Formulasi pakan layer memerlukan pembaruan untuk menunjang produktivitasnya (sumber gambar: freepik)
POULTRYINDONESIA, Jakarta – FKS Multi Agro bekerjasama dengan US Soybean Export Council dan US Grain Council menggelar Feed Ingredient Dialogue Series atau FEEDS seri keempat pada Kamis, (8/7). Acara yang digelar secara virtual itu mengangkat tema “Update Formulasi Pakan Layer & NVC Demonstration” dengan menghadirkan Prof. Budi Tangendjaja Ph.D sebagai narasumbernya.
Menurut Budi, di tengah situasi harga bahan baku yang naik seperti sekarang ini, penting bagi peternak layer khususnya untuk bisa mencari solusi. Budi melihat di peternakan layer ini terjadi persaingan di antara farm.
“Selain harus bersaing dengan Malaysia, di Indonesia ini yang saya lihat terjadi persaingan antara satu farm dengan farm lainnya. Sehingga yang kuat dan lebih efisien lah yang akan menang. Mesti diingat bahwa para peternak layer harus memperlakukan ayam mereka sebagai pabrik telur, jangan memperlakukan ayam sebagai peternakan biasa saja, sehingga masing-masing individual ayam harus dipenuhi kebutuhannya,” ungkap Budi.
Baca Juga: Inovasi Nutrisi Pakan Sangat Diperlukan
Budi menyadari betul bahwa biaya produksi untuk pakan memang yang terbesar, oleh karenanya ia selalu menyarankan para peternak petelur bisa self mixing, dengan teknik formulasi pakan, sehingga bisa menentukan formulasi pakannya sendiri agar bisa menekan biaya pakan.
“Terus terang saja di ASIA, termasuk Indonesia bahan baku utama adalah jagung dan bungkil kedelai, sehingga kualitas dan harga kedua bahan baku ini memegang peranan penting, oleh karenanya para peternak perlu mendapatkan harga paling terjangkau dengan kualitas terbaik untuk kedua bahan ini,” ujar Budi.
Budi menambahkan bahwa upaya diatas belum cukup, untuk menekan harga para formulator perlu mencari bahan alternatif. Jika peternak ingin efisien dalam budi daya maka harus membuat formulasi pakan sendiri.
“Inilah tantangan untuk peternakan ayam petelur, bagaimana kita bisa mencari jalan keluarnya. Ada dua hal yang perlu digaris bawahi, pertama kita harus menekan biaya pakan, kedua kita perlu memperbaiki efisiensi produksi,” jelas Budi.