Sungai Kapuas sebagai salah satu urat nadi logistik di Kalimantan Barat
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Sektor perunggasan merupakan ujung tombak dalam pemenuhan kebutuhan konsumsi hewani. Secara teknis, pengembangan perunggasan di Kalimantan Barat masih memungkinkan untuk dilakukan. Faktor yang menjadi daya dukung dalam pengembangan perunggasan adalah seperti lahan yang masih luas, pangsa pasar yang masih terbuka karena berbatasan langsung dengan negara tetangga, dan memiliki akses darat dengan provinsi Kalimantan Tengah, Selatan, Timur dan juga Utara.

Kabupaten terluas di Kalimantan Barat adalah Kabupaten Ketapang, dengan Luas 35.809 kilometer persegi. Luas tersebut hampir setara dengan Provinsi Jawa Barat, dan sedikit lebih luas bila dibandingkan dengan Provinsi Jawa Tengah. Dapat dibayangkan betapa luasnya daerah di Provinsi Kalimantan Barat dan masih terbukanya peluang untuk perunggasan

Selain itu, yang menjadi modal penting bagi usaha perunggasan di Kalimantan Barat adalah dengan ditetapkannya status bebas AI berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 316/KPTS/ PD.630/I/2010, tanggal 21 Januari 2010 yang menyatakan bahwa Provinsi Kalimantan Barat bebas dari Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS) Avian Influenza. Juga terdapat perusahaan pembibit ayam ras yang telah memiliki sertifikasi kompartemen bebas AI. Dengan modal tersebut, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat proaktif dalam melakukan pengawasan lalu lintas keluar masuknya komoditas unggas.
Baca Juga : Meninjau Perunggasan Kalimantan Barat
Menurut Kepala Dinas Pangan, Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Kalimantan Barat drh. Abdul Manaf, untuk menjaga status bebas AI tersebut, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat mengeluarkan Peraturan Daerah No.2 Tahun 2016 dan Peraturan Gubernur No. 141 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Peternakan dan Kesehatan Hewan. “Intinya disebutkan di sini bahwa lalu-lintas hewan dan produk peternakan dari dan keluar Kalbar itu harus mendapatkan izin atau rekomendasi dari gubernur. Jadi tidak sembarangan orang bisa membawa unggas di Kalbar,” Tegas Manaf, Rabu (8/8).
Sementara itu, terkait kebutuhan daging di Kalimantan Barat, Abdul Manaf menyebutkan jumlahnya sebesar 72.000 ton per tahun. Sebanyak 45.000 ton atau sekitar 62% dari jumlah tersebut dipenuhi dari komoditas unggas. “Angka ini merupakan angka dari daerah-daerah yang masih bisa terjangkau oleh lalu lintas, belum kita bicara daerah yang agak jauh. Di mana daerah tersebut merupakan daerah penghasil sawit. Jadi potensinya memang masih sangat besar,” papar Manaf.
Baca Juga : Mengamati Tren Telur Cage Free
Potensi lainnya yang dimiliki Kalimantan Barat adalah lahan tidur yang masih sangat mungkin untuk dimanfaatkan, misalnya digarap menjadi lahan pertanian jagung. Mengingat, kebutuhan jagung untuk pakan unggas sangatlah tinggi sampai harus mendatangkan dari luar pulau Kalimantan. “Saya pikir sektor pertanian jagung itu masih bisa dikembangkan sebagai bahan pakan ternak unggas. Tentunya jika hal ini terus dikembangkan, perunggasan Kalbar bisa memiliki daya saing,” jelas Manaf. Domi, Farid
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi September 2018 di halaman 18 dengan judul “Kabar Perunggasan Kalimantan Barat”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153