Peserta Roadshow Seminar BIOMIN 2018.
Kegiatan Roadshow Seminar BIOMIN 2018 ini merupakan yang ketiga kali diselenggarakan. Pada tahun ini, seminar berlangsung di tiga kota, yaitu Surabaya, Jakarta, dan Medan, berturut-turut pada 10-12 April 2018. Tema yang diangkat adalah “Improving gut performance in AGP free animal production”.
Tema-tema yang disajikan sejalan dengan dua pilar utama BIOMIN yaitu manajemen risiko mikotoksin dan gut performance. Dengan mengusung motto “Naturally ahead”, sejak 1983 BIOMIN fokus mengembangkan produk-produk alami.
Dalam seminar hasil kerja sama BIOMIN dan PT Romindo Primavetcom ini menghadirkan narasumber ahli di bidangnya, mulai dari praktisi, nutritionist, serta dokter hewan. Kombinasi ketiganya diharapkan mampu memberikan pandangan tentang peternakan yang berkelanjutan (sustainable).
“Kami berharap pemaparan dalam acara ini akan memberi manfaat bagi para peserta dalam menjalankan usahanya. Sebab, pelarangan penggunaan AGP tidak bisa diganti dengan satu bentuk solusi saja, butuh beberapa faktor dan pendekatan yang holistik,” ujar Yatie Setiarsih, Managing Director PT BIOMIN Indonesia.
Indryasnowo Priowasono Kepala Cabang PT Romindo Primavetcom Jakarta mengatakan dalam sambutannya, seminar kali ini diharapkan dapat menghasilkan solusi yang lengkap dan tepat bagi permasalahan yang muncul di era AGP-free. “Kami berharap dari acara ini bisa memberikan banyak informasi,” ujarnya.
Sementara itu, Albertus Renaldo, National Sales Manager PT Romindo Primavetcom menuturkan, tahun 2018 merupakan awal dari tantangan di industri perunggasan. Sebab, di tahun ini larangan penggunaan AGP sudah berlaku. Di 2018, harapannya, pelaku usaha peternakan dapat melakukan perubahan dalam mengelola usahanya.
Atasi resistensi antimikroba
Antimicrobial resistance (AMR) atau resistensi antimikroba dapat terjadi pada manusia dan hewan. Penyebabnya, penggunaan antibiotik yang tidak bijaksana. Salah satu kekeliruan dalam penggunaan antibiotik adalah pemberian antibiotik tanpa terlebih dahulu melakukan diagnosa yang cukup.
Dr. Hilde Van Meirhaeghe, Poultry Consultant untuk Vetworks menguraikan langkah mengatasi resistensi antimikroba pada produksi unggas serta efeknya terhadap kesehatan usus dan performa unggas.
Sebagai bentuk perhatian terhadap isu AMR, badan kesehatan dunia (WHO) mengkampanyekan “One World, One Health”, artinya kesehatan bagi manusia, hewan, dan semua yang ada di dalamnya. Terkait dengan isu AMR ini, Eropa sudah telebih dahulu melarang penggunaan AGP sejak 2006. Indonesia sendiri telah memulainya pada awal 2018.
Oleh karena itu, untuk mengatasi permasalahan AMR, sangat penting untuk menjaga kesehatan usus dalam produksi perunggasan. “Kesehatan usus adalah kunci utama dalam kesehatan produksi unggas. Penyerapan dan daya cerna yang efisien sangatlah penting untuk mengoptimalkan performa,” ungkap Hilde. Perkembangan usus secara dini baik untuk sistem kekebalan, kapasitas penyerapan nutrisi, dan ekosistem mikroba yang beragam serta seimbang.
Pemberian pakan secara dini (early feeding) juga menjadi salah satu cara memperbaiki kesehatan usus. “Perkembangan sistem kekebalan pada masa kehidupan awal juga menentukan kemampuan sistem kekebalan kedepannya,” ujar Hilde. Pemberian pakan secara dini dapat mencapai perkembangan usus, sistem kekebalan, tingkat metabolik, dan pertumbuhan unggas yang baik.
Namun, perlu diperhatikan pula patogenesa Bacterial Enteritis (BE) dapat mengancam sewaktu-waktu. Misalnya, Clostridium perfringens. Kandungan nutrisi sangat disukai untuk beberapa kelompok bakteri dan tidak disukai kelompok bakteri lainnya sehingga menyebabkan ketidakseimbangan, peradangan, dan stres oksidatif hingga fungsi usus (untuk pencernaan dan penyerapan nutrisi) berkurang.
Salah satu strateginya adalah dengan menggunakan feed additive. “Memperbaiki kesehatan usus dengan komposisi pakan yang tepat dan additive,” tutur Hilde.

Cara tingkatkan kesehatan usus tanpa AGP
Tantangan penyakit serta regulasi mengenai keamanan pangan dan produksi unggas AGP-free harus dihadapi dengan strategi yang tepat. Permintaan konsumen terhadap makanan aman dan sehat serta permintaan peternak terhadap performa unggas yang bagus dapat dicapai dengan penggunaan feed additive. Hal tersebut dibahas dalam presentasi yang bertema “Probiotik: peningkatan kesehatan usus dengan mengurangi penggunaan AGP” oleh Dr. Justin Tan, DVM, MBA, Regional Sales & Marketing Director BIOMIN Singapore Pte Ltd.
Misalnya, probiotik memiliki manfaat kesehatan bagi inang (host) dan peranan probiotik sebagai imunomodulator akan memberikan dampak yang bagus pada sistem kekebalan tubuh unggas. Tidak hanya itu, untuk mencapai kesehatan unggas yang baik juga memerlukan sinergi antara biosekuriti, higienitas, nutrisi, dan manajemen yang tepat.
Diskusi peserta dan para narasumber.
BIOMIN memiliki solusi untuk mengurangi penggunaan AGP pada unggas melalui jajaran produknya. Dr. Neil Gannon, Regional Product Manager – Gut Performance BIOMIN Asia mengungkapkan banyak alternatif yang bisa digunakan, seperti fitogenik (Digestarom®) atau feed additive yang berasal dari tanaman, bermanfaat sebagai antioksidan, anti-inflammatory, stimulasi sekresi gastrointestinal (GI) tract, dan antimikroba.
Produk feed additive lainnya adalah enzim (BIOMIN® Phytase), acidifiers (Biotronic® Top3), dan mycotoxin deactivators (Mycofix®). Dari segmen probiotik, prebiotik yang dikenal sebagai sinbiotik, BIOMIN memiliki PoultryStar® yang memiliki mikrobiota baik yang berasal dari usus ayam hingga dapat terlindung dari patogen.
Produk-produk yang mengandung bahan alami dari BIOMIN tersebut bisa menjadi solusi dalam mengurangi penggunaan AGP. “Tetapi, kondisi di setiap peternakan berbeda-beda sehingga membutuhkan strategi yang berbeda juga,” tutur Neil. Dengan pengalaman dan pengetahuan yang luas tentang tantangan di lapangan, BIOMIN akan memberikan solusi yang sesuai untuk pelanggannya. Solusi terkait manajemen dan pakan, solusi dengan feed additive dan kombinasi dari solusi-solusi tersebut.