Produk olahan memiliki potensi yang besar di masa yang akan datang
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Berdasarkan hasil wawancara dengan PT Primafood International, industri perunggasan di Indonesia berkembang sesuai dengan tingkat perekonomian yang tumbuh dan juga bisa dilihat dengan meningkatnya konsumsi per kapita terhadap produk unggas. Tren makanan yang menggunakan bahan baku unggas terutama ayam berkembang sangat pesat dalam 5 tahun terakhir ini.
Menurut Gun Affandy selaku Assistant Vice President PT Primafood International, peningkatan signifikan produk unggas didasari oleh gaya hidup yang makin praktis dan kesibukan yang semakin bertambah, demikian juga waktu memasak semakin berkurang. “Makanan olahan yang hanya butuh waktu singkat untuk memasaknya menjadi suatu kebutuhan sehari-hari. Tidak diragukan lagi makanan olahan memiliki pasar besar potensial yang selalu bertumbuh di masa depan,” terangnya, Rabu (24/10).
Baca Juga : Industri Perunggasan Makin Maju, Peran Logistik Kian Dibutuhkan
Namun, di balik prospek yang sangat menjanjikan di masa yang akan datang, terdapat juga tantangan dalam industri pascapanen yaitu infrastruktur yang belum merata. Hal tersebut menyebabkan daya jangkau sebuah produk menjadi terbatas. Imbasnya, walaupun sebetulnya ongkos produksi dari sebuah produk itu bisa ditekan, namun biaya logistik untuk distribusi sampai ke konsumen yang menyebabkan harga suatu produk itu menjadi mahal. “Meskipun saat ini daging ayam adalah sumber protein hewani yang sangat murah dan mudah didapat, masih ada masalah yang harus dihadapi. Hal ini biasanya menyangkut infrastruktur. Jadi meskipun hasil produksi komoditas unggas sudah murah, dengan keterbatasan infrastruktur saat sampai ke tangan konsumen menjadi mahal sehingga menjadi tidak terjangkau,” jelas Gun.
Faktor-faktor yang menghambat pertumbuhan produk pascapanen di masa yang akan datang juga berasal dari pola konsumsi masyarakat itu sendiri. Menurut Pien Warni selaku Sales and Marketing PT Primafood International, sektor pascapanen perunggasan masih didominasi komoditas segar dalam bentuk ayam potong. Jika permintaan dan pasokan tidak seimbang maka akan menimbulkan masalah. “Misalnya pasokan lebih besar dari permintaan maka produk akan lebih cepat rusak. Karenanya proses lebih lanjut dari komoditas unggas ini sangat dianjurkan melalui proses pemotongan, penyimpanan dan pengolahan. Sehingga hasil usaha peternak tidak lagi dijual sebagai produk segar, tetapi diolah sebagai produk ayam beku atau produk ayam olahan. Hal ini membantu mengatasi permasalahan pasca panen sekaligus memberikan nilai tambah produk,” papar Pien.
Baca Juga : Penanganan Daging Ayam dalam Industri Katering
Namun, di balik semua permasalahan tersebut, beberapa produk pascapanen perunggasan sudah mampu menembus pasar internasional. Seperti PT Primafood International yang berhasil mengekspor produk olahannya. Selain itu, PT Sierad melalui brand Belfoods menjadi perusahaan pertama yang melakukan ekspor ke Jepang. Hal ini menandakan bahwa, sebetulnya produk dalam negeri sudah mampu bersaing dengan negara lain dengan kualitas yang setara. Sehingga cita-cita pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia, semakin terlihat arahnya.
Untuk meningkatkan daya saing, beberapa perusahaan memang memisahkan produknya tergantung segmen pasar yang ada di lapangan. Perusahaan tersebut biasanya memisahkan antara produk premium, produk konsumsi rumah tangga, produk untuk industri makanan UMKM, maupun produk yang ekonomis. Sehingga kebutuhan dan keinginan dari setiap segmentasi pasar terebut dapat terpenuhi.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi November 2018 di halaman 35 dengan judul “Potensi Masa Depan Pascapanen Perunggasan”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153