Salah satu PPL Sukahati, Muslih.
Bisnis ayam pedaging (broiler) di Tasikmalaya masih menjadi salah satu mata pencaharian bagi sejumlah warganya. Salah satunya bagi peternakan CV Sukahati Sejahtera Utama (Sukahati) yang menjalankan bisnis broiler sejak 1980-an. Peternakan ini memiliki populasi broiler dan pejantan layer hingga puluhan ribu per minggu. Selain peternakan, CV Sukahati juga memiliki rumah potong hewan (RPH) serta mempunyai plasma yang tersebar di Kabupaten Tasikmalaya dan Ciamis. Sementara itu, untuk distribusi dilakukan di sekitar wilayah Tasikmalaya hingga ke Jakarta.
Selama 15 tahun bekerja sebagai Kepala Produksi di peternakan Sukahati, Hary Purwono Adi semakin memahami tantangan-tantangan yang dihadapinya. Tantangan yang seringkali dihadapi adalah masalah harga live bird di tingkat peternak yang sering mengalami fluktuasi bahkan cenderung rendah. Situasi ini diakui oleh Hary menjadi tantangan yang berat bagi peternak. Selain itu, permasalahan yang juga seringkali mengancam adalah penyakit-penyakit yang bersifat immunosupresant yang menjadi gerbang penyakit lain untuk masuk, seperti Gumboro yang sering muncul belakangan ini.
“Beberapa dari plasma Sukahati menjalankan usaha peternakan bukan sebagai penghasilan utama, jadi terkadang mereka lengah di biosekuriti dan manajemennya. Kalau di peternakan kita sendiri, sanitasi dan biosekuritinya dijaga sekali,” ujar Hary.
Menjaga ayam dengan vaksinasi
Vaksinasi menjadi salah satu kunci untuk mencegah penyakit yang berpotensi menyerang ayam. Oleh karena itu, Hary selalu menyusun program dengan menggunakan vaksin ND, AI, dan Gumboro di peternakannya.
Menurut Hary, Sukahati sudah sejak lama menggunakan produk Medion. Begitupula untuk vaksin gumboro, ia menjatuhkan pilihan pada Medivac Gumboro A. Salah satu produk unggulan Medion ini telah teruji kualitasnya selama kurang lebih 20 tahun di berbagai negara. “Beberapa kali kami sempat menggunakan produk lain, tapi banyak gagal, terjadi outbreak,” ujar Hary. Akhirnya ia kembali menggunakan Medivac Gumboro A dari Medion karena membuatnya merasa lebih aman dan tenang. “Menurut saya Medivac ini memberikan perlindungan yang optimal,” lanjut Hary. Ia juga bisa memeroleh keuntungan maksimal karena bisa terhindar dari kerugian akibat penyakit gumboro.
Gumboro tercatat masuk dalam peringkat 6 penyakit pada broiler. Penyakit ini menyerang broiler usia 15-28 hari. Sifat gumboro yang immunosupresant perlu dicegah dengan vaksinasi. Jika tidak dicegah dengan vaksinasi yang baik maka akan menimbulkan kerugian akibat morbiditas mencapai 100% dan mortalitas 20-30%.
Kondisi kandang Sukahati yang berlokasi di Tasikmalaya.
Pentingnya vaksinasi ini sangat disadari oleh Hary apalagi saat ini tantangan virus di lapangan semakin tinggi. Oleh karena itu, Hary selalu menyusun program vaksinasi dengan vaksin ND, AI dan Gumboro sebagai program utamanya. Namun, vaksinasi saja tidak cukup, biosekuriti yang ketat juga sangat diperlukan. Kedua hal ini harus berjalan beriringan jika ingin mendapatkan hasil yang maksimal.
“Saya mengharapkan agar Medion bisa lebih banyak lagi menciptakan produk-produk yang inovatif,” ungkap Hary. Ia menambahkan, pelayanan yang diberikan oleh tim Medion, seperti berbagi ilmu serta tim yang cepat tanggap terhadap masalah, banyak membantunya di lapangan sehingga ia berharap pelayanan ini juga bisa terus ditingkatkan.