Dibesarkan dari seorang ayah yang berprofesi sebagai tentara, membuat Dr. Ir. Osfar Sjofjan, M.Sc.,IPU.,ASEAN.Eng terbiasa disiplin sejak kecil. Osfar terlahir sebagai keturunan Padang dari garis ayahnya, sedangkan Jawa dari garis ibunya. Osfar kecil harus rela hidup berpindah-pindah mengikuti tempat bertugas ayahnya. Anak kelima dari delapan bersaudara ini dibesarkan oleh orang tua yang sangat fasih berbahasa Belanda.

Hidup itu harus seperti akar dan air. Akar sebagai media di mana bebatuan saja bisa tumbuh, lalu menjadi air di mana air merupakan sumber kehidupan untuk orang-orang di sekitarnya.

Di dalam keluarganya, setiap anak diberikan tanggung jawab untuk merawat peliharaan di rumah seperti ikan, bermacam-macam burung, hingga tanaman hias. Aktivitas tersebut baginya seolah kode alam bahwa ia nantinya akan berkecimpung di dunia peternakan. Hal itu karena waktu itu ia diberi tanggung jawab untuk memelihara berbagai unggas seperti ayam kampung, itik, hingga angsa. Sampai akhirnya takdir membawanya untuk kuliah di Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, Bandung.
Sejak duduk dibangku SMP, Osfar merupakan anak yang pintar dan sangat berprestasi, bahkan ia bisa memilih berbagai universitas terkemuka tanpa menggunakan tes selepas lulus SMA. Prestasinya tersebut juga berlanjut hingga masa-masa kuliah di Universitas Padjajaran. Osfar Sjofjan lulus lebih cepat bersama lima orang temannya pada tahun 1985. Osfar yang saat ini menjabat sebagai Ketua Umum Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia, memang sudah tertarik dengan dunia nutrisi pakan ternak sejak duduk di bangku kuliah dan memang dari 4 jurusan yang ada, nilai ilmu nutrisi pakannya memang yang paling bagus.
Sebelum menjadi dosen seperti sekarang, Osfar sempat malang melintang di berbagai perusahaan. Ia pernah menjadi konsultan di PT Multi Dharma Jakarta, Bandung Engineering International, dan PT Samfico Adhi Abbatoir, Bekasi. Sampai akhirnya pada tahun 1988, ia tercatat sebagai pegawai negeri di Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya, Malang.
Baca Juga: Pengolahan Biji Kedelai untuk Bahan Pakan
Riwayat pendidikannya terbilang sangat berkesan. Osfar bercerita, setelah menjadi dosen, dirinya melamar untuk melanjutkan kuliah di Selandia Baru dan setelah dinyatakan lulus seleksi, ia tidak jadi berangkat karena terkendala biaya. Hal itu tidak mematahkan semangat untuk bisa kuliah di luar negeri. Osfar kemudian mencoba peruntungan mengikuti seleksi dan lulus untuk kuliah di Belanda, namun lagi-lagi kemalangan kembali menghampirinya.
Tak berhenti sampai di situ, perjalanan hidupnya memang sedikit unik. Selang setahun dari kepulangannya, Osfar bisa melanjutkan kembali untuk kuliah di Belanda. Pria murah senyum ini akhirnya bisa menamatkan pendidikan masternya pada tahun 1995 dalam bidang Poultry Feed Biotechnology, Department of Animal Science, Wageningen Agricultural University Netherlands.
Perjalanan Osfar dalam menamatkan studi doktoralnya juga terbilang unik. Ia yang kala itu sudah lulus seleksi untuk berkuliah di Gottingen University, Jerman, akhirnya harus rela untuk tidak dilanjut karena kondisi Indonesia pada tahun 1997-1998 yang tidak memungkinkan. Pada akhirnya ia menamatkan pendidikan doktoralnya dalam bidang Ilmu Ternak di Universitas Padjadjaran pada tahun 2003.
Perkembangan nutrisi pakan unggas
Menurut Osfar Sjofjan yang sekarang menjabat sebagai Ketua Umum Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia (AINI) periode 2021-2024 ini, nutrisi unggas menjadi sektor yang perkembangannya sudah sangat pesat. Terlebih dalam bidang teknologi nutrisinya, saat ini banyak orang sudah memikirkan bagaimana memberi makan sel, bukan lagi memikirkan bagaimana memberi makan ternaknya. Kemajuan ilmu bidang nutrisi saat ini sudah berbicara mengenai nutrigenomik dan nutrisi di tingkat seluler.
Berbicara tentang pakan dan bahan pakan, Osfar mengimbau kepada pemerintah untuk bisa mengeksplorasi bahan bakan lokal yang ada di negeri sendiri. “Kita tahu bahwa komponen terbesar pakan unggas adalah jagung yang jumlahnya sekitar 50-60% dan perusahaan pakan sendiri sebenarnya lebih senang dengan jagung lokal, hanya yang jadi masalah adalah kontinuitasnya. Jadi saran saya waktu panen raya, pemerintah ini perlu menyiapkan corn dryer silo untuk menyimpan jagung. Hal ini sudah dilakukan negara lain seperti Amerika. Kedua kita perlu memanfaatkan bahan pakan yang ada yaitu bungkil kelapa sawit. Kita ini merupakan penghasil bungkil kelapa sawit terbesar di dunia, tetapi bungkil kelapa sawit ini tidak pernah digunakan di dalam negeri,” ungkap Osfar
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi April 2021 dengan judul “Dr. Ir. Osfar Sjofjan, M.Sc.,IPU.,ASEAN.Eng – Terbiasa Berbagi Ilmu Sedari Dulu”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153