Oleh: Tony Unandar*
Virus Gumboro melakukan penetrasi ke dalam tubuh ayam umumnya secara per-oral, yaitu melalui saluran cerna.  Walaupun secara penelitian port d’entry virus Gumboro bisa secara per-inhalasi yakni melalui sistem pernapasan, namun derajat infektifitas (kemampuan menginfeksi)-nya jauh lebih rendah dibandingkan dengan melalui saluran cerna.  Beberapa jam setelah virus melakukan penetrasi, virus dapat dideteksi dalam sel makrofag dan sel-sel limfosit sistem pencernaan seperti duodenum, jejunum, sekum dan jaringan hati. Segera setelah itu terjadi viremia fase pertama yang memungkinkan virus dapat mencapai target organ utama yaitu jaringan Bursa Fabricius untuk melakukan replikasi (perbanyakan partikel virus). Replikasi virus inilah yang menyebabkan perubahan/lesio jaringan Bursa Fabricius baik secara makroskopik maupun mikroskopik (Sharma JM et al., 2000; Ingrao F et al., 2013; Rehman ZU et al. 2016). 
Dengan demikian, derajat kerusakan secara masif pada sel limfosit-B sebenarnya dapat diketahui lewat adanya variasi lesio makroskopik dan mikroskopik jaringan Bursa Fabricius.  Walaupun kerusakan jaringan bursa dapat terjadi oleh beberapa penyebab lain (misalnya mikotoksikosis), namun Bursal Scoring secara makroskopik yang dikombinasi dengan secara mikroskopik bisa digunakan untuk menakar derajat keparahan infeksi yang terjadi (van den Berg TP et al., 2000; Sellaoui S et al., 2012).
Selanjutnya, beberapa jam setelah replikasi secara masif terjadi di jaringan Bursa Fabricius, viremia fase kedua terjadi dengan cepat dan sebagian virus akan bersembunyi di dalam limpa. Pada fase ini ayam akan mengalami depresi dan demam yang hebat diikuti dengan perdarahan pada beberapa organ tubuh seperti pada otot kerangka dan area perbatasan (junction) antara proventrikulus dan ventrikulus.  Intensitas dan kompleksitas lesio pada organ tubuh selanjutnya sangat tergantung pada strain dan keganasan virus yang menyerang, genotipe ayam, status kekebalan yang ada, umur ayam saat infeksi, keberadaan faktor stres lain serta kejadian infeksi lain yang menyertai kasus Gumboro tersebut (Sharma JM et al., 2000; Hoerr F, 2010).
Ditinjau dari dinamika virus Gumboro di dalam tubuh ayam, maka ada beberapa makna penting yang bisa dikaitkan dengan kondisi realistis lapangan dalam konteks strategi perlindungan (protection), yaitu:
Pertama, pada DOC, keberadaan antibodi induk terhadap penyakit Gumboro merupakan kondisi awal yang sangat krusial untuk mencegah kerusakan Bursa Fabricius secara masif pada ayam umur sampai dengan 3 minggu. Hal ini penting, karena keberadaan antibodi induk yang cukup (Biochek rata-rata 5000), dapat mencegah atau menghambat virus IBD lapangan yang menginfeksi untuk mencapai jaringan Bursa Fabricius, sehingga kerusakan bursa (sel limfosit-B) dan replikasi virus dapat dicegah, dan ujung-ujungnya adalah efek imunosupresi serta “viral shedding” dapat dicegah sedini mungkin.  
Pada ayam di bawah umur 3 minggu, sel-sel limfosit-B (bursal origin B-cells) belum optimal bermigrasi ke jaringan limfoit sekunder, sehingga jika ada invasi virus IBD lapangan, maka dampaknya adalah efek imunosupresi yang ditimbulkannya sangat kuat (Hoerr FJ, 2010; Rehman ZU et al., 2016). 
Kalau mengacu pada fakta lapangan, ada banyak kasus Gumboro terjadi secara dini akibat baik terkait rendahnya titer antibodi induk dan atau tidak seragamnya titer antibodi dari induk dengan alasan yang sangat beragam.  Kondisi seperti ini tentu dapat mengakibatkan infeksi dini oleh virus Gumboro lapangan yang memang endemik di kandang/farm tersebut dan ujung-ujungnya adalah tantangan virus dalam kandang akan meningkat karena adanya “viral shedding” dari ayam yang terinfeksi.  Dengan demikian, keberadaan antibodi induk yang cukup tinggi dan seragam pada DOC merupakan bagian dari strategi perlindungan (protection) yang penting pada awal kehidupan ayam.
