Sinergi antara industri dan akademisi memang diperlukan untuk menciptakan perunggasan yang berdaya saing (Foto : PI_Dini)
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Tantangan budi daya unggas kian kompleks seiring berkembangnya zaman. Kendala iklim, pelarangan penggunaan antibiotic growth promoter (AGP) pada pakan, hingga tuntutan produk berkualitas dan berkuantitas tinggi adalah sekian persoalan yang mesti dihadapi peternak. Dalam menghadapi hal itu, penerapan teknologi pada proses budi daya pun menjadi kebutuhan yang mendesak. Hadirnya inovasi teknologi dalam proses budi daya unggas mampu membuat proses produksi berjalan efektif, efisien, dan menghasilkan produk bermutu tinggi.

Adaptasi teknologi dan pembiasaan terhadap inovasi yang sedang berkembang perlu dilakukan sejak dini

Closed house dinilai sebagai kandang modern karena memiliki keunggulan pada sistem otomatisasi yang diterapkan, seperti pada pemberian pakan (hopper) dan minum (nipple). Selain itu, perbedaan kandang modern closed house dengan kandang opened house terletak pada sistem sirkulasi udara yang otomatis terjaga di dalam kandang. Closed house di area Unsoed memilki delapan buah exhause fans (outlet) dan inlet berupa cooling pad yang bekerja secara otomatis apabila suhu kandang tinggi. Hilman, salah satu mahasiswa magang, menyambut baik program pemberian closed house ini. “Harapan teman-teman magang lainnya, tentu saja menjadikan closed house ini menjadi sarana belajar. Apalagi sekarang sistem perkandangannya sudah baik yang berbeda sekali dengan opened house, serta menjadikan salah satu modal pengetahuan, pengalaman serta wawasan di saat kami magang di sana,”ungkapnya, Jumat (20/7).
Baca Juga : Modernisasi Budi Daya Unggas di Lingkup Akademi
Demi menunjang proses pembelajaran yang menyenangkan dan kompeten, Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman kian giat memperbaiki infrastrukturnya. Beberapa bangunan terlihat sudah diperbarui untuk fasilitas praktikum mahasiswa. Menurut Koordinator Paguyuban Anak Kandang (Pawang), Deden Burhanudin, tahun ini akan ada tiga bangunan closed house mini yang akan digunakan untuk menunjang proses praktikum maupun penelitian. “Satu bangunan sudah selesai untuk ternak kelinci, saat ini sudah bisa digunakan untuk praktikum mahasiswa,”tutur Deden, Jumat (20/7).
Sementara itu, Hilman, yang juga dipercaya sebagai Manajer Kandang dalam Pawang mengungkapkan, bahwa akan dipelihara sekitar 1.000 ekor ayam niaga petelur dan 2.000 ekor ayam niaga pedaging. “Kemungkinan ayam niaga pedaging akan bermitra dengan PT CPI, namun untuk ayam niaga petelur masih belum dipastikan akan bermitra dengan perusahaan mana,” paparnya. Harapan mereka dengan dibangunnya closed house mini adalah sebagai media belajar yang lebih baik, serta mampu menghasilkan lulusan-lulusan yang berkompeten di bidang perunggasan. “Rata-rata closed house terkesan mewah, besar dan sekadar angan-angan masyarakat untuk memilikinya karena biaya pembuatan kandang yang cukup mahal. Sehingga dengan adanya closed house mini ini akan memberikan suatu harapan bahwa masyarakat juga mampu membangun closed house untuk usahanya,” harap Hilman di akhir wawancara. Dini
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi September 2018 di halaman 76 dengan judul “Modernisasi Budi Daya Unggas di Lingkup Akademi”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153