Terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk. Kalimat yang diucapkan oleh Tan Malaka ini, seolah mengingatkan kepada siapa pun untuk tidak pernah menyerah dalam perjalanan mencapai tujuan. Sebagai manusia, tentu tidak selalu memiliki perjalanan hidup yang lurus, tanpa ada belokan dan tekanan. Namun setiap diri masing-masing, mempunyai kesempatan untuk memilih alur kehidupan yang akan dijalani. Hal tersebut telah dibuktikan oleh Eko Prasetio, sosok tangguh yang berjuang dari nol dan selalu ingin memberikan manfaat bagi banyak orang.

Kegigihan dan ketekunan merupakan kunci dari kesuksesan, dan sebaik-baik orang sukses, adalah orang yang menyebarkan manfaat untuk sekitarnya

Besar dari keluarga yang tergolong kurang mampu, tidak pernah menyurutkan semangat dan usaha Eko untuk meraih citacitanya. Terlahir dari ayah dan ibu yang berprofesi sebagai guru SD membuat masa kecilnya menyisakan sedikit cerita. Tekanan hidup mau tidak mau harus dilaluinya sejak belia, saat ia masih berumur 3 bulan ia harus merelakan kepergian ibunya untuk selamanya. Alhasil Eko yang lahir dan tumbuh di Cianjur, harus dibawa ke Yogyakarta dan diasuh oleh keluarga Ibunya.
“Karena memang berasal dari keluarga biasa, akhirnya keluarga saling gotong royong, dan sampai SD saya hidup bersama mereka,” ceritanya kepada Poultry Indonesia melalui sambungan telepon, Selasa (17/8).
Eko kecil tumbuh di Yogyakarta bersama keluarga ibunya beserta neneknya yang berprofesi sebagai seorang penjual jamu di sebuah pelataran toko. Ia pun sering diajak neneknya untuk berjualan jamu. Kemudian, dengan segala keterbatasan dan tidak diasuh oleh keluarga yang utuh, sedari kecil pria keturunan Jawa Ambon ini tumbuh menjadi sosok yang tergolong bandel. Seakan bernostalgia dirinya bercerita bahwa saat kecil pernah kesurupan di sendang di desanya.
“Di Desa saya dulu ada sendang, semacam penampungan mata air yang mengalir ke sawah, dan disitu ada banyak ikan. Karena memang bandel saya berinisiatif untuk meracun ikan tersebut dengan putas. Namun, tidak ada satu pun ikan yang mati, malah sorenya saya kesurupan. Memang ceritanya daerah tersebut angker, mungkin para penunggunya tidak terima dengan perbuatan saya,” ceritanya sambil bercanda.
Berlikunya kehidupan masa kecil Eko, membuat dirinya belum bisa membaca hingga kelas 3 SD. Besar dan diasuh oleh seorang nenek yang kurang paham baca tulis, menjadi salah satu faktor hal tersebut bisa terjadi. Hingga akhirnya, ia diasuh oleh tantenya yang lebih mengerti terkait baca tulis.
“Masa kecil saya memang berliku. Sampai ketika kelas 6 SD saya mulai sadar, dengan segala keterbatasan dan kondisi yang berbeda, saya harus berjuang lebih keras dari yang lain. Kemudian sewaktu SMP saya diasuh dan dibesarkan di salah satu yayasan Muhammadiyah di Yogyakarta. Disana kemudian saya tinggal di lingkungan yang berbeda seperti sebelumnya, disini saya semakin sadar, saya menjadi rajin belajar dan saya mempunyai tekad untuk bisa mengubah nasib saya, yang pada waktu itu bisa dikatakan kurang beruntung,” ujar Eko.
Titik balik kehidupan
Lebih lanjut, pria kelahiran Cianjur, 6 Maret 1980 ini mengungkapkan bahwa lingkungan yayasan seakan menjadi titik balik kehidupannya, sehingga hidupnya menjadi lebih terarah dan mempunyai cita-cita yang jelas.
“Dibangku SMP saya dijadikan anak asuh yayasan bersama Bapak Haji Maryanto, dan disini saya dibiayai sekolah dari SMP hingga SMA. Lingkungan yayasan inilah yang telah merubah pola pikir, watak dan perilaku saya. Di yayasan, saya diarahkan dan diberi pemahaman, untuk bisa menjadi anak yang berguna, berprestasi serta bisa bersaing dengan yang lain,” ujarnya.
Mulai dari sini, Eko tumbuh menjadi pribadi yang kuat, disana ia pun bisa membuktikan bahwa ia mampu mendapatkan beasiswa sejak SMP hingga kuliah. Untuk mendapatkan beasiswa ini pun juga tidak mudah, ia harus berprestasi dan harus selalu berada di rangking 5 besar sekolah. Setelahnya ia pun bisa membuktikan dengan selalu menduduki ranking 3 besar saat SMP hingga SMA. Tak sampai disitu, pribadi tangguh juga ditunjukkan Eko ketika mengenyam bangku kuliah di Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Gadjah Mada. Kala itu, ia juga mendapatkan beasiswa hingga lulus karena selalu memiliki IPK yang bagus di kampus.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi September 2021 dengan judul “Eko Prasetio, Bermanfaat Bagi Sesama”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153