POULTRYINDONESIA, Jakarta – Momentum hari kemerdekaan yang jatuh pada tanggal 17 Agustus, membawa semangat tersendiri bagi seluruh rakyat Indonesia. Tak terkecuali bagi para insan perunggasan nasional. Sederet strategi dan harapan pun membumbung tinggi, demi kondisi perunggasan yang lebih baik. Hal ini mencuat dalam sebuah webinar dengan tema “Memaknai Kemerdekaan Perunggasan Indonesia” yang terselenggara secara daring melalui aplikasi Zoom, Jumat (26/8).  
Dalam pemaparannya, Singgih Januratmoko, selaku Anggota DPR RI Komisi VI menyampaikan bahwa bagi peternak, kemerdekaan dimaknai sebagai kondisi kenyamanan dan keleluasaan dalam menjalankan usaha ternaknya, sehingga menjadi sumber pendapatan dan kesejahteraan. Menurutnya hal ini terkesan sederhana, namun faktanya sampai saat ini belum bisa dirasakan secara optimal.
“Saya melihat bahwa kondisi saat ini kita belum merdeka seutuhnya, karena masih terjadi beberapa masalah yang harus diselesaikan dari sudut kandang peternak. Seperti halnya terkait perizinan berusaha yang perlu dipermudah dan premanisme di lingkungan kandang yang seharusnya sudah tidak ada lagi. Selain itu, regulasi saat ini masih belum bisa melindungi peternak UMKM, karena belum ada Peraturan Pemerintah untuk mengatur budi daya dan perbibitan untuk menjabarkan Undang – Undang yang ada.  Hal ini merupakan hal yang terus kami upayakan dan selalu kita harapkan,” jelas pria yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Pinsar Indonesia ini.
Dirinya melanjutkan bahwa sebagian komponen produksi perunggasan nasional masih harus dicukupi dari impor, seperti bahan pakan. Hal ini membuat harga pakan di Indonesia menjadi mahal. Kemudian dari sisi hilir, produk perunggasan mayoritas diperjualbelikan dalam bentuk segar (livebird dan telur segar), sehingga sangat rentan terjadinya fluktuasi harga.
Baca Juga: UGM Kembali Gelar Kuliah Gratis di Fakultas Peternakan
“Saya berharap pemerintah daerah dan aparat penegak hukum bisa menciptakan lingkungan yang kondusif dan rasa aman dalam berusaha bagi peternak. Selain itu, adanya regulasi yang mengatur persaingan usaha yang adil sangat dibutuhkan, di mana adanya pasar yang berbeda antara pelaku usaha besar dan kecil. Kemudian dari segi ekonomi, diharapkan pemerintah juga dapat mengupayakan pemenuhan bahan pakan berbasis lokal dan mengurangi proporsi impor, sehingga daya saing bisa terwujud,” ujarnya.
Dalam kesempatan ini, Singgih juga menghimbau bagi para peternak untuk terus meningkatkan efisiensi usahanya serta melakukan inovasi manajemen pemeliharaan, salah satunya dengan penerapan sistem closed house. Kemudian dirinya melanjutkan, bagi para peternak yang telah mampu perlu untuk melakukan ekspansi bisnis ke arah hilirisasi seperti pemotongan dan produksi olahan daging dan telur ayam. Untuk strategi pemasaran, peternak diharapkan bisa memanfaatkan teknologi dan sosial media yang ada.
Sementara itu, Yudianto Yosgiarso, Ketua Presidium Pinsar Petelur Nasional (PPN) banyak menjelaskan tentang dinamika bisnis layer nasional. Menurutnya saat ini, para peternak dihadapkan kepada beberapa tantangan, seperti akses mendapatkan jagung sebagai bahan pakan utama, data populasi, regulasi yang kuat dan berkeadilan serta tantangan eksternal yaitu krisis energi dan ketergantungan bahan pakan impor.
“Kita bersyukur tahun ini jagung nasional bisa tercukupi. Namun yang harus diperhatikan adalah pendistribusiannya. Di mana yang kami cermati saat ini distribusi jagung mengakibatkan persaingan yang sangat tidak sehat, karena sering kali peternak rakyat harus bersaing dengan pedagang besar dan feedmill yang pada akhirnya harga jagung ini akan melambung tinggi. Kami berharap kepada pemerintah bisa turut membantu mengatur prose pendistribusian ini,” harap Yudi.
Yudi melanjutkan selain persoalan jagung, pendataan populasi menjadi tantangan masih terjadi di bisnis layer nasional. Persoalan data ini seakan menjadi persoalan klasik yang telah lama terjadi. Dirinya berharap, pendataan ini bisa berjalan dengan baik dan tepat sehingga pedoman untuk menentukan sebuah arah kebijakan bisa sesuai. Selanjutnya dirinya juga bercita-cita adanya regulasi yang berkekuatan hukum dan berkeadilan. Menurutnya, saat ini regulasi yang ada belum mempunyai kekuatan hukum yang diharapkan oleh peternak.
“Dari eksternal, saya pikir krisis energi yang saat ini terjadi dan ketergantungan perunggasan nasional akan bahan pakan impor menjadi sebuah tantangan tersendiri. Seperti halnya Pak Singgih, kami sangat mengharapkan adanya solusi akan hal ini,” terangnya.
Dengan tantangan yang begitu luas, Yudi mengajak para peternak layer untuk bisa melepaskan sifat egoisnya dengan bersatu dalam suatu wadah koperasi. Dengan berkembangnya koperasi, kedepan juga akan diarahkan menuju model industri horizontal. Tentu hal ini juga akan bekerja sama dengan semua pihak, termasuk akademisi dan pemerintah.