Beky Hendriansyah
Dilahirkan di Desa Tawangrejo Kecamatan Wonodadi Kabupaten Blitar, membuat Beki Hendriansyah tumbuh menjadi sosok yang tangguh dan penuh tanggung jawab. Anak kedua dari tiga bersaudara ini dididik cukup keras oleh Bapaknya, karena memang kehidupannya semasa kecil bisa dikatakan golongan menengah ke bawah. Bapaknya pernah menjadi tukang ojek, hingga menjadi kernet. Sampai ketika ia kelas 2 SMA, usaha kelapa yang sudah dirintis Bapaknya, mulai terlihat hasilnya, hingga keluarganya bisa membeli kendaraan sendiri.

Setiap orang diciptakan berbeda, setiap orang memiliki jalan kehidupan yang tidak sama. Tumbuh menjadi orang yang bisa bermanfaat untuk banyak orang adalah pilihannya

“Setelah lulus SMA sebenarnya cita-cita saya ingin jadi polisi. Waktu memasuki ujian akhir setiap hari saya olahraga lari, selama tiga bulan, untuk persiapan daftar ke kepolisian. Kemudian setelah lulus saya bilang ke Bapak, kalau saya ingin masuk polisi, dan ternyata Bapak kurang setuju, ditambah nilai saya juga tidak bagus-bagus amat. Sebenarnya waktu itu saya agak kecewa, lalu dengan mengikuti apa kata Bapak, ternyata semua ada hikmahnya,” ucap Beky.
Ia pun melanjutkan perjalanan hidupnya dengan menuntun ilmu di perguruan tinggi. Di perkuliahan ia juga belum bisa menemukan passion yang diinginkan. Hingga ia jarang masuk kuliah dan sering bolos untuk sekedar bermain dengan teman-temannya. Sampai suatu saat ia tidak masuk kuliah dan memilih untuk pergi ke suatu tempat dan akhirnya ia mengalami kecelakaan yang cukup parah. Kala itu ia merasa mendapat keajaiban ketika ia bisa pulih kembali, dan ternyata Tuhan masih memberi kesempatan untuk ia bisa melanjutkan hidup.
Setelah kejadian itu pun Bapaknya marah besar dan ia dilarang untuk melanjutkan kuliah, ia lantas diminta untuk menjaga Poultry Shop milik Bapaknya. “Menjadi penjaga toko kejenuhan saya muncul, terlebih melihat teman-teman saya bisa bermain sepuasnya. Sedangkan saya mau main juga takut sama Bapak, akhirnya mau tidak mau saya berusaha menyenangi dunia poultry ini, saya mulai ngobrol dengan para karyawan di sini, kemudian dari sini saya melihat bagaimana kerja keras Bapak untuk bisa menghidupi keluarga,” kenang Beky.
Dari pengalaman menjaga Poultry Shop tersebut Beky menjadi tahu betapa susahnya mencari uang, dan muncullah keinginannya untuk benar-benar belajar bisnis. Keinginannya untuk bermain seperti anak seusianya sontak tergantikan dengan kegigihannya belajar menggeluti usaha Bapaknya. Setelah berjalan 3 tahun, ia lantas membuka Poultry Shop sendiri di tahun 2005.
“Dulu awalnya kecil sekali, masih eceran, dulu juga saya masih keliling sendiri pakai sepeda motor, saya datangi satu kandang ke kandang lainnya untuk kenalan dan menawarkan produk. Saya sudah kubur rasa malu saya. Dalam benak saya, saya ingin sukses, saya ingin berkembang, dari situ jadi kenal banyak peternak di daerah sini. Waktu itu saya tidak berfikir berapa keuntungan yang saya dapat, yang ada di benak saya, bahwa saya ingin berkembang, dari sini alhamdulillah progres omzet ini terus naik,” terang Pemilik PT Sumber Kelapa Beky ini.
Sampai suatu ketika ada pabrik yang senang melihat kinerjanya, dan kemudian ia diberikan rekomendasi untuk DO (Delivery Order) sendiri dari pabrik. Dari setiap target yang diberikan, mulai dari tahun 2007 sampai hari ini omzetnya selalu mencapai di atas target, bahkan 2011 ia sudah bisa menjadi agen terbesar di Jawa Timur. “Saya sangat bersyukur diberi rezeki sedemikian rupa sama Allah. Ini semua saya lakukan untuk menjaga nama PT Sumber Kelapa ini, di mana nama PT ini dulu Bapak mencarinya tidak mudah, sehingga nama PT Sumber Kelapa ini benar-benar saya jaga dan saya kembangkan,” tuturnya.
Awal mula mencintai ayam hias
Ia bercerita kala itu ia menyenangi ayam hobi mulai di tahun 2014, diawali dengan ketidak sengajaan, akhirnya ia mulai mengenal sisi istimewa dari ayam hias. “Ceritanya dulu saya dikasih ayam hias, awalnya saya tidak mau, karena tidak suka. Kemudian akhirnya saya mau tidak mau saya pelihara. Setelah 1 minggu saya pelihara, saya melihat bahwa ayam hias itu memiliki keunikan, ternyata ayam itu menarik dan sangat pintar, saat kita tahu cara memperlakukannya. Dari situ saya penasaran, kemudian saat saya pergi ke Thailand, di farm Thailand saya dikasih ayam yang super istimewa, disitu saya benar-benar mencintai ayam hobi, dan akhirnya saya terus menggeluti ayam hobi ini,” tutur Beky.
Dalam perjalanannya, tentu tidak semulus yang diharapkan. Awal mulanya ia dibohongi karena belum berpengalaman. Setiap ada yang menawari ayam kepadanya, ia langsung beli dan percaya bahwa ayam yang dibelinya bagus, padahal kenyataannya ada saja yang tidak sesuai ekspektasi. Namun seiring berjalannya waktu ia belajar, dan ia tahu mana ayam yang bagus dan mana ayam yang kurang bagus. Dan kala ia bertandang ke Thailand, ia didampingi master ayam hobi, sehingga sejak saat itu ia memiliki kualitas ayam yang menengah ke atas.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Februari 2022 dengan judul “Beky Hendriansyah, Pecinta Ayam Hobi, yang Ingin Bermanfaat untuk Orang Banyak”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silakan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153