Daging ayam masih menjadi sumber protein hewani utama yang harganya terjangkau dan mudah didapat untuk dikonsumsi masyarakat Indonesia. Perbaikan genetik ayam pedaging (broiler) menghasilkan broiler yang dapat dipelihara dalam waktu yang singkat. Hal tersebut tentu perlu diimbangi dengan manajemen pemeliharaan yang baik dan inilah yang dimaksimalkan oleh PT Lawu Abadi Nusa, kemitraan broiler di Sragen, Jawa Tengah.
PT Lawu Abadi Nusa berdiri semenjak akhir tahun 2014 yang merupakan anak perusahaan PT Mustika Jaya Lestari – Solo sejak tahun 2013. Untuk wilayah Sragen sendiri saat ini total populasi ayam sekitar ratusan ribu ekor dengan puluhan peternak yang tergabung di dalamnya.
Kepala Produksi PT. Lawu Abadi Nusa, Harto, AMd., menjalaskan bahwa saat ini tantangan pemeliharaan broiler kedepannya semakin besar. Mengimbangi perbaikan genetik broiler, menyebabkan broiler cepat mengalami stres. Oleh sebab itu, perlu diimbangi oleh terciptanya kondisi nyaman untuk anak ayam.
Saat ini, Harto menghimbau kepada seluruh peternak binaannya untuk beralih menggunakan kandang closed house untuk menekan stres ayam yang diakibatkan oleh lingkungan. “Sudah sekitar 60% peternak mitra saya menggunakan closed house. Saat ini closed house sudah menjadi suatu kebutuhan yang harus diterapkan peternak untuk memelihara broiler yang mudah stres,” jelas Harto yang terpilih sebagai Karyawan Terbaik Mustika Award 2018 kategori Kepala Produksi Jawa Tengah.
Kontrol minggu pertama
Lebih lanjut lagi, Harto menceritakan dampak yang dirasakan pasca diberlakukannya pakan bebas AGP (Antibiotic Growth Promoters) awal tahun 2018. “Dampak pakan bebas AGP sangat dirasakan terutama pada September 2018 – Januari 2019, ayam gampang terkena penyakit dan produksi menurun,” ungkap Harto. Selain itu diindikasikan kemungkinan sektor breeding pun mengalami dampaknya yakni DOC yang kami terima terpapar bakteri E. coli setelah kita lakukan nekropsi. Hal ini sangat merugikan karena sistem pencernaan ayam terganggu sehingga absorpsi nutrisi tidak maksimal.
Ketika hal itu terjadi, personil Medion yang rutin mengunjungi farm akan menyarankan pemberian Tinolin pada ayam umur 0-5 hari. “Selama 3 periode terakhir ini kami mengaplikasikan penggunaan Tinolin,” kata Harto.
“Sebelumnya saya menggunakan obat lain, tapi hasilnya tidak membaik. Setelah saya mencoba Tinolin tidak lagi ditemukan kasus gangguan pencernaan dan pernapasan yang disebabkan oleh bakteri. Bahkan, bobot badan yang dicapai sekitar 200-210 gr pada minggu pertama, melebihi standar pemeliharaan broiler,” tutur Harto. Dosis yang digunakan 0,4 ml/kg BB atau 2 ml/l air yang dicampurkan pada air minum ayam.
Manfaat lain penggunaan Tinolin, yang dialami adalah produktifitas ternak meningkat, selain itu litter tidak basah dan tidak menimbulkan bau tidak sedap.
Harto berharap, Medion terus menjaga kualitas produknya. “Produk Medion sudah terbukti efektif untuk ternak saya. Saya berharap, Medion selalu menjaga kualitas produk dan terus melakukan inovasi kedepannya,” harap Harto.
Secara service, Medion cukup cepat tanggap dan selalu menjadi referensi saya apabila terjadi sesuatu di kandang. Apabila masalah belum teratasi, tim Medion akan cepat melakukan kunjungan untuk pemeriksaan lebih lanjut.