Disinfeksi kandang yang dilakukan secara tepat, dengan didahului oleh pembersihan menyeluruh dan penggunaan bahan yang sesuai, menjadi langkah krusial dalam mencegah penyakit unggas dan menjaga produktivitas ternak.
Kesehatan ayam memegang peranan sentral dalam keberhasilan produksi peternakan unggas. Tingkat produktivitas yang tinggi hanya bisa dicapai apabila ayam terpelihara dalam kondisi sehat dan terbebas dari risiko penyakit. Oleh karena itu, langkah-langkah pencegahan terhadap timbulnya penyakit menjadi strategi utama yang harus diutamakan peternak. Upaya pencegahan ini terbukti lebih efektif dan efisien dibandingkan dengan penanganan saat penyakit sudah menyerang, baik dari sisi biaya, waktu, maupun dampaknya terhadap performa ternak.
Salah satu langkah penting dalam mencegah penyakit adalah melakukan dekontaminasi terhadap kandang ayam. Dekontaminasi merujuk pada proses membasmi atau mengurangi mikroorganisme patogen yang dapat menyebabkan penyakit, dan dilakukan melalui beberapa tahapan penting, termasuk di dalamnya pembersihan dan disinfeksi. Disinfeksi sendiri merupakan tindakan dekontaminasi yang menggunakan bahan kimia atau senyawa aktif untuk membunuh sebagian besar patogen yang tidak bisa dihilangkan hanya dengan pembersihan fisik.
Organisasi-organisasi kesehatan hewan internasional seperti FAO (Food and Agriculture Organization) menekankan bahwa kombinasi antara pembersihan dan disinfeksi adalah pilar utama dalam implementasi biosekuriti pada peternakan unggas. Tanpa proses pembersihan yang menyeluruh, efektivitas disinfektan dalam membasmi patogen akan sangat berkurang. Kotoran organik seperti debu, sarang laba-laba, dan feses dapat menjadi pelindung alami bagi mikroorganisme dari paparan disinfektan, sehingga menghambat daya kerja bahan aktif tersebut.
Secara umum, pembersihan dilakukan dalam dua tahap, yaitu pembersihan kering dan basah. Pembersihan kering bertujuan untuk mengangkat semua kotoran kasar seperti debu, feses kering, sisa pakan, atau bahan lain yang melekat di permukaan lantai, dinding, maupun atap kandang. Proses ini dilakukan dengan alat-alat sederhana seperti sapu, sikat, kain lap, atau sekop. Seluruh kotoran dikumpulkan dan dibuang ke tempat pembuangan akhir agar tidak mencemari lingkungan sekitar kandang.
Setelah pembersihan kering, dilanjutkan dengan pembersihan basah. Langkah ini bertujuan untuk melarutkan dan mengangkat kotoran yang tidak terjangkau dalam pembersihan kering, serta mengurangi potensi penyebaran patogen melalui udara (aerosolisasi). Pembersihan basah dilakukan dengan menyemprotkan air sabun atau larutan detergen ke seluruh permukaan kandang, termasuk sudut-sudut dan celah sempit. Peternak biasanya menggunakan detergen bubuk yang umum dipakai dalam rumah tangga karena harganya yang terjangkau dan kemampuannya dalam menghancurkan lemak serta mikroorganisme.
Penggunaan detergen dalam pembersihan basah juga memberikan efek tambahan berupa kemampuan membunuh beberapa jenis mikroorganisme, termasuk virus Avian Influenza (AI). Oleh sebab itu, dalam masa-masa wabah, pembersihan dengan detergen menjadi salah satu prosedur yang direkomendasikan karena efektivitasnya dalam menurunkan jumlah virus di lingkungan kandang.
Setelah tahap pembersihan selesai, proses disinfeksi menjadi kunci untuk memastikan kandang benar-benar steril dari mikroorganisme berbahaya. Disinfeksi dilakukan dengan menyemprotkan larutan disinfektan ke seluruh bagian kandang. Namun, efektivitas proses ini sangat bergantung pada jenis bahan disinfektan yang digunakan, cara aplikasinya, dosis, serta waktu kontak larutan dengan permukaan kandang.
Dalam praktik peternakan unggas, disinfektan dibagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan struktur dan sifat kimianya, seperti senyawa halogen, alkohol, agen pengoksidasi, fenol, dan aldehid. Pemilihan disinfektan harus disesuaikan dengan riwayat penyakit yang pernah terjadi di peternakan, tingkat cemaran organik, serta bahan material kandang. Misalnya, pada kandang berbahan kayu atau bambu, diperlukan disinfektan yang mampu menembus pori-pori bahan organik. Sementara itu, kandang berbahan logam atau besi membutuhkan disinfektan yang tidak bersifat korosif agar tidak merusak struktur kandang.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Tata Laksana pada majalah Poultry Indonesia edisi September 2025. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi September 2025, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754 atau sirkulasipoultry@gmail.com







