Desianto Budi Utomo
Oleh : drh. Desianto Budi Utomo, PhD.*
Industri pakan memiliki peranan penting dalam usaha budi daya unggas di tanah air, karena biaya pakan menghabiskan sekitar 55-70 persen dari total biaya produksi budi daya ayam. Oleh sebab itu, apabila industri pakan mengalami gejolak harga maka sektor budi daya juga akan terkena imbasnya. Secara nyata, fenomena tersebut terjadi saat ini, di mana kenaikan harga bahan pakan (raw material) serta dinamika geopolitik global telah memaksa kenaikan harga pakan nasional.

Kenaikan harga bahan pakan serta naiknya biaya logistik membuat industri pakan terpaksa menaikan harga pakan dalam negeri

Hal ini cukup beralasan, karena bahan pakan merupakan komponen utama struktur pembentuk harga di dalam pakan, yang komposisinya mencapai 85 persen. Secara otomatis, apabila terjadi kenaikan harga bahan pakan, maka akan membebani biaya produksi pakan per kilogramnya.
Kemudian, ditinjau dari sumbernya, bahan pakan  dibagi menjadi dua, yakni bahan pakan yang tersedia secara lokal, dan bahan pakan yang kebutuhannya harus dipenuhi dari impor. Di mana, bahan pakan sumber energi tersedia secara lokal yang didominasi oleh jagung, sedangkan untuk bahan pakan sumber protein masih mengandalkan impor, dengan proporsi terbesarnya berupa soy bean meal (SBM).
Disisi lain proporsi bahan pakan impor pada industri pakan di Indonesia sebesar 35 persen dari total komponen penyusun formulasi pakan. Namun jika dihitung secara nilai (rupiah), bahan pakan impor tersebut bisa mencapai 60 hingga 65 persen dari seluruh biaya penyusun pakan.
Berdasarkan data Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), pada tahun 2021 industri pakan Indonesia memproduksi pakan ternak sebanyak 19,6 juta ton. Dari angka tersebut, didominasi oleh pakan unggas dengan proporsi 90 persen atau setara 17,6 juta ton. Jika diasumsikan bahwa biaya bahan pakan per kilogram seharga Rp6.000,00 maka biaya atau nilai dari industri pakan untuk produksi bahan pakan ternak unggas adalah sebesar 105,6 triliun rupiah per tahun 2021. Apabila biaya bahan pakan impor menyumbang sebesar 60 persen dari total biaya formulasi pakan, maka nilai bahan pakan impor sebesar 63,36 triliun rupiah.
Baca juga : Menjembatani Pemangku Kepentingan Perunggasan dan Peningkatan Kualitas SDM
Lebih lanjut, kami melihat bahwa bahan pakan global yang saat ini mengalami kenaikan harga yang luar biasa, telah membuat kenaikan harga pakan di Indonesia terjadi. Termasuk pada kenaikan harga pada komponen impor bungkil kedelai yang menyumbang 25 persen dari formulasi pakan.
Hal ini diduga erat hubungannya dengan adanya kenaikan permintaan kedelai global, salah satunya seperti Cina yang menaikan kuantitas impornya untuk kembali membangun peternakan babi di negaranya pasca terjadi outbreak African Swine Fever (ASF). Selain itu cuaca buruk berupa kemarau panjang yang terjadi di Amerika Latin kala musim tanam kedelai juga membuat pasokan terganggu. Fenomena ini diperkuat dengan kenaikan dan kelangkaan kedelai yang dialami oleh pengrajin tahu dan tempe beberapa waktu yang lalu.
Selain kenaikan harga bahan pakan global, hal ini diperparah dengan terjadinya kelangkaan kontainer di Indonesia (kalaupun ada dan tersedia, biayanya naik 4-5 kali lipat), serta kenaikan biaya bahan bakar minyak (BBM) global berkorelasi langsung pada kenaikan logistik. Situasi kian berat kala harga bahan pakan nasional, seperti jagung juga ikut terkerek naik mengikuti kenaikan harga bahan pakan global.
Seperti yang terjadi saat ini, walaupun sedang musim panen, namun pabrik pakan membeli jagung KA 15 persen masih di kisaran Rp5.800,00 hingga Rp5.900,00 per kilogram. Di sisi lain, harga gandum, yang dapat dipakai sebagai substitusi jagung untuk sumber energi, dan dapat juga digunakan untuk meningkatkan kualitas pellet, juga ikut terkerek naik mengikuti kenaikan harga bahan pakan global.
Saat ini harga gandum mengalami kenaikan, bahkan di atas harga jagung. Salah satu penyebab hal ini terjadi adalah adanya invasi Rusia ke Ukraina. Di mana, Ukraina merupakan eksportir gandum terbesar bagi Indonesia. Menurut penulis, kondisi kenaikan harga bahan pakan ini tidak hanya dihadapi oleh Indonesia, namun juga semua negara.
Dalam hal ini bukannya industri pakan tidak mau tahu dinamika perunggasan tanah air yang saat ini sedang terjadi, di mana beberapa waktu kebelakang harga telur dan livebird turun. Namun perlu diinformasikan bahwa sebagian anggota GPMT terpaksa tetap menaikan harga karena harga bahan pakan yang sudah naik saat ini.
Selain itu GPMT  juga telah menyampaikan himbauan kepada anggotanya untuk tidak menaikan harga pakan, namun sebagai asosiasi juga tidak dapat memaksa, karena setiap perusahaan mempunyai strategi dan marketing policy masing-masing. Sebaliknya GPMT juga berusaha menyampaikan kepada peternak dan pemerintah bahwa sangat terpaksa harus menaikan harga pakan sebagai imbas dari terjadinya lonjakan harga bahan pakan yang luar biasa.
Terakhir sebagai Ketua Umum GPMT, kami berharap ke depannya Indonesia mempunyai cadangan jagung pemerintah sebagaimana yang terjadi pada beras. Hal ini berfungsi sebagai buffer stock nasional yang akan menyerap jagung ketika panen dan merilis ketika off season.
Tidak seperti saat ini, ketika waktu panen pun harga jagung masih stabil tinggi.  Hal ini disebabkan stok jagung  di trader, peternak self mix dan feedmill  pun juga sudah sangat menipis, sehingga ketika panen, demand-nya tinggi. Sebagai contoh, di feedmill rata-rata stok jagung hanya tersisa 35 hingga 40 hari dari yang seharusnya sekitar 60 hari. Jadi, jagung cadangan pemerintah ini dapat berfungsi untuk stabilisasi harga dan untuk memberikan kepastian supply.
Selain itu, juga diusulkan menyangkut masalah atau isu perpajakan di mana sebaiknya pakan dan bahan pakan tidak dipungut pajak atau pajaknya ditanggung pemerintah. Hal ini karena bahan pakan dan pakan merupakan komponen strategis yang berhubungan langsung terhadap ketersediaan (supply) pangan nasional. *Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT)