Mekanisasi tentunya meningkatkan produktivitas peternak, namun juga memerlukan investasi yang jumlahnya tidak sedikit. (Foto : PI_Domi)
POULTRY INDONESIA – Jakarta, Pringadi tampak sibuk membopong barang. Ia mengeluarkan beberapa peralatan kandang broiler miliknya untuk kemudian dibersihkan. Pria bertopi itu hendak melakukan chick in dalam waktu dekat. Kandang kayu beratap rumbia pun dipersiapkan sedemikian rupa untuk menyambut dua ribu ekor day old chick (DOC). Kandang sederhana di tengah kerimbunan sawit di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, yang jadi sumber penghidupan Pringadi itu pun akan kembali hangat.
Pringadi masih setia menjalani profesinya sebagai peternak broiler dengan segala fasilitas yang dimiliki. Meski arus modernisasi kian deras, ia mengaku bahwa metode budi daya konvensional yang ia kerjakan masih mampu memberikan keuntungan. Kendati demikian ia menyadari betul bahwa tantangan dalam berbudi daya unggas kian beragam. Ia menilai segala tantangan itu akan bisa teratasi bila sarana dan Industri perunggasan yang kian berkembang membawa perubahan pola budi daya bagi para produsen.
Sistem konvensional secara perlahan mulai mengarah pada cara yang lebih modern. Namun ragam kendala masih menghambat penerapan mekanisasi secara merata. prasarana produksi mendukung. Sayangnya, kemampuan yang dimilikinya terbatas. “Saya belum cukup biaya untuk mengganti peralatan jadi lebih modern,” ungkapnya.
Baca Juga : ISPI Menyoroti Industri Peternakan Era Millenial
Sementara itu, di seberang pulau Sumatra, kandang-kandang modern telah banyak berdiri di berbagai daerah negara Malaysia. Sebagian besar produksi broiler dilakukan oleh perusahaan terintegrasi semisal QL, MFM, Sinmah, Leong Hup dan lain sebagainya. Jumlah produksi mereka telah menembus jumlah 60 persen dari total keseluruhan produksi negeri dan terus bertambah. Dalam melakukan produksi tersebut, perusahaan terintegrasi tidak sendiri. Mereka menggandeng peternak mitra yang usahanya semakin tumbuh. Umumnya, para peternak di Malaysia yang sudah menjadi mitra memiliki populasi lebih dari 40.000 ekor.
Industri perunggasan yang kian berkembang membawa perubahan pola budi daya bagi para produsen. Sistem konvensional secara perlahan mulai mengarah pada cara yang lebih modern. Namun ragam kendala masih menghambat penerapan mekanisasi secara merata.
Jarang ditemukan peternak dengan populasi ayam kurang dari 5.000 ekor. Proses modernisasi budi daya pun semakin berkembang pesat. Kondisi peternakan Malaysia itu diceritakan oleh Prof. Dr. Ir. Budi Tangendjaja M.Sc., M.Appl. kepada Poultry Indonesia melalui artikel berjudul Biaya Produksi Broiler Malaysia Lebih Murah, Indonesia Perlu Berbenah, yang terbit pada edisi Desember 2017. Ia melihat sendiri bagaimana kandang-kandang sistem tertutup (closed house) dengan segala teknologi terbarunya kian menjamur.
Baca Juga : Memasuki Era Industri 4.0 IPB Gelar Seminar Kewirausahaan
Menurut Peneliti Utama di Balai Penelitian Ternak (Balitnak) Ciawi itu, mekanisasi budi daya unggas yang dilakukan di Malaysia mampu mendongkrak produksi secara efisien. Hasilnya, kini jumlah konsumsi broiler Malaysia telah melewati angka 52 kilogram per kapita per tahun. Berbeda jauh dengan Indonesia yang baru mencapai 12,5 kilogram per kapita per tahun. Adam
Artikel ini adalah ringkasan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Agustus 2018 di halaman 26 dengan judul “Tantangan Mekanisasi Budi Daya Unggas Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153