Hidangan olahan ayam menjadi jenis panganan kuliner yang populer saat ini
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Kuliner produk unggas khususnya ayam masih menjadi peringkat pertama kuliner favorit masyarakat Indonesia. Rasanya yang enak dan harganya terjangkau menjadi alasan kuat kuliner ini laris manis di pasaran, tak terkecuali saat bulan Ramadan. Hal tersebut menjadi pembahasan menarik dalam Poultry Indonesia Forum ke-13 bertemakan “Strategi Bisnis Kuliner Produk Unggas di Bulan Ramadan” yang diselenggarakan melalui Zoom, Sabtu (17/4).
Menurut Tri Mahawijaya Herlambang selaku Chief Marketing & Sales Officer PT Widodo Makmur Unggas Tbk, dalam paparannya mengatakan bahwa berdasarkan data Gojek tahun 2020, ayam goreng masih menjadi juara bertahan untuk jenis kuliner yang paling banyak dijual. Hal itu diikuti dengan minuman kopi yang kini juga tengah naik daun di masyarakat.
“Kalau kita lihat daftar penelurusan terpopuler di google tahun 2017, ayam geprek merupakan satu dari tiga kata yang paling banyak dicari. Faktor ayam geprek menjadi popular karena mampu memadukan rasa gurih dan pedas yang memang favorit bagi masyarakat Indonesia, penampilannya yang menarik dan beberapa penjual menggabungkannya dengan mozzarella,” ujarnya.
Namun, di balik peluang bisnis kuliner ayam yang masih menjanjikan tersebut, ada beberapa tantangan seperti kenaikan harga bahan baku produk unggas seperti di bulan Ramadan. Menurutnya, selain bulan Ramadan permintaan akan produk juga naik, akan tetapi biasanya harga bahan baku pun juga ikut naik.
Selain itu, menjamurnya berbagai bisnis kuliner produk unggas tentu menjadikan bisnis kuliner semakin kompetitif, sehingga inovasi produk juga harus terus dilakukan agar konsumen mendapatkan banyak pilihan dan harga yang bersaing.
“Di era digital ini, selera pasar bisa dengan cepat berubah. Oleh karena itu membutuhkan inovasi rasa melalui riset dan food test sebelum merilis menu, promosi melalui foto yang menggugahs selera di media sosial, kemudian mendaftarkan ke platform food delivery adalah hal-hal yang semestinya dilakukan,” kata Tri Mahawijaya.
Hal senada disampaikan oleh Cecep M. Wahyudin yang merupakan Owner D’Colonel Resto. Menurutnya, bisnis kuliner produk unggas khususnya ayam masih memiliki prospek yang bagus karena ayam ini rasanya enak dan terjangkau di semua kalangan.
“Semakin lama orang mau yang praktis, jadi bisnis ini masih cukup menjanjikan, tinggal kitanya harus kreatif supaya menunya variatif dan rasanya tetep enak dan yang penting berkualitas,” ujar Cecep.
Baca Juga: Ketika Kaum Milenial Berbisnis Kuliner Daging Ayam
Masih kata Cecep, kualitas produk yang baik juga ditentukan dari bahan baku yang berkualitas baik sehingga para pelaku usaha kuliner harus bisa menjamin dari segi keamanan dan kehalalan bahan baku. Hal itu bertujuan agar konsumen merasa nyaman dan aman saat berbelanja dan mengonsumsinya.
Terkait keamanan pangan juga disinggung oleh Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner, Ditjen PKH, Kementan, Syamsul Ma’arif. Syamsul berujar bahwa keamanan pangan merupakan hak konsumen dan telah menjadi isu prioritas dalam konteks perdagangan global. Oleh sebab itu, sistem keamanan pangan harus didasarkan pada penilaian risiko yang terintegrasi mulai dari peternakan sampai dengan meja makan.
“Sistem harus mendorong penetapan manajemen risiko yang tepat dalam bentuk peraturan yang jelas, yang berasal dari pendekatan konsultatif dan terpadu yang dapat diterapkan secara nasional dan diakui secara internasional,” ujar Syamsul.
Dalam kaitannya dengan daging yang dikonsumsi oleh masyarakat, Syamsul menyarankan agar daging yang diperoleh merupakan ayam sehat, dipotong di RPH-U, telah menjalani pemerikaan ante dan post mortem oleh Dokter Hewan Berwenang atau Paramedik Veteriner di bawah pengawasan Dokter Hewan dan dinyatakan aman serta layak untuk dikonsumsi.
Sementara mengenai pendanaan di sektor UMKM, Digital Loan Bank Sinarmas, Wahyu Adhi Nugroho menjabarkan program dari Bank Sinarmas yang bisa diakses oleh para pelaku usaha termasuk usaha kuliner UMKM seperti pembiayaan online maupun digitalisasi jaringan distribusi UMKM.
“Kami memiliki program yang bernama Simas Micro 50 iB, yakni produk pembiayaan Bank Sinarmas-UUS yang diperuntukan kepada perorangan UMKM yang tidak melanggar peraturan/syariah untuk tujuan produktif, tanpa agunan yang diproses menggunakan platform Simas Pintar. Plafond pembiayaan dari Rp10-50 juta dengan jangka waktu pembiayaan 12 dan 24 bulan,” ujarnya.
Selain karena kondisi pandemi, upaya digitalisasi juga memudahkan pelanggan dalam mengakses program perbankan. Seperti misalnya untuk pengajuan pembiayaan, pembukaan rekening, transaksi pembayaran dan permintaan barang modal kerja UMKM dapat dilakukan secara digital.
“Meskipun interaksi fisik ini berkurang, namun bisnis tetap berjalan dengan aman dan lancar. Adanya digitalisiasi, maka profil usaha UMKM dapat tercatat sehingga mempermudah UMKM nantinya dalam mengakses pembiayaan. Kami dalam hal ini ikut mendukung program pemerintah khususnya pada sektor keuangan dalam rangka digitaliasai pembayaran dan pembiayaan serta mendukung UMKM GO Digital,” kata Wahyu.