Prasojo Prayitno bersama anggota keluarganya
Tidak ada yang sulit selagi masih bisa berusaha. Itulah prinsip hidup pebisnis muda kelahiran Semarang, Prasojo Prayitno. Ia merupakan Board of Director sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang produksi pakan ternak. Terlahir dalam keluarga pebisnis, membuat dirinya cepat terjun dalam dunia bisnis sejak usianya yang kala itu masih sangat muda. Usai lulus dari jurusan bisnis di Macquarie University Sydney Australia, kemudian ia langsung diminta pulang oleh orangtuanya untuk membantu bisnis keluarga di kampung halamannya. “Semenjak saya memutuskan pulang ke Indonesia, saya langsung terjun untuk bisnis peternakan milik keluarga. Awalnya saya tidak tahu apa-apa tentang beternak ayam layer yang saat itu dimiliki orangtua saya, tapi karena saya senang dengan hewan, saya terus berusaha belajar tentang bagaimana cara pelihara ayam, manajemennya seperti apa, hingga cara mendiagnosa penyakit. Puji Tuhan sekarang sudah banyak ilmu yang bisa dipahami,” tuturnya.
Usia yang kala itu baru menginjak 22 tahun dengan menyandang gelar sarjana bisnis lulusan luar membuatnya menjadi sosok yang idealis. Tahun-tahun pertama mengurus bisnis keluarga terjadi banyak ketidakcocokkan antara ia dengan para pekerjanya. Pengalaman di Australia yang semuanya sudah tersistem dengan baik, tidak ia temukan setelah pulang ke Indonesia. “Mungkin karena sistem kerja di luar negeri dan Indonesia itu berbeda, saya yang waktu itu juga masih sangat muda berpikirnya bahwa bisnis yang ideal itu seperti yang ada dalam pikiran saya. Namun kondisi di lapangan ternyata berbeda dan sangat dinamis yang membuat saya akhirnya belajar bagaimana cara berbisnis dengan orang, cara mengelola perusahaan, dan lambat laun akhirnya saya bisa mengerti dan berdamai dengan keadaan sekitar,” kenangnya.
Menggeluti bisnis pakan ternak
Pengalamannya menjalankan bisnis peternakan layer milik orangtuanya, membuat Prasojo banyak mendapatkan ilmu dan relasi. Seperti pepatah mengatakan “sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui,” tidak hanya bisnis budi daya layer namun sekaligus mempelajari seluk beluk bisnis suplai bahan pakan untuk pabrik pakan ternak. Kegigihan untuk menekuni bisnis suplai bahan pakan mendorongnya untuk terus mengembangkan usahanya. “Saya melihat bahwa Indonesia ini potensinya besar dan beberapa wilayah belum tergarap dengan sempurna. Akhirnya saya putuskan untuk menekuni bisnis ini,” jelas Prasojo.
Berkat fokusnya dalam menggeluti bisnis suplai bahan pakan tersebut menjadikan kemampuannya dalam berbisnis semakin matang dan jaringan bisnisnya juga semakin luas. Menurutnya, bisnis dalam bidang peternakan itu sangat menarik dan menantang. Hal itu yang kemudian menantangnya kembali untuk menggeluti bisnis pakan ternak. “Bisnis pakan ternak itu menarik, beragam bahan pakan kita formulasi menjadi satu dan itu sesuatu yang sangat penting. Kemampuan formulasi itulah merupakan seni, dan seni itu setiap orang memiliki perbedaan,” jelasnya kepada Poultry Indonesia dengan penuh filosofis.
Prasojo merasa optimis bahwa bisnis pakan ternak yang ia geluti akan bisa berkembang. Menurutnya bahwa konsumsi protein hewani di Indonesia belum maksimal sedangkan sumber protein hewani asal daging sapi harganya mahal. Bisinis pangan tidak akan pernah putus dan selalu dibutuhkan oleh masyarakat. “Bisnis pakan ternak adalah bisnis penunjang budi daya ternak, kalau peternakan bisa berkembang maka kebutuhan pakan pasti akan ikut bertambah,” imbuhnya.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi November 2018 di halaman 88 dengan judul “Hasil tidak Pernah Mengkhianati Proses”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153