Rapat koordinasi peternak broiler mandiri yang diselenggarakan oleh GOPAN dan PINSAR
POULTRYINDONESIA, Bogor — Harga jagung yang melambung tinggi mencekik para peternak rakyat. Kejadian penangkapan peternak yang membentangkan poster keluhannya mengenai harga jagung yang mahal saat kunjungan Presiden ke Blitar merupakan pemantik GOPAN dan PINSAR untuk melakukan Rapat Koordinasi Peternak Mandiri Se-Jawa. Kegiatan ini dilakukan dalam rangka menentukan tindak lanjut dari Arahan Presiden Jokowi pada pertemuan dengan yang dilakukan pada tanggal 15 September lalu di Istana Negara. Rapat koordinasi peternak mandiri se-Jawa ini dihadiri oleh tidak kurang dari 20 peternak mandiri dan dilaksanakan di IPB International Convention Center, Botani Square, Kota Bogor, Selasa (21/9).
Baca juga : Soroti Kebijakan Cutting dan Apkir Dini PATAKA Gelar Diskusi Virtual
Dalam rapat koordinasi ini, para peternak berembuk untuk mencari solusi atas segala permasalahan yang ada di industri perunggasan Indonesia.
”Kondisi industri perunggasan Indonesia belum ada menemukan titik terang atas segala permasalahan yang terjadi. Pertemuan ini dilaksanakan untuk mencari solusi dan merupakan tindak lanjut dari pertemuan dengan Presiden,” ujar Sugeng, selaku pelaku ternak broiler mandiri.
Pemasaran hasil broiler yang sering bermasalah, terutama yang dialami oleh para peternak mandiri kecil, diakibatkan oleh persaingan di pasar tradisional dengan produksi dari perusahaan konglomerat. Para peternak mandiri menuntut perlu adanya segmentasi produk broiler. Sebagai solusinya, para peternak dari perusahaan konglomerat tidak boleh menjual ayam hidup, karena menjual ayam hidup merupakan segmen pasar peternak rakyat mandiri kecil.
Peternak rakyat mandiri juga sering dihadapkan dengan tingginya harga sapronak berupa pakan dan Day Old Chick ( DOC ). Hal tersebut dipicu oleh tingginya harga jagung, dimana jagung merupakan komposisi terbesar dari pakan ayam, yakni sekitar 60-65%, sehingga para peternak memohon kepada pemerintah untuk mengupayakan harga jagung yang wajar dan persediaan yang cukup. Para peternak juga meminta pemerintah untuk melakukan impor jagung untuk peternak mandiri lewat BUMN Pangan atau Koperasi.
Selain itu, para peternak juga menuntun ditetapkannya Harga Eceran Tertinggi ( HET ) Day Old Chick ( DOC ) dan pakan, atau harga DOC disesuaikan dengan harga ayam hidup, yaitu sebesar 25% dari harga livebird, serta revisi harga acuan livebird pada Permendag No. 07 tahun 2020. Para peternak mandiri berharap BUMN Pangan dapat ikut serta dan berperan dalam menyerap ayam-ayam peternak mandiri dengan ketentuan harga yang wajar dan dapat menjadi cadangan pangan.
Tidak berhenti sampai di situ, demi melancarkan misinya untuk memperbaiki industri perunggasan Indonesia, para peternak mandiri kecil memohon kepada Pemerintah untuk menerbitkan PERPRES yang melindungi peternak mandiri, terutama peternak kecil, serta untuk memudahkan monitoring dan laporan kepada Presiden, para peternak juga meminta untuk dibuatkan tim kecil untuk monitoring dan evaluasi segala sesuatu yang dilakukan oleh para peternak yang didalamnya terdapat perwakilan peternak unggas rakyat mandiri.