Oleh: Ir. Kurt Van de Mierop; Dr. Jesse Stoops; Diana Putri, S.KH*
Umumnya, paparan endotoksin akan mempengaruhi performa hewan akibat stimulasi respon imun berupa inflamasi. Aktivasi sel imun sendiri merupakan proses yang memakan energi (Ghareeb et al., 2016), sehingga proses ini mengalihkan energi dan nutrisi dari performa reproduksi dan produksi daging dan telur.
Kemungkinan terburuk yang dapat terjadi jika jumlah endotoksin dalam sirkulasi darah terlampau tinggi adalah syok septik atau bahkan dapat mengakibatkan kematian. Endotoksin juga terlibat dalam berbagai gangguan metabolisme, seperti penurunan kesehatan usus, masalah reproduksi, imunosupresi, dan penurunan kualitas telur.
Pada penurunan kesehatan usus, endotoksin dapat menyebabkan berbagai perubahan morfologi pada saluran pencernaan. Selain efek langsung pada usus, endotoksin LPS secara tidak langsung juga dapat menyebabkan kerusakan usus melalui penurunan asupan pakan (Zhang et al., 2013). Efek endotoksin pada kesehatan usus berkontribusi pada penurunan penyerapan nutrisi dalam usus dan meningkatkan peluang terjadinya infeksi sekunder (Ghareeb et al., 2016).
Pada gangguan reproduksi, stres imunologis yang disebabkan oleh endotoksin LPS dapat menghambat fungsi reproduksi layer dan efek negatif ini dapat menurun ke generasi berikutnya (Liu et al., 2019). Endotoksin LPS juga dapat mengaktifkan jalur spesifik yang memediasi atrofi bursa fabricius pada ayam dengan menginduksi inflamasi dan apoptosis (Ansari et al., 2017).
Kemudian, efek negatif pada organ kekebalan spesifik ini berujung pada imunosupresi. Imunosupresi sendiri merupakan faktor penyebab penyakit utama pada unggas, sehingga memiliki implikasi penting bagi industri perunggasan. Gabungan intensitas paparan bakteri yang tinggi dan imunosupresi menjadikan unggas lebih rentan terhadap infeksi dan penyakit lainnya (Ghareeb et al., 2016).
Tak hanya sampai di situ, endotoksin juga dapat menyebabkan penurunan kualitas telur. Endotoksin dapat mengurangi kadar kalsium dan fosfor serum pada ayam petelur. Hal ini menunjukkan bahwa reaksi inflamasi yang diinduksi oleh endotoksin LPS dapat mempengaruhi metabolisme mineral dan berimbas pada penurunan kualitas kerabang telur (Kakhki dan Kiarie, 2021).
Faktor risiko yang mengikuti
Tingginya jumlah endotoksin dalam sirkulasi darah dapat menyebabkan syok septik, gejala utama dari endotoksemia. Kejadian endotoksemia dapat diperparah oleh beberapa faktor risiko, seperti heat-stress, konsumsi pakan yang terkontaminasi mikotoksin, pergantian pakan, penggunaan antibiotik, patogen dan faktor lainnya yang dapat menurunkan fungsi pertahanan usus.
Secara fisiologis, heat-stress dapat menyebabkan kegagalan sistem organ (bahkan beberapa organ sekaligus atau multi-organ), termasuk saluran pencernaan. Sel-sel epitel usus akan saling kehilangan konektivitasnya akibat stres oksidatif dari heat-stress. Aliran darah melalui dinding usus juga akan berkurang dan menyebabkan suplai oksigen serta nutrisi yang lebih rendah ke enterosit. Akibatnya, permeabilitas membran usus akan meningkat (Lambert et al., 2002; Pearce et al., 2013) dan isi usus mulai bocor keluar, menyebabkan infeksi bakteri sistemik dan respon inflamasi dadakan dari sistem kekebalan tubuh (Leon dan Helwig, 2010).
Faktor perubahan komposisi pakan sering disertai dengan penurunan asupan pakan serta perubahan morfologi dan fisiologis pada dinding usus. Ayam akan menghadapi stres pada usus tiap kali komposisi bahan baku dalam pakan berubah ketika pergantian dari satu fase pakan ke fase lainnya (Mikec et al., 2006). Faktor lainnya, adalah mikotoksin deoxynivalenol (DON) yang merupakan salah satu mikotoksin paling umum dijumpai di lapangan, terbukti dapat menurunkan ekspresi pelekatan protein dan proliferasi enterosit sehingga menurunkan fungsi pertahanan usus (Antonissen et al., 2014).
Agen penyakit atau patogen tertentu, seperti Clostridium perfringens yang normalnya ada pada usus, tetapi dapat menyebabkan penyakit Nekrotik Enteritis dan spesies Eimeria spesifik pada ayam, dapat memengaruhi sifat pertahanan dari saluran pencernaan (Groschwitz dan Hogan, 2002). Hal ini dapat mengakibatkan peningkatan permeabilitas epitel dan translokasi endotoksin ke luar pencernaan.
Endotoksin bisa dikatakan merupakan salah satu aktivator sistem kekebalan tubuh yang paling kuat, dengan respon imun berupa perubahan suhu tubuh akibat inflamasi dan penurunan feed intake, performa pertumbuhan, serta efisiensi pakan. Paparan endotoksin secara terus-menerus dapat menekan respon imun ayam yang menyebabkan ayam lebih mudah terkena penyakit.
Oleh karena itu, penting bagi para pelaku industri perunggasan untuk mengambil tindakan dalam rangka menekan risiko kejadian endotoksin melalui perbaikan pertahanan usus. Hal ini dapat dicapai dengan mencegah atau mengurangi faktor-faktor yang menurunkan fungsi pertahanan usus, seperti perbaikan manajemen pemeliharaan, termasuk manajemen suhu kandang dan pakan. Selanjutnya, tindakan dapat diambil untuk mengurangi kandungan dan toksisitas endotoksin yang berada di saluran pencernaan. *Managing Director NUTREX; Senior Product Manager NUTREX; Wartawan Poultry Indonesia
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Kesehatan pada Majalah Poultry Indonesia edisi Juni 2022. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, sila mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153