Mengantisipasi kejadian penyakit dengan manajemen pemeliharaan yang baik
POULTRY INDONESIA, Jakarta – Merujuk pada buku digital mengenai penyakit AI rancangan Balai Besar Penelitian Veteriner (BBLivet), AvInDig, AI merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh kelompok virus influenza A dari famili Orthomyxoviridae. Sebelum merebaknya flu burung yang menjadi ketakutan banyak orang ini, muncul sebelumnya beberapa  penyakit pandemi seperti Spanish Flu, Asian Flu, dan Hongkong Flu yang menjadi ketakutan warga kala itu. Virus ini selalu melakukan perubahan atau mutasi bahkan dalam waktu singkat.  Sehingga penanggulangan dan pencegahan dari penyakit ini cukuplah sulit.
Baca Juga : Merdeka Dari Cengkraman Avian Influenza
Di antara semua subtipe virus influenza, subtipe H5 dan H7 merupakan yang paling diwaspadai, karena sering menyebabkan wabah penyakit baik hewan atau manusia. Berdasarkan pathogenitasnya atau kemampuan untuk menyebabkan suatu penyakit pada unggas, AI dibedakan menjadi dua yaitu High Pathogenic Avian Influenza (HPAI), dan Low Pathogenic Avian Influenza (LPAI). Meskipun virus HPAI lebih mendapatkan perhatian karena besarnya potensi menginfeksi manusia, namun strain virus LPAI ternyata dapat juga menyebabkan kejadian penyakit pada manusia seperti kasus LPAI H7N9 di Tiongkok.
Kejadian di ranah global
Menurut data yang dilansir PT Medion, Avian Influenza pertama kali tercatat di Italia pada tahun 1878. Penyakit ini digambarkan dengan penyakit yang parah, cepat menyebar dan dapat menyebabkan kematian tinggi pada unggas. Pada awalnya penyakit ini dikenal sebagai “Fowl Plague”, yang menyebabkan wabah besar. Penyakit ini menyebar ke seluruh Eropa melalui pameran dan pertunjukan unggas, yang kemudian menjadi endemik pada unggas domestik sampai tahun 1930-an, termasuk wabah ke Amerika Serikat (1924 dan 1929).
Pada tahun 1955, ditemukan bahwa virus yang menyebabkan “Fowl Plague” adalah virus influenza tipe A yang didasarkan pada adanya jenis ribonukleoprotein spesifik jenis virus tipe A, dan terbukti berkaitan dengan adanya virus influenza yang umumnya menginfeksi manusia, babi dan kuda. Pada tahun 1979, pembelahan protein haemagglutinin (HA) diidentifikasi sebagai penentu utama virulensi pada virus HPAI. Pada tahun 1981, Simposium Internasional pertama mengenai Avian Influenza diadakan di Amerika Serikat dan istilah “Fowl Plague” yang digantikan dengan istilah yang lebih tepat yaitu HPAI.
Baca Juga : Perkembangan Avian Influenza di Indonesia
Wabah flu burung juga melanda benua Afrika pada 8 Februari 2006. World Organization for Animal Health atau OIE yang merupakan Organisasi Kesehatan Hewan Dunia mengumumkan Nigeria sebagai negara pertama yang memiliki kasus positif flu burung di benua itu. Dua pekan kemudian, virus H5N1 ditemukan di sebuah desa kecil di Niger, yaitu sekitar 72 km dari perbatasannya dengan Nigeria. Kemudian, virus ini juga menyebar ke negara Mesir dan Kamerun.
Strain Avian Influenza H7N9
Pada 4 Maret 2017, Animal and Plant Health Inspection Service (APHIS) mengonfirmasi kasus flu burung yang sangat patogen (HPAI) strain H7N9 di peternakan broiler komersial di Tennessee. Kasus kedua HPAI H7N9 di Tennessee dikonfirmasi terjadi pada 15 Maret 2017 di peternakan broiler komersial lainnya. Virus ini tidak sama dengan virus H7N9 yang ditemukan di Tiongkok yang muncul pada tahun 2013, yang kala itu berdampak pada unggas dan manusia di Asia.
Pada tanggal 5 Maret 2017, USDA menemukan flu burung yang sangat patogen (HPAI) H7 di unggas komersial di sepanjang Mississippi Flyway. Strain HPAI H7 ini berasal dari burung liar Amerika Utara. Dan pada tanggal 7 Maret 2017, Laboratorium Pelayanan Veteriner Nasional (NVSL) USDA mengkonfirmasi subtipe lengkap HPAI H7 ini sebagai silsilah burung liar Amerika Utara H7N9 HPAI. Temuan ini didasarkan pada analisis sekuens genom dari sampel di NVSL. Semua delapan segmen gen virus tersebut adalah silsilah burung liar Amerika Utara. Temuan ini tidak sama dengan virus yang ditemukan di China H7N9 yang telah berdampak pada unggas dan manusia yang menginfeksi di daerah Asia.
Baca Juga : Avian Influenza Masih Mengancam
Banyak faktor yang bisa menjadi vektor atau pembawa untuk penyakit Avian Influenza. Tikus, mamalia liar, kondisi perumahan, dan pelanggaran prosedur biosekuriti dapat membawa virus dari lingkungan ke tubuh penderita. Dari kejadian ini, APHIS akan terus mengumpulkan dan menganalisis data untuk membantu memperbaiki upaya pencegahan, deteksi, dan tanggapan berdasarkan sains dan teknologi terbaik yang ada. Domi, Chusnul
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi April 2018 di halaman 26 dengan judul “Rekam Jejak Avian Influenza”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke : sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153