Baca Juga: Prevalensi Penyakit Gumboro di Indonesia dan Pemilihan Jenis Vaksin Gumboro yang Tepat Pada Ayam Petelur
Kedua, pada penelitian lanjut terkait dengan uji mikrobiologi molekuler, yaitu dengan teknik RT-PCR, keberadaan asal virus Gumboro dalam jaringan Bursa Fabricius dapat dibedakan dengan mudah, apakah virus tersebut berasal dari lapangan atau dari vaksin aktif yang diberikan.  Dilain pihak, juga sudah diketahui bahwa jika jaringan Bursa Fabricius yang sudah ditempati (okupasi) oleh virus Gumboro dari vaksin aktif, maka kecil sekali peluangnya untuk dapat diinfeksi virus Gumboro dari lapangan, demikian juga sebaliknya. 
Juga perlu diingat, virus IBD lapangan sudah dapat menginfeksi ayam dan menyebar dalam tubuh ayam pada level tertentu dari antibodi induk sebelum mencapai nol. Ini berarti, untuk kekebalan flok/populasi, masa transisi pada strategi perlindungan (protection) yaitu dari antibodi induk (kekebalan pasif) ke antibodi hasil vaksinasi (kekebalan aktif) menjadi sangatlah kritis, karena dapat mengurangi peluang virus IBD lapangan yang endemik menyerang ayam pada fase transisi tersebut (Klipper E et al., 2003; Mahgoub HA, 2012). 
Problem yang sering dihadapi seorang praktisi lapangan adalah jika dalam populasi DOC ditemukan level MDA yang sangat variatif, maka disinilah letak kesulitan menentukan kapan vaksinasi dengan vaksin aktif dengan tepat dilakukan.  Jika vaksinasi dengan vaksin aktif diberikan terlalu lambat (karena mempertimbangkan DOC dengan MDA yang tinggi), maka DOC dengan MDA yang rendah pasti dengan mudah mengalami infeksi oleh virus Gumboro lapangan dan menjadi amplifier birds dalam populasi (Ingrao F et al., 2013; Rehman ZU et al., 2016). 
Sebaliknya, jika vaksinasi dilakukan terlalu cepat (karena mempertimbangkan DOC dengan MDA yang rendah), maka akan terjadi reaksi Arthus (reaksi hipersensitifitas tipe 3) pada DOC dengan MDA yang tinggi (Tizard IR, 2013).  Pada kejadian reaksi Arthus, secara sekilas ayam menunjukkan gejala-gejala seperti kena IBD yang ganas, tapi bedanya adalah tidak menunjukkan lesio patologi-anatomis yang signifikan pada Bursa Fabricius.  Teknologi baru dalam sediaan vaksin aktif yaitu dalam bentuk sediaan immune complex vaccines dapat mengatasi problem MDA yang sangat variatif dalam populasi DOC yang ada, karena vaksin tetap dapat diberikan pada level MDA yang tinggi (Muller H et al., 2012; Dey S et al. 2019).
Hal inilah yang bisa menerangkan mengapa vaksin IBD aktif dalam bentuk sediaan “immune complex” memberikan perlindungan flok/populasi yang lebih konsisten dibandingkan vaksin IBD aktif dalam bentuk sediaan konvensional yang berisi virus IBD aktif yang sudah diatenuasi, terutama pada populasi DOC dengan titer antibodi induk yang sangat beragam.  Dengan kata lain, vaksin Gumboro aktif dalam bentuk sediaan immune complex dapat mengurangi atau bahkan mencegah peluang virus Gumboro lapangan menginfeksi ayam serta mencegah/menguranginya untuk mencapai jaringan Bursa Fabricius, mencegah/mengurangi peluang terjadinya replikasi dan akhirnya tentu saja mengurangi atau bahkan mencegah “viral shedding” dari virus IBD lapangan (Jeurissen SHM et al., 1998; Haddad EE et al., 2016; Wen YM et al., 2016; Sedeik ME et al., 2019).  Ini berarti strategi pencegahan (prevention) lanjut yang mengiringi strategi perlindungan (protection) dan perbaikan performa ayam akan semakin nyata di lapangan. *Private Poultry Farm Consultant-Jakarta
Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel Majalah Poultry Indonesia edisi Maret 2021 dengan judul ”Strategi Anyar Melawan Gumboro”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153