Webinar Nasional Pengembangan Bahan Pakan Lokal Subtitusi Impor
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Direktorat Pakan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, Republik Indonesia menggelar webinar Nasional bertemakan “Pengembangan Bahan Pakan Lokal Subtitusi Impor” melalui aplikasi Zoom meeting, Kamis (10/2).
Acara ini dihadiri oleh drh. Agus Sunanto, MP selaku Direktur Pakan Ditjen PKH. Pada pemaparannya, Agus menyampaikan mengenai isu terkini mengenai pakan secara global yang meliputi kenaikan harga bahan pakan lokal, berkurangnya armada transportasi internasional, kenaikan cost container, kekhawatiran akan negara-negara eksportir yang akan mengamankan pangan dan pakan untuk negaranya masing-masing, dan masih adanya komponen bahan pakan yang bergantung dengan impor.
Baca juga : USSEC Gelar Webinar Bahas Pasokan, Kualitas, dan Transportasi Kedelai AS
Selain itu, Agus juga memaparkan arah kebijakan pakan Nasional yang meliputi ketersediaan pakan (feed security) dan keamanan pakan (feed safety). Kedua poin ini meliputi pengembangan hijauan pakan ternak dengan meningkatkan pemanfaatan biomassa hasil samping pertanian/perkebunan/agroindustri; pengembangan pakan olahan atau bahan pakan dengan meningkatkan produksi dan usaha pakan olahan unggas berbasis sumber daya lokal; hingga pengembangan mutu dan keamanan pakan dengan mengembangkan regulasi pakan dan meningkatkan pengawasan mutu melalui pengembangan laboratorium uji mutu pakan terakreditasi.
“Mari kita kembangkan potensi yang ada di alam kita. Pemanfaatan maggot dan kacang koro pedang berpotensi digunakan sebagai bahan pakan lokal sumber protein. Dalam optimalisasi potensinya, secara ekonomis perlu didukung dari skala produksi, stabilitas mutu, kontinuitas, dan daya saing harga dengan bahan pakan sejenis. Untuk mengurus pakan, tidak boleh egois. Harus kerja sama antara pemerintah, pelaku usaha dan swasta, serta masyarakat,” terangnya.
Pemaparan dilanjutkan oleh Ir. Rahayu Dwikorawati, M.M selaku Kepala Subdit Aneka Kacang dan Umbi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan turut hadir pada acara ini dan memaparkan mengenai arah kebijakan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, seperti menjaga ketersediaan pangan strategis Nasional, mengembangkan kawasan tanaman pangan berbasis korporasi petani, peningkatan ekspor subsektor tanaman pangan, dan pengembangan Food Estate.
Selai itu, Rahayu juga turut menyampaikan arah kebijakan Direktorat Aneka Kacang dan Umbi berupa pengembangan agrobisnis AKABI, mendukung gerakan peningkatan diversiikasi pangan, serta perbaikan tataniaga AKABI yang kondusif bagi petani. Kedua kebijakan ini dilakukan dalam rangka mendukung pembangunan Nasional.
Sementara itu, dari kaca mata peneliti, turut hadir Prof. Dr. Ir. Nahrowi, M.Sc, IPU selaku Guru Besar IPB University. Menurutnya, pada pakan ternak, baik unggas, ikan, maupun babi, bahan pakan yang masih sulit untuk dicari alternatifnya adalah sumber protein, baik nabati maupun hewani. Mengenai penggunaan kacang koro pedang sebagai subtisusi bahan pakan impor, Nahrowi menerangkan bahwa bahan ini sangat jarang dipakai. Dibandingkan dengan bungkil kedelai, protein kasar dari koro pedang 20% lebih rendah. Meski begitu, kelebihan dari kacang ini adalah nilai patinya yang mencapai 3 kali lipat lebih tinggi dibanding bungkil kedelai.
Sedangkan untuk maggot sendiri, Nahrowi mengatakan bahwa dari segi kandungan nutrisi sudah memenuhi syarat sebagai bahan pakan andalan sumber protein di Indonesia, namun untuk saat ini permasalahannya masih berkutat pada kemampuan Indonesia untuk memproduksi maggot dan koro pedang dengan jumlah kebutuhan Nasional.
Lebih lanjut menurut drh. Desianto Budi Utomo, Ph.D selaku Ketua Umum GPMT yang juga turut hadir untuk menyampaikan peluang dan tantangan pemanfaatan bahan pakan lokal, seperti kacang koro pedang dan maggot, untuk industri pakan. Tantangan penggunaan bahan baku lokal secara umum adalah kualitas yang tidak stabil, produksi yang masih skala kecil, harga yang relatif mahal sehingga kurang kompoetitif, serta keberlanjutan ketersediaannya.
Harga kacang koro pedang relatif lebih mahal jika dibandingan dengan Soy Bean Meal (SBM), sehingga faktor ini menjadikannya sulit dilakukan (feasible) dalam hal Least Cost Formulation.  Maggot yang merupakan penghasil protein hewani yang tinggi dengan kandungan protein sekitar 41 hingga 42 persen, juga berpotensi untuk digunakan sebagai alternatif bahan pakan ternak. “Selain itu, maggot juga mudah diproduksi dan kualitasnya sebanding dengan Meat Bone Meal (MBM). Namun, sama seperti kacang koro pedang, maggot terhitung mahal dan tidak feasible dalam hal Least Cost Formulation,” jelas Desianto.
Desianto menyampaikan bahwa dalam penggunaan alternatif bahan pakan lokal, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, seperti palatabilitas, kecernaan, dan ketidakseimbangan nutrisi. Berbagai inovasi teknologi juga perlu dilakukan, seperti pre-treatment bahan baku untuk mengatasi permasalahan Anti Nutritional Factor (ANF).”Maka dari itu, diperlukan pengetahuan yang lebih mengenai bahan baku, formulasi pakan, kebuuhan nutrien, dan feed processing,”teran Desianto.
Turut hadir pula Dr. Ir. Agus Somamihardja, M.M selaku Ketua Koperasi BUMR Paramasera. Pada paparannya, Agus menyampaikan mengenai pengembangan kacang koro pedang sebagai alternatif bahan pakan sumber protein. Selain mengembangkan bahan pakan lokal, pengembangan kacang koro pedang juga menawarkan beberapa keuntungan, seperti fiksasi nitrogen, perbaikan lahan, dan kontrol erosi, yang kemudian akan berpengaruh pada efisiensi produksi.
Menurutnya, pakan masih menjadi sumber terbesar dari biaya usaha ternak di Indonesia, sehingga terlepas dari beberapa aset agronomis yang ada, kacang koro pedang juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Namun, tentu masih ada tantangan yang dihadapi, seperti biaya yang tinggi akibat kurangnya ketersediaan.
Andriyani Prasetiyowati selaku Research & Development dari PT Bio Cycle Indonesia memaparkan materinya mengenai pengembangan maggot sebagai alternatif bahan pakan sumber protein. Produk-produk, seperti larva yang dikeringan (dried larva) dengan kandungan protein 45.22 persen dan total lemak 20.68%, serta produk nutrisi meal dengan protein 54.81% dan total lemak 9.54%, menjadi produk andalan dari perusahaan ini.
“Maggot berpotensi sebagai pakan pelengkap pada pakan karena palatabilitas & kecernaannya yang tinggi, serta memiliki beberapa functional ingredients. Namun, dari segi harga, sepertinya masih belum bisa untuk dijadikan sumber pengganti protein, sehingga masih perlu dikembangkan lebih lanjut agar dapat digunakan sebagai bahan pakan lokal pengganti sumber protein hewani dan bisa bersaing dengan bahan pakan lainnya,” pungkasnya.