Kondisi penyakit Infectious bursal disease (IBD) atau Gumboro terus berevolusiDi berbagai belahan dunia Infectious bursal disease (IBD) atau Gumboro masih menjadi masalah serius dengan kondisi penyakit yang berbeda-beda. Keberadaannya seringkali tidak terdeteksi, peternak tak menyadari imunosupresi yang terjadi dapat memicu munculnya penyakit tersebut. Hal ini menjadi perhatian khusus HIPRA Indonesia untuk menjawab tantangan di lapangan untuk atasi Gumboro.

Berkembangnya teknologi saat ini dimanfaatkan HIPRA Indonesia untuk mengumpulkan seluruh mitra, pelanggan, dan stakeholder perunggasan untuk menyaksikan “Virtual Launching GUMBOHATCH®” yang diselenggarakan secara langsung di Hotel Harris & Convention Hall Summarecon Bekasi dan disaksikan di berbagai wilayah Indonesia melalui aplikasi Zoom, Rabu (4/11).

Kemeriahan peluncuran produk GUMBOHATCH® dirasakan di seluruh perwakilan HIPRA Indonesia yang tersebar di berbagai kota seperti Medan, Malang, Bandung, Purwakarta, Sukabumi, Magelang, dan Makassar. HIPRA sebagai perusahaan berbasis inovasi terus menghasilkan produk yang telah dikembangkan dengan baik dan produk-produknya memberikan manfaat bagi seluruh peternak.

“Kita semua berkumpul untuk menyaksikan peluncuran produk HIPRA terbaru. Kami dengan bangga memperkenalkan GUMBOHATCH® pure vaccine sebagai inovasi generasi terbaru untuk mengatasi penyakit gumboro pada unggas di Indonesia,” terang Amke Wijatman selaku Business Manager HIPRA Indonesia.

Pada kesempatan yang sama, Sergi Bruguera, DVM, M.Sc selaku Regional Manager Asia Pacific HIPRA mengucapkan selamat kepada tim HIPRA Indonesia atas kemampuan mereka yang hebat dalam berinovasi dan mengatasi tantangan di masa yang sulit seperti saat ini. “Terima kasih kepada semua mitra, pelanggan, dan stakeholder industri perunggasan Indonesia yang telah percaya kepada kami dan hadir dalam peluncuran produk HIPRA hari ini,” tuturnya.

Sergi menambahkan bahwa semenjak HIPRA memutuskan untuk mendirikan tim secara langsung di Indonesia, HIPRA mengetahui bahwa vaksin inovatif generasi terbaru akan segera hadir dan tim HIPRA Indonesia mampu mendukung dengan layanan inovatif dan berkualitas bagi pelanggan.

Dalam kesempatan tersebut HIPRA Indonesia menghadirkan beberapa narasumber seperti Prof. Daral Jackwood, Ph.D (Ohio State University, Amerika Serikat), Prof. Widya Asmara, Ph. D (Gadjah Mada University, Indonesia) dan Marta Busquet, Ph.D (Corporate Brand Manager, HIPRA) untuk memberikan paparan mengenai kondisi gumboro di Indonesia maupun di belahan dunia lainnya.

Kondisi Gumboro saat ini

Gumboro (IBD) merupakan jenis penyakit pada unggas yang tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi juga di banyak negara. Prof. Daral Jackwood, Ph.D memaparkan mengenai kondisi Infectious bursal disease (IBD) secara global. Ia mengatakan bahwa virus yang berevolusi selama beberapa dekade ini membentuk antigen baru yang resisten terhadap vaksin yang tersedia.

“Virus Infectious bursal disease (IBD) bermutasi menghasilkan bentuk virus IBD (IBDV) yang sangat menular (vvIBDV) juga telah menyulitkan pengontrolan Gumboro. Hal ini merupakan tantangan untuk mengontrol vvIBDV karena virus ini bereplikasi dengan sangat cepat dan mampu menembus kekebalan maternal (yang diperoleh dari induk). IBD merupakan penyakit subklinik di banyak belahan dunia,” tuturnya.

Di benua Eropa, Asia dan Afrika, vvIBDV merupakan masalah terbesar, namun areaarea tersebut mempunyai galur varian subklinis dari IBDV. Gumboro subklinis tidak terlalu menjadi masalah karena sering tidak dikenali. Sedangkan di Amerika Utara, Tengah, Selatan galur subklinik bersifat endemik dan telah menyebabkan masalah penurunan kekebalan tubuh selama bertahun-tahun dan area-area ini juga mempunyai vvIBV. vvIBV tidak mendominasi daerah tempat virus varian bersifat endemik dan beberapa alasan lainnya.

Dalam pengendalian Gumboro diperlukan program vaksinasi indukan yang baik yang memberikan kekebalan maternal yang kuat untuk anak ayam. Namun kekebalan maternal harus cocok dengan antigen IBDV yang menyebabkan penyakit di lapangan. Hal ini diakibatkan oleh mutasi vaksin yang dimiliki seringkali tidak cocok dengan antigen galur virus yang ada di lapangan. 

Daral mengatakan bahwa vaksin terbaik yang dapat digunakan adalah dengan penggunaan vaksin di hatchery kemudian dilanjutkan dengan vaksin gumboro live yang dilemahkan akan berfungsi dengan sangat baik di peternakan. Pemberian vaksin imun kompleks di hatchery dan pemberian vaksin IBDV live yang dilemahkan seiring dengan penurunan kekebalan maternal berfungsi sangat baik untuk melawan vvIBDV dan juga virus klasik dan varian di wilayah lain di dunia.

Sementara itu, drh. Octiarini Lia (Olelia) selaku Area Manager HIPRA Indonesia berkesempatan memandu sesi diskusi bersama Prof. Daral Jackwood Ph.D dan Prof. Widya Asmara, Ph.D mengatakan bahwa vaksin imun kompleks mengandung IBDV, sehingga peternak mendapatkan manfaat tambahan dari competitive exclusion. IBDV masuk ke bursa dan menghilangkan risiko virus lapangan untuk menginfeksi sel bursa.

Selanjutnya, Prof. Widya Asmara, Ph.D pun memberikan perkembangan terbaru mengenai Gumboro di Indonesia. Berdasarkan pengamatannya, jenis virus Gumboro di sebagian besar wilayah Indonesia masih banyak virus virulen atau vvIBDV, sedangkan virus klasik tidak terlalu banyak. Balitvet pun menemukan mutasi strain baru yang disebut Indonesian vvIBDV live strain.

Kesulitan membasmi IBDV seringkali terjadi dikarenakan proses desinfeksi yang kurang baik dan para peternak membutuhkan waktu untuk menghilangkan antibodi maternal dalam tubuh ternak pada penggunaan vaksin model lama, untuk kemudian diberikan vaksinasi ulang. Hal yang sering kali terjadi adalah infeksi virus telah lebih dulu masuk ke dalam ternak kemudian menempati bursa dan menimbulkan imunosupresi yang seringkali mengakibatkan kegagalan vaksinasi.

“Pemberian GUMBOHATCH® dapat dilakukan tanpa memerhatikan titer antibodi maternal menurun dan GUMBOHATCH® sebagai vaksin imun kompleks dapat mengatasinya,” ujar Widya Asmara.

Solusi atasi Gumboro

HIPRA selalu berkomitmen terhadap pencegahan Gumboro sejak puluhan tahun lalu. Berbagai vaksin telah HIPRA produksi sejak tahun 1975 hingga saat ini. HIPRA memiliki kontrol evolusi penyakit berkelanjutan yang memungkinakan untuk menyarankan pemberian opsi vaksinasi terbaik melalui program GUMBOCHECK.

“Hari ini kami akan memperkenalkan GUMBOHATCH® yakni sebuah vaksin berbasis teknologi pertama dari HIPRA untuk vaksinasi Gumboro di tempat penetasan. GUMBOHATCH® merupakan smart vaccination di mana terdapat chip RFID di setiap label vial yang akan menjamin pelacakkan penuh terhadap proses vaksinasi. Selain itu sebagai vaksin imun kompleks dengan formula inovatif yang mengandung antibodi unik yang diekstraksi dari telur dan dapat diaplikasikan di tempat penetasan dengan cara injeksi ke dalam telur (in ovo) atau injeksi subkutan pada anak ayam saat menetas,” ujar Marta Busquet, Ph. D selaku Corporate Brand Manager, HIPRA.

drh. Diptya Cinantya sebagai Technical and Marketing Manager HIPRA Indonesia menambahkan terdapat empat inovasi dari GUMBOHATCH® yaitu strain HIPRA 1052; IgY anti IBDV yang berasal dari telur (bukan serum) yang diperoleh dari IgY berkualitas dalam jumlah besar; Formulasi IgY ditambahkan lebih banyak pada virus yang dipanen; dan menyertakan kinerja kontrol mutu yang baru dan unik untuk memastikan potensi dan perlindungan virus secara penuh.

Beberapa vaksin imun kompleks pada saat ini tidak melakukan kontrol akhir untuk memastikan potensi vaksin, sementara beberapa vaksin lainya melakukan kontrol akhir berdasarkan titrasi tak langsung yang tidak menjamin bahwa semua partikel virus berada dalam bentuk vaksin imun kompleks. Hal ini berarti bahwa vaksin tersebut tidak dapat memastikan bahwa tidak akan terjadi kehilangan potensi akibat inaktivasi virus dalam vaksin atau kerusakan dini pada bursa (jika MDA sangat rendah).

GUMBOHATCH® melalui 2 tahapan quality control untuk memastikan efektivitasnya. Pertama dengan penentuan titrasi vaksin final setelah liofilisasi, karena GUMBOHATCH® adalah satusatunya vasin imun kompleks yang mengevaluasi potensi dengan titrasi virus langsung setelah pembuatan imun kompleks. Hal ini melaui tes yang baru dan inovatif. Langkah selanjutnya berfokus untuk memastikan bahwa tidak ada partikel virus “bebas” yang tidak terselubungi oleh IgY dalam vaksin. GUMBOHATCH® adalah satu-satunya vaksin imun kompleks yang mengintegrasikan kontrol tersebut.

Selanjutnya, dilakukan pula dua kontrol penjaminan mutu yaitu evaluasi terhadap IgY bebas setelah formulasi, dan kontrol netralisasi di mana semua partikel virus dalam vaksin dipastikan telah terlapisi oleh antibodi. Melalui quality control ini GUMBOHATCH® dapat menghindari kehilangan potensi dan memastikan hasil homogen di lapangan. GUMBOHATCH® telah mendapatkan sertifikat European Medicin Agency dengan indikasi “Tanpa Imunosupresi” pada SPC (Sertifikat perlindungan tambahan) dam vaksin tidak memerlukan batas MDA pada unggas tanpa menimbulkan risiko keamanan.

Dalam melengkapi pelayanannya, HIPRA Indonesia pun memperkenalkan berbagai layanan pendukung untuk program vaksinasi HIPRA. Area Manager Hipra Indonesia, drh. Emilazola Sihombing menyebutkan bahwa tiga layanan yang dimiliki HIPRA Indonesia mendukung pelayanan di hatchery, farm, dan pelatihan untuk para pelanggan. Hipra pun memperkenalkan peralatan vaksinasi canggih yang dimilikinya yaitu Hipraject®.

Masih dalam acara yang sama, Oliver Pedroche yang merupakan Medical Device Poultry Specialist HIPRA menjelaskan bahwa Hipraject merupakan alat vaksinasi modern untuk mendukung penggunaan GUMBOHATCH® di hatchery. Hