Oleh : drh. Min Rahminiwati, MS, Ph.D*
Komponen obat-obatan merupakan salah satu hal yang tidak bisa diabaikan dalam proses budi daya perunggasan. Kendati secara persentase biaya tidak begitu besar apabila dibandingkan dengan pakan dan bibit, namun keberadaannya menjadi penting untuk menunjang optimalisasi performa produksi ternak. Terlebih dengan pelarangan penggunaan antibiotic growth promoter, mengharuskan peternak untuk mencari solusi pengganti agar produksinya tetap terkendali.

Dalam pengembangan produk herbal perunggasan, diperlukan kerja sama dan sinergi dari berbagai pihak. Penyusunan strategi yang jelas dan penyamaan tujuan bersama harus dilakukan agar bisa sistematis dan terarah.

Salah satu solusi yang banyak dilakukan oleh peternak adalah dengan pemanfaatan tanaman herbal. Penulis melihat bahwa eksplorasi penggunaan tanaman herbal untuk perunggasan dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan peningkatan. Hal ini merupakan suatu hal yang positif dalam pengembangan produk herbal di Indonesia.
Pasalnya, Indonesia mempunyai potensi besar dalam penyediaan produk herbal untuk kesehatan unggas, yang secara tidak langsung akan berdampak pada kesehatan manusia. Menurut Info Komoditas Tanaman Obat yang diterbitkan oleh Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan, Kementerian Perdagangan, Indonesia memiliki sekitar 30.000 spesies tanaman herbal yang tumbuh di Indonesia. Dari angka tersebut, sekitar 7.500 jenis tanaman telah diketahui berpotensi sebagai tanaman herbal.
Kendati demikian, penulis melihat bahwa pengembangan herbal perunggasan di Indonesia masih mengalami banyak kendala. Apabila dilihat dari pendaftaran obat-obat tradisional atau jamu untuk hewan, memang sudah banyak meningkat. Namun perkembangannya masih sebatas itu. Hal ini membuat daya saing produk herbal Indonesia akan kalah dengan obat-obat herbal impor dari luar negeri. Karena herbal dari luar negeri dihasilakan dari riset yang mendalam, standarisasi yang tinggi, serta diikuti dengan narasi dan promosi yang masif. Faktor-faktor ini akan membuat kepercayaan konsumen pun akan lebih baik.
Selain kekuatan dari sisi potensi, sebenarnya penelitian tanaman herbal untuk menunjang kesehatan unggas sudah banyak dilakukan. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa banyak penelitian yang hanya berakhir sebagai karya ilmiah semata. Berbeda dengan luar negeri. Dimana setiap penelitian tanaman herbalnya, bisa tuntas hingga menjadi sebuah produk yang siap diimplementasikan secara luas. Hal ini bisa terwujud karena kerjasama yang kuat dari berbagai pemangku kepentingan, baik dari pemerintah, swasta hingga peneliti.
Kemudian untuk di Indonesia sendiri, penulis melihat bahwa kolaborasi antar pemangku kepentingan ini belum berjalan dengan baik. Hal ini membuat pengembangan tanaman herbal masih berjalan masing-masing. Untuk itu, perlu adanya satu keinginan dan tujuan bersama untuk mencari solusi permasalahan yang ada. Apabila hal ini masih terjadi, maka pengembangan tanaman herbal pun tidak bisa optimal.
Disisi lain, keberlanjutan dari ketersediaan bahan baku tanaman herbal juga perlu diperhatikan. Terlebih jika tumbuhan herbal tersebut akan dikembangkan dalam skala industri. Dimana apabila telah ditemukan salah satu jenis tanaman yang efektif untuk khasiat tertentu dan dibutuhkan dalam jumlah yang banyak, maka keberadaan bahan bakunya perlu disiapkan dengan baik.
Pemerintah dalam hal ini harus turut serta dalam mendorong pengembangan tanaman herbal. Peneliti berjalan melakukan penelitian, masyarakat menanam tanaman herbal sebagai bahan baku, dan pengusaha obat hewan melakukan komersialisasinya. Dengan ini, maka pengembangan dapat berjalan secara holistik. Barulah produk herbal akan berkembang seperti negara maju dan potensi pasarnya akan terbuka luas.
Dengan dinamika yang terjadi, Asosiasi Farmakologi dan Farmasi Veteriner Indonesia (AFFAVETI) ingin fokus dalam menggalang kerjasama dari berbagai disiplin ilmu yang dimiliki oleh anggota, disamping terus mengembangkan keilmuan bidang farmakologi dan farmasi veteriner itu sendiri. Selain itu, juga terus berupaya untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak terkait dalam pengembangan tanaman herbal dan pengembangan segala sesuatu yang berkaitan dengan profesi AFFAVETI.
Sebagai Ketua AFFAVETI, penulis berharap supaya AFFAVETI dapat lebih berkontribusi dan memberikan sumbangsihnya dalam pengembangan obat hewan di Indonesia. Selain itu, juga diharapkan asosiasi ini bisa menjadi daya tarik sendiri bagi golongan muda yang akan meneruskan pengembangan farmakologi dan farmasi veteriner di Indonesia. *Ketua Umum Asosiasi Farmakologi dan Farmasi Veteriner Indonesia (AFFAVETI)
Tulisan ini merupakan potongan dari artikel rubrik Suara Asosiasi majalah Poultry Indonesia edisi Juni 2022. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silakan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153