Telur ayam yang terserang penyakit ND
Oleh : Diana Putri, S.Kh.*
Peternakan ayam merupakan salah satu penyokong kebutuhan protein hewani nasional yang tak bisa dianggap enteng dalam industri perunggasan. Selain mudah didapatkan, hasil produksinya, baik telur maupun daging, menjadi pilihan protein hewani masyarakat karena mudah didapat dan harganya murah. Namun, penyakit menjadi ancaman utama bagi industri ini, karena serangan penyakit dapat menurunkan produksi. Salah satu ancaman adalah penyakit Newcastle Disease (ND) atau yang akrab disebut Tetelo. Tetelo merupakan salah satu penyakit yang menjadi ancaman dan beban ekonomi karena mempengaruhi produksi unggas secara signifikan.

Hingga saat ini, cara terbaik untuk menanggulangi kerugian akibat virus ND adalah dengan melakukan pencegahan. Pencegahan dapat dilakukan dengan memaksimalkan penerapan biosekuriti dan menjalankan program vaksinasi yang tepat untuk memberikan perlindungan yang maksimal terhadap virus ND

Newcastle Disease (ND) atau Tetelo disebabkan oleh Avian Paramyxovirus Serotipe 1 atau APMV-1 yang merupakan virus Single-Stranded RNA (SS-RNA). Menurut Lamb et. al (2000), serotipe virus ini beserta delapan serotipe lainnya, yaitu APMV-2 hingga APMV-9, masuk ke dalam genus Avulavirus dan famili Paramyxoviridae, sehingga disebut juga sebagai Avian Avulavirus 1 (AAvV-1). Meski hanya terdapat satu serotipe, virus ini memiliki variasi antigen antar strain (Alexander et. al, 1997).
Menurut Rott (1979) pada penelitiannya yang berjudul “Molecular basis of infectivity and pathogenicity of myxoviruses” pada Archives of Virology, virulensi dari Newcastle Disease Virus (NDV) bergantung pada banyak faktor. Faktor utamanya adalah pembelahan protein F, dimana aktivasi dari glikoprotein sangat diperlukan untuk infeksi virus. Selain itu, protein V juga menunjukkan perannya dalam virulensi virus ini melalui respon antagonis IFN-1 (Huang et. al, 2003).
Interferon (IFN) merupakan garda terdepan dalam pertahanan melawan infeksi virus. Cara kerja IFN adalah menginduksi antivirus yang kemudian menghambat replikasi virus dan mengontrol penyebaran virus. Namun, menurut Goodbourn et. al (2000), Gotoh et. al (2001), dan Ploegh (1998), respon dari IFN dapat mendorong virus untuk mengadopsi strategi dalam mengelakkan respon antiviral yang diinduksi oleh IFN. Menurut Andrejeva et. al (2002) dan Didcok et. al (1999), protein V dari banyak Paramyxovirus, termasuk yang ada pada Newcastle Disease Virus (NDV), bertanggungjawab dalam menghalangi dari aksi antiviral IFN.
Strain dari Newcastle Disease Virus (NDV) terbagi menjadi 3 patotipe, tergantung dari tingkat virulensi. Strain NDV lentogenik merupakan strain dengan virulensi terendah yang tidak menyebabkan penyakit dan dikategorikan sebagai avirulen. Virus dengan tingkat virulensi menengah disebut sebagai mesogenik. Sedangkan virus dengan virulensi tertinggi yang menyebabkan angka mortalitas tinggi disebut sebagai velogenik (Alexander, 1997).
drh. Vinta Maulia selaku Technical Sales Executive PT Ceva Animal Health Indonesia mengatakan bahwa transmisi virus ND dapat menyebar melalui udara atau melalui rute fekal oral. “Virus ND juga bisa menyebar melalui vektor, karyawan kandang, kendaraan dan peralatan yang terkontaminasi. Area yang dilewati oleh migrasi unggas liar juga bisa menjadi challenge dari adanya virus ND,” ujarnya saat diwawancarai oleh tim Poultry Indonesia di area kandang, Rabu (17/11).
Vinta mengatakan bahwa virus ND yang merupakan virus SS-RNA lebih sering mutasi dibandingkan virus DNA. Namun ini dipengaruhi oleh banyak faktor. Senada dengan penelitian Alexander (1997), Vinta juga mengatakan bahwa virus ND hanya memiliki 1 serotipe, tetapi memiliki beberapa variasi molekuler. Dari beberapa sampel yang ditemukan oleh tim Ceva, dan kandang yang diduga terinfeksi ND, Vinta menginformasikan bahwa timnya menemukan genotip 7H dan 7I yang termasuk ke dalam golongan velogenik.
“Berdasarkan data Global Protection Services-Disease Surveillance (GPS-DS) yang telah dilakukan oleh tim Ceva dari tahun 2018 hingga 2021, ND merupakan penyakit utama yang sering ditemukan pada ayam petelur. Jika dilihat dari sisi vaksinasi, ada 3 masalah utama, yaitu interferensi kekebalan asal induk terhadap kerja vaksinasi konvensional, kualitas aplikasi vaksin, dan adanya reaksi pasca vaksinasi,” jelasnya.
Lebih lanjut, Vinta menjelaskan bahwa tingkat morbiditas dan mortalitas penyakit ND sangatlah tinggi karena penularan virus dapat terjadi melalui udara dan peralatan yang terkontaminasi. Penyakit ini bisa menyerang peternakan baik dengan sistem closed house ataupun sistem open house jika tidak memiliki imunitas yang baik dan didukung oleh manajemen praktik serta biosekuriti yang baik.
Newcastle Disease Virus (NDV) dapat terbawa oleh kendaraan, pakaian, peralatan, vektor, maupun karyawan yang terkontaminasi. Masa inkubasi NDV pada ayam mulai terjadi antara umur 2 dari hingga 15 hari. Namun, rata-rata kejadian ini ditemukan sekitar 5 hingga 6 hari setelah ayam tersebut terinfeksi. Kadang juga akan menunjukan gejala klinis berupa kematian yang tinggi akibat terserang velogenik ND,” tutur Vinta. *Jurnalis Poultry Indonesia
Potongan artikel Majalah Poultry Indonesia edisi Februari 2022 ini dilanjutkan pada judul “Kenali Gejala ND”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silakan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153