Kebutuhan konsumen akan produk yang praktis, mudah, siap saji dan bergizi diprediksi semakin meningkat di masa yang akan datang
POULTRYINDONESIA, Jakarta  – Tahun 2035 mendatang, arus urbanisasi akan meningkat menjadi 66,6%. Sehingga arus urbanisasi yang tinggi, diprediksikan akan mengurangi jumlah penduduk di pedesaan. Dampaknya produsen pangan yang rata-rata berdomisili di desa, baik pertanian dan peternakan secara umum akan mengalami penurunan. Menurut Fini Murfiani selaku Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan (PPHnak) Kementerian Pertanian, secara umum Rumah Tangga Usaha Pertanian yang di dalamnya termasuk subsektor peternakan, mengalami penurunan.

Akhir-akhir ini selalu didengungkan mengenai bonus demografi Indonesia di mana jumlah penduduk usia produktif lebih besar dibandingkan dengan jumlah penduduk usia nonproduktif. Dengan kondisi tersebut, apakah akan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap konsumsi produk perunggasan?

Dalam kurun waktu sepuluh tahun dari 2003 hingga 2013, sektor peternakan mengalami penurunan sebesar 5.626.614. Dari tahun 2003 sebesar 18.595.824, menjadi hanya sebesar 12.969.210 jiwa pada tahun 2013. Angka tersebut bisa saja terus turun jika pemerintah tidak mengeluarkan kebijakan atau promosi terhadap sektor peternakan. Sebab, sektor peternakan selalu menjadi anak tiri dalam pembangunan daerah, karena pola pikir yang tertanam pada generasi muda saat ini adalah pekerjaan di bidang peternakan kurang menjanjikan dibandingkan dengan menjadi pekerja kantoran. Hal tersebut juga dapat menjadi alasan mengapa arus urbanisasi sangat tinggi, karena orang di desa menganggap mencari peruntungan di kota lebih baik ketimbang membangun sendiri desanya masing-masing.
Baca Juga : Produk Olahan, Pasar Besar dan Potensial Masa Depan
Komoditas pascapanen perunggasan mempunyai potensi selain sebagai bahan baku industri makanan untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri, juga tidak kalah penting komoditas pasca panen perunggasan Indonesia dapat memasok kebutuhan di pasar luar negeri. Pada tahun 2018, nugget ayam Indonesia telah berhasil menembus pasar Jepang. Indonesia telah mengekspor produk olahan ayam (antara lain berupa nugget dan sosis) dengan pengiriman di tahun 2018 sebanyak 6 ton ke Jepang, dan diharapkan permintaan akan terus bertambah di tahun 2019. Hal ini ditandai dengan adanya perpanjangan approval dari jepang terhadap unit usaha produsen olahan ayam. “Dengan ditembusnya pasar Jepang yang terkenal memiliki standar keamanan pangan yang tinggi, maka Indonesia memiliki potensi untuk memasarkan produk ke negara lain,”ujar Fini pada seminar Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI), Rabu (2/9).
Telur asin pun telah diekspor ke Singapura dengan pengiriman pertama sebanyak 17.000 butir (setara berat 2 ton). Berdasarkan kontrak antara pihak peternak Indonesia dan pengusaha Singapura, pengiriman tersebut akan terus berlanjut hingga mencapai 100 ribu butir. Total nilai ekspor mencapai Rp 270 juta. Selanjutnya diprediksi permintaan telur asin akan terus meningkat seiring dengan berkembangnya kuliner dengan tambahan rasa salted egg. Pengekspor telur asin Indonesia direncanakan akan mengembangkan pemasaran produk telur asin dengan menjajaki pasar Hongkong dan Brunei Darussalam mengingat potensi produksi telur itik saat ini sangat menjanjikan, yaitu sebanyak 308.550 ribu ton (Data Statistik Peternakan 2017). Adapun eksportasi Indonesia yang lain berupa sosis ayam, karkas ayam dan produk olahan unggas lainnya juga telah dilakukan ke sejumlah negara di antaranya Myanmar, Timor Leste, Papua Nugini, Malaysia dan negara Asia Tenggara lain. Kini, Indonesia sedang membidik negara Timur Tengah sebagai target ekspor produk olahan unggas.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi November 2018 di halaman 35 dengan judul “Potensi Masa Depan Pascapanen Perunggasan”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153