Memasuki era non AGP, probiotik alami merupakan solusi untuk memperkuat pencernaan
Oleh : Prof. Ning Iriyanti
Pelarangan penggunaan AGP dan antikoksi sebagai imbuhan pakan sesuai dengan amanat Pasal 22 ayat 4c UU No 18/2009 juncto No 41/2014 tentang Peternakan Kesehatan Hewan. Kebijakan ini akhirnya diterapkan sejak 1 Januari 2018.  Hal ini karena penggunaan antibiotik pada pakan akan berasosiasi dengan munculnya beberapa strain patogen resisten, di antaranya Salmonella spp., Campylobacter spp., Escherichia coli, dan Enterococcus spp.

Pelarangan penggunaan antibiotic growth promoter (AGP) menyebabkan penurunan performa, penurunan saluran cerna dan peningkatan biaya produksi pada ayam pedaging dan petelur. Probiotik alami pun hadir sebagai solusi.

Dampak dari pelarangan penggunaan AGP  terjadi pada peternakan ayam pedaging adalah tidak tercapainya performa ayam yaitu  bobot badan, feed conversion ratio (FCR), masa panen, serta terjadi penurunan kesehatan terutama kesehatan saluran cerna.  Dampak pada ayam petelur terjadinya penurunan produktivitas yaitu produksi, bobot dan penurunan sistem imun. Terkait pelarangan AGP, sebenarnya ada cara untuk tetap membuat performa ayam menjadi baik, yaitu dengan penggunaan prebiotik-probiotik. Namun harus tetap diperhatikan juga untuk menjaga biosekuriti kandang dan peralatan serta kualitas pakan yang diberikan.
Prinsip kerja dari probiotik yaitu bakteri-bakteri probiotik (Lactobacillus dan Bifidobacterium) bekerja secara anaerob menghasilkan asam laktat sehingga pH saluran pencernaan turun, dan menghalangi perkembangan dan pertumbuhan bakteri-bakteri patogen. Bakteri-bakteri probiotik mendiami mukosa pencernaan yang juga berakibat perubahan komposisi dari bakteri yang terdapat dalam saluran pencernaan. Fungsi lainnya yaitu menjaga keseimbangan mikroflora saluran cerna, menekan pertumbuhan mikroba patogen dengan menghasilkan zat anti mikroba (bakteriosin), serta meningkatkan competitive exclusion (CE) yaitu mekanisme kompetitif antara probiotik dengan bakteri patogen baik pada perlekatan koloni maupun menggunaan nutrien.
Baca Juga : Antibiotika dan Refleksi Pasca Non AGP
Iriyanti dan Suhermiyati (2015) melakukan penelitian menggunakan Lactobacillus sp. sebagai probiotik yang diisolasi dari susu apkir pada media dedak sebagai media perbanyakan. Penggunaan probiotik dalam ransum sebanyak: 0%; 5%; 10% dan 15%, bahwa penggunaan probiotik asal susu afkir dalam pakan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kadar Eritrosit dan Total Protein Plasma (TPP) darah berkisar antara 2,84+0,50 g/dl sampai 3,24+0,30 g/dl, tetapi berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap profil lemak darah (kolesterol: 148,89+24,34 sampai 161,11+15,71 mg/dl: HDL : 33,72+9,67 sampai 39,32+9,91 mg/dl, LDL : 114,57+22,03 sampai 122,95+15,43 mg/dl, dan trigliserida: 102,86+27,48 sampai 108,57+25,95 mg/dl  serta kadar leukosit :10,550+1,53 ribu/μl sampai 15,650+4,489 ribu/μl, haemoglobin: 7,68+0,92 g/dl sampai 8,22+0,34 g/dl dan PCV (Packed Collum Volume) ayam broiler sebesar 22,80+2,86 % sampai 27,80+2,28 %.
Dari beberapa penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa probiotik alami untuk ayam yang murah, mudah dan aman digunakan adalah dari jenis bakteri asam laktat (BAL) yang dapat diperoleh antara lain dari fermentasi atau asinan kubis maupun dari susu apkir. Pembuatan probiotik alami sangat praktis dan dapat dilakukan sendiri oleh peternak. Penulis merupakan Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Agustus 2018 di halaman 148 dengan judul “Probiotik Alami Solusi Pengganti AGP”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153