapi di seluruh belahan dunia, bisnis peternakan ayam broiler dan petelur merupakan suatu kegiatan usaha yang sangat sensitif terhadap biaya input dan harga output-nya (cost-and output price-senstitive). Biaya pakan dalam industri daging ayam ras memiliki kontribusi yang sangat besar, sekitar 65-70 persen dari total biaya produksi secara keseluruhan.
Jika harga pakan naik, maka biaya produksi juga akan naik. Volatilitas harga pakan sangat dipengaruhi oleh kondisi pasar internasional, mengingat sebagian input (misalnya jagung dan bungkil kedelai) masih diimpor. Harga daging ayam ras dan telur keduanya memiliki volatilitas harga yang sangat tinggi. Ketika di pasar terjadi excess supply live birds (LB), maka harga LB akan tertekan ke bawah. Sebaliknya, jika terjadi excess demand LB, maka harga LB akan naik. Fluktuasi harga day old chicken (DOC) pun dapat diterangkan dengan hukum ekonomi.

Kini harga telur dan daging ayam di berbagai pasar terus meningkat. Hal ini tentu menyenangkan peternak, tetapi konsumen tidak senang karena mereka membayar lebih mahal untuk kuantitas pembelian yang sama. Pemerintah pun khawatir bahwa pergerakan Harga tersebut membuat angka inflasi menjadi lebih tinggi

Jika permintaan lebih tinggi dari penawaran, terjadi excess demand dan harga DOC akan tinggi. Sebaliknya jika penawaran lebih banyak dari permintaan, terjadi excess supply, harga DOC akan turun. Jika tidak ada perbaikan dalam pengelolaan logistik, perbaikan infrastruktur pemasaran rantai dingin, perbaikan sistem saluran pemasaran, perbaikan informasi pasar dan pengembangan industri pengolahan yang menciptakan nilai tambah dari perubahan bentuk (form utilities) dari LB menjadi chilled, frozen, dan processed, maka fluktuasi harga yang terjadi akan terus berulang.
Penciptaan nilai tambah
Banyak definisi yang digunakan terkait dengan pertanian yang bernilai tambah (value-added agriculture). Pertanian yang bernilai tambah adalah kegiatan menambah nilai ekonomi produk pertanian dengan jalan melakukan perubahan bentuk, waktu, tempat dan serangkaian karakteristiknya yang sekarang ke karakteristik yang lain agar lebih disukai oleh pasar.
Baca Juga : Hardiyat Heru Nugroho, Menjadi Pengusaha Karena Terpaksa
Definisi lain yang sering dirujuk adalah oleh U.S. Depertment of Agriculture (USDA). Menurut USDA, Produk-produk pertanian yang bernilai tambah didefinisikan sebagai, pertama adanya perubahan bentuk fisik produk pertanian, misalnya dari LB ke karkas dan kemudian ke ayam goreng. Kedua, adanya perubahan produksi pertanian yang meningkatkan nilainya sebagaimana ditunjukkan dalam rencana bisnis, misalnya produksi ayam organik dan produksi ayam tanpa antibiotic growth promoter (AGP). Ketiga, segregasi fisik suatu komoditas pertanian atau produk dengan cara tertentu yang menghasilkan peningkatan nilai komoditas atau produk tersebut (seperti misalnya penerapan prinsip ketertelusuran).Penulis merupakan Ahli Ekonomi Industri Peternakan Sekolah Bisnis IPB, Dekan Sekolah Vokasi IPB dan Adjunct Professor, Business School, University of New England, Australia
Artikel ini adalah ringkasan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Juli 2018 di halaman 162 dengan judul “Peningkatan Nilai Tambah Produk Unggas”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153