POULTRYINDONESIA, Banyuwangi – Bahan baku pakan terdiri dari dua sumber utama, yakni lokal dan impor. Secara umum komposisi penggunaan bahan baku lokal pada pabrik pakan di Indonesia adalah sebesar 65%, sedangkan 35% adalah berasal dari impor.
Hal tersebut seperti yang disampaikan oleh Dr. drh. Desianto Budi Utomo, Ph.D selaku Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) pada hari Sabtu (11/12) dalam acara seminar nasional, yang diadakan oleh Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Airlangga, Program Studi Diluar Kampus Utama (PSDKU) Banyuwangi, dengan tema : Pemanfaatan Limbah Pertanian dan Perkebunan, Sebagai Strategi Peningkatan Produktivitas Ternak, untuk Ke keberlanjutan Ketahanan Pangan, secara virtual, via Zoom Meeting.
Baca juga : Mikroba Endogenous Sebagai Alternatif Imbuhan Pakan pada Puyuh
Menurut Desianto, pemanfaatan bahan baku lokal untuk pakan ternak di Indonesia terbilang tinggi, jika dibandingkan dengan negara ASEAN yang lain, dimana bahan baku lokal yang biasa dipergunakan adalah jagung, dedak, bekatul, hingga bungkil inti sawit. Sedangkan bahan impor yang biasa dipakai adalah Soya Bean Meal, Meat Bone Meal, Corn Gluten Meal dan Distilled Dried Grain with Sollublle.
“Memang dalam penggunaan bahan baku impor, dalam komposisinya tidak banyak. Namun, menyumbang sekitar 60-75 persen biaya bahan baku pakan. Dimana, 80-85 persen harga pakan, ditentukan oleh harga bahan bakunya,” tegas Desianto.
Ia juga menegaskan bahwa sebagian besar pakan yang diproduksi oleh pabrik pakan, adalah diperuntukkan untuk pakan unggas, menurut data ia menjelaskan bahwa sekitar 90 persen pakan yang diproduksi oleh pabrik pakan adalah untuk unggas, 6 persen untuk perikanan, 2 persen untuk babi, 1 persen untuk ruminansia dan 1 persen untuk ternak lain.
“Produksi pakan untuk kebutuhan dalam negeri terbilang lebih dari cukup, bahkan tren dari tahun ke tahun terus meningkat dan masih idle capacity. Untuk saat ini, produksi pakan di tahun 2021 diprediksi sebesar 19,4 juta ton, dengan kapasitas terpasang sebesar 29,7 juta ton,” tegasnya.
Sementara itu masih dalam acara yang sama, Ir.Indyah Aryani, MM, Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur (Jatim) mengungkapkan bahwa populasi ternak ayam petelur di Jatim sebanyak 52,6 juta ekor yang berkontribusi sebesar 28 persen dari populasi ayam petelur secara nasional. Sedang untuk ayam pedagingnya sebanyak 256 juta ekor,yang berkontribusi sebanyak 14 persen,terhadap populasi ayam pedaging secara nasional.