Oleh : drh. Esti Dhamayanti*
Acanthocephala di Yogyakarta ditemukan secara tidak sengaja oleh akademisi dari Departemen Parasitologi, FKH UGM pada awal tahun 2000-an, kemudian dipublikasikan pada tahun 2013 dan 2015 dalam bentuk studi morfologi dan molekuler. Selain di Yogyakarta, acanthocephaliasis juga ditemukan di beberapa daerah di Jawa Tengah, seperti Magelang, Klaten dan Solo. Acanthocephala juga pernah ditemukan di Jawa Barat berdasarkan keterangan praktisi perunggasan, namun belum pernah diidentifikasi dan dipublikasikan.
Spesies Acanthocephala yang ditemukan di Yogyakarta dan Jawa Tengah diidentifikasi sebagai Mediorhynchus gallinarum dan memiliki level variasi genetik yang sangat rendah berdasarkan pengujian secara molekuler (Widayati, 2015; Rodríguez et al., 2022).
Secara morfologi, M. gallinarum yang ditemukan di Jawa Tengah dan Yogyakarta tidak memiliki pseudo-segmentasi, sementara M. africanus yang ditemukan di Afrika Selatan memiliki pseudo-segmentasi (Amin et al., 2013). Ada atau tidaknya pseudo-segmentasi ini dapat menjadi pembeda antara M. gallinarum dan M. africanus.
Kunci identifikasi lainnya pada M. gallinarum adalah probosisnya yang membulat atau berbentuk cone pada bagian anterior dan posterior dan total kait probosis dengan jumlah 80–90 (Schmidt dan Kuntz, 1977; Monks, 2001). Ukuran cacing jantan lebih kecil dibandingkan cacing betina. Panjang trunk jantan sekitar 5–90 mm, sementara lebarnya sekitar 0,5–3 mm, sedangkan panjang trunk betina 25–160 mm dan lebarnya 0,7–4,2 mm (Widayati, 2015).
Kemudian M.gallinarum dapat ditemukan pada Ayam berumur 50 minggu. Ayam yang terinfeksi oleh M. gallinarum menunjukkan gejala klinis berupa terlihat lemas, penurunan nafsu makan, penurunan berat badan, penurunan body weight gain, diare, penurunan produksi telur sampai 10%, dan ayam kesulitan berdiri maupun berjalan. Keparahan infeksi tergantung oleh keparahan infeksi.
Ayam yang terinfeksi ketika dilakukan nekropsi, cacing dewasa ditemukan pada permukaan usus halus bagian posterior, namun temuan pada ayam mutiara di Afrika Selatan, Mediorhynchus juga ditemukan pada usus besar. Gambaran patologi anatomi umum pada usus akibat infeksi cacing yaitu terbentuknya nodul berwarna putih dan petekie pada titik melekatnya cacing. Lesi tersebut disebabkan oleh probosis M. gallinarum yang menembus mukosa usus (Friend et al., 1999; Junker dan Boomker, 2006; Amin et al., 2013; Prastowo et al., 2015).
Penelusuran terhadap terjadinya infeksi Acanthocephala dapat dilakukan dengan mengetahui siklus hidupnya. Spesies Acanthocephala secara garis besar memiliki siklus hidup yang tidak langsung. Cacing ini, dengan kata lain, membutuhkan satu inang intermediet untuk melengkapi siklus hidupnya. Inang intermediet umumnya merupakan hewan yang disukai oleh inang definitif. Ayam dapat terinfeksi M. gallinarum ketika memakan kecoa dan rayap (Rodríguez et al., 2022). Kaki seribu, kelabang, dan kumbang diketahui juga dapat menjadi inang intermediet Acanthocephala (Moore, 1962).
Telur dihasilkan oleh cacing betina yang telah melakukan perkawinan dengan cacing jantan. Telur infektif atau yang terdapat acanthor kemudian keluar dari tubuh inang definitif bersama feses. Telur yang termakan oleh inang intermediet akan melepaskan acanthor dan berkembang menjadi fase infektif cacing muda atau disebut juga cystancath yang berkembang di inang intermediet. Inang intermediet yang dimakan oleh vertebrata yang tidak cocok menjadi inang definitif.
Acanthocephala akan membentuk kista dan menghentikan perkembangannya (cystocanth). Vertebrata tersebut akan menjadi inang paratenik bagi Acanthocephala. Cystancath dan cystocanth yang masuk melalui inang intermediet maupun inang paratenik ke dalam tubuh inang definitif akan menempel di usus dan berkembang menjadi cacing dewasa (Friend et al., 1999).
Pengobatan untuk Acanthocephala pada unggas menggunakan sediaan antelmintik dan anti parasit cukup sulit atau kurang efektif. Berdasarkan keterangan di lapang, penggunaan sediaan antelmintik untuk pengobatan infeksi Acanthocephala yang cukup efektif yaitu Fenbendazole double dosis dalam air minum. Oleh karena itu, kontrol terhadap terjadinya penyakit dapat dilakukan dengan memutus rantai infeksi, dalam hal ini memberantas serangga yang menjadi inang intermediet acanthocephala.
Pencegahan terhadap acanthocephaliasis juga dapat dilakukan dengan mengeliminasi faktor yang dapat mendatangkan serangga, yaitu dengan menjaga kebersihan kandang dan melakukan pembuangan manur secara teratur. Berdasarkan temuan di lapang, kandang tempat ditemukan acanthocephala memiliki manajemen pembuangan manur yang tidak teratur dan maupun tidak memberikan sediaan antelmintik secara berkala (Widayati, 2015).
Penelitian terhadap Acanthocephala atau M. gallinarum di Indonesia masih sangat sedikit dan perlu penelitian lebih lanjut untuk mengidentifikasi Acanthocephala di beberapa daerah di Indonesia dan studi protein spesifik yang dapat menjadi target obat, antigen vaksin, atau immunodiagnosis agar kasus acanthocephaliasis dapat ditangani dengan baik. Belum efektifnya sediaan antelmintik atau antiparasit untuk mengeliminasi M. gallinarum akan membawa masalah bagi peternak karena dapat menimbulkan peningkatan input produksi, sehingga proses produksi menjadi tidak efisien. *Mahasiswa Magister Sains Veteriner, minat Penyakit dan Manajemen Kesehatan Unggas, FKH UGM
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Kesehatan pada Majalah Poultry Indonesia edisi November 2022. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com
Menyukai ini:
Suka Memuat...