POULTRYINDONESIA, Jakarta – Merayakan 10 tahun berkiprah, Fenanza menggandeng EW Nutrition dalam penyelenggaran webinar terkait mikotoksin. Dalam acara yang digelar secara daring melalui aplikasi zoom ini turut hadir peserta dari berbagai latar belakang, baik akademisi, praktisi, peternak hingga industri.
Baca juga : Manajemen Mikotosin di Perunggasan
Guru Besar Fakultas Peternakan, Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Ali Agus dalam materinya, banyak menjelaskan terkait upaya penurunan kontaminasi dan toksisitas mikotoksin pada ternak dengan sudut pandang studi kasus di Indonesia. Menurutnya, Indonesia secara geografis dari suhu dan kelembaban memang sangat cocok sebagai tempat perkembangbiakan jamur yang kemudian menghasilkan produk sekundernya berupa toksin. Disisi lain, tak bisa dipungkiri bahwa tingkat penelitian mikotoksin bisa dikatakan masih tertinggal apabila dibandingkan dengan negara-negara maju lainnya.
Kemudian, yang lebih miris adalah, dari survey yang dilakukannya menunjukan bahwa tingkat kesadaran peternak broiler skala kecil terhadap bahaya cemaran mikotoksin masih sangat rendah. Dirinya juga menjelaskan dampak bahaya cemaran mikotoksin pada unggas seperti gangguan pada saluran pencernaan, menyebabkan gangguan sintesis protein, meningkatnya strees oksidatif, inflamasi dan kerusakan jaringan hingga menggangu sistem imun.
“Secara umum untuk mengurangi tingkat cemaran dan toksisitas dapat dengan cara pertama eliminasi dengan menghilangkan jamur apabila terlihat, kedua dengan delusi dengan cara mencampur dengan bahan pakan kualitas baik dan rendah cemaran sehingga dapat mengurangi total tingkat cemaran. Selanjutnya dapat dilakukan dengan menambahkan adsorban yang dapat mengikat mikrotoksin sehingga tidak masuk kedalam saluran pecernaan, sehingga langsung keluar bersama kotoran. Terakhir, bisa jadi apabila cemaran sudah parah, bisa dilakukan dengan penambahan suplemen seperti asam amino sulfurik. Dan sebenarnya masih terdapat beberapa cara lagi untuk mitigasi upaya mengurangi resiko toksisitas, namun masih dalam penelitian dan belum selesai,” pungkasnya.
Sementara itu, Marisabel Cabalerro, Global Technical Manager, EW Nutrition dalam kesempatan yang sama banyak menjelaskan terkait upaya pengendalian resiko toxin pada pengurangan antibiotik dan pelarangan AGP. Dirinya melanjutkan bahwa mikotoksin ini dapat merusak keseimbangan usus, sehingga akan mengakibatkan beberapa penyakit, salah satunya adalah Necrotic Enteritis (NE) dan otomatis akan membuat performa produksi tidak optimal.
“Di era pelarangan AGP saat ini, tantangan kita adalah bagaimana memperoleh produksi yang maksimal tanpa mengeluarkan biaya yang terlampau besar. Namun demikian, dari penelitian yang telah kita lakukan, penggunaan mikotoksin binders yang telah kami kembangkan didapatkan performa yang sebanding bahkan lebih baik dari pada penggunaan AGP. Tentu hal ini dapat menjadi alternatif peternak di era pelarangan AGP seperti saat ini,” jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Si Trung Tran, DVM, PhD, selaku Regional Manager Toxin Management, EW Nutrition menjelaskan bahwa dalam toxin management terdapat 3 hal mendasar yang harus dilakukan. Pertama adalah analisis resiko dengan menggunakan analisis laboratorium. Kemudian, dirinya melanjutkan setelah diketahui kadar resiko dari pakan, maka selanjutnya harus dipahami tingkat resiko tersebut.
“Untuk memudahkan hal tersebut, kita telah mengembangkan master risk tools, yang memungkinkan diketahui tingkat resiko toksisitas secara cepat, akurat dan mudah diaplikasikan. Tentunya hal ini dapat berpengaruh dengan bagaiman cara kita mengendalikan resiko tersebut. Kami selalu berkomitmen untuk membantu pengendalian mikotoksin,” tegasnya.