Suasana webinar bungkil inti sawit sebagai bahan pakan
POULTRYINDONESIA, Jakarta- Pakan ternak adalah hal yang krusial karena memegang kontribusi terhadap biaya pakan sebesar 80-85%, maka dari itu perlu adanya substitusi bahan pakan yang terjangkau dan berkualitas. Salah satu bahan pakan yang sedang dikembangkan yakni bungkil inti sawit (BIS).
Berangkat dari hal tersebut, Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB) menggelar webinar bertema “Pengelolaan Bungkil Inti Sawit sebagai Pakan”. Acara yang diselenggarakan secara daring melalui Zoom, Rabu (12/1) ini bertujuan memberikan informasi dari pemerintah, pebisnis, dan masyarakat terkait kebijakan dan pemanfaatan bungkil inti sawit sebagai pakan.
Baca juga : Sinergi Integrasi Vertikal dan Horizontal untuk Perkembangan Peternakan Indonesia
Dalam sambutannya, Rektor Univeristas IPB, Prof. Dr. Arif Satria, S.P, M.si. menyebutkan penelitian saat ini memberikan harapan baru bahwa hasil sampingan sawit dapat menjadi bahan pakan ternak. “Peran perguruan tinggi untuk berkreasi meningkatkan kreatifitas untuk mengembangkan inovasi yang berorientasi future practice” ucap Arif.
Selanjutnya berdasarkan keynote speech dari drh. Agus Sunanto, MP sebagai Direktur pakan dan Plt. Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak mengatakan bahwa bahan pakan impor sudah sangat langka sehingga diperlukan pemanfaatan bahan pakan lokal. Selain bungkil inti sawit sebagai bahan protein, maggot juga perlu dipertimbangkan untuk mengganti bahan pakan yang diimpor.
Berdasarkan pemaparan materi dari Narasumber pertama yang disampaikan oleh Ketua Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), drh. Desianto Budi Utomo, Ph.D menjelaskan, pemanfaatan bahan pakan lokal di Indonesia mencapai 65%. Namun, BIS belum diprioritaskan dikarenakan tingkat kecernaan yang rendah karena masih sering ditemukannya sisa batok atau cangkang. Selain itu peternak masih meragukan akibat warna gelap pakan akibat BIS.
Ia menjelaskan teknologi pengelolaan BIS dapat dilakukan dengan teknologi pemisahan cangkang, extruder (pemanasan dengan uap air dan tekanan tinggi), dan fermentasi dengan bakteri, kapang serta formulasi ransum dengan enzim. “Perlunya kerjasama antara peneliti, pemerintah, dan industri pakan serta perlu edukasi dalam peningkatan pemanfaatan sumber bahan pakan lokal” kata Desianto.
Narasumber kedua, Ir. Didiek Purwanto, IPU sebagai ketua ISPI membahas “Kontribusi Bungkil Inti Sawit dalam mendukung Industri Feedlot dan Dairy”. Perkebunan kelapa sawit nasional tahun 2019 di Indonesia memiliki luas lebih dari 16 juta hektar, sehingga sangat berpotensi untuk menggunakan bungkil inti sawit. Beliau merekomendasikan untuk mengoptimalkan penggunaan bungkil sawit dengan terobosan strategis dengan tataniaga yang efisien, peningkatan kualitas, prioritas untuk kebutuhan dalam negeri dengan regulasi yang mendukung.
“Perlunya mengoptimalkan penggunaan bungkil sawit dengan terobosan strategis dengan tata niaga yang efisien, peningkatan kualitas, prioritas untuk kebutuhan dalam negeri dengan regulasi yang mendukung” tuturnya.
Masih dalam acara yang sama, menurut Prof. Dr. Ir. Nahrowi, M.Sc selaku peneliti dari IPB Univesrsity sebagai narasumber ketiga menuturkan BIS merupakan hasil samping dari sawit dan sangat berpotensi karena harga yang murah dan ketersediaan yang terjamin, tetapi perlu ditingkatkan kualitasnya. Teknologi pangan saat ini yang sedang digunakan adalah dengan fraksinasi dan hidrolisa sehingga menghasilkan Palmofeed dan mannan.
Ia menambahkan, teknologi fraksinasi yang diikuti dengan proses hidrolisis tidak hanya dapat meningkatkan kualitas fisik, tetapi kualitas kimia BIS. “BIS terhidrolisis (palmofeed) dapat dipakai dalam campuran ransum unggas sebesar 12,5%, dan masih dapat ditingkatkan lagi penggunaannya jika diikuti dengan penambahan enzim penghidrolisis serat,” tambah Nahrowi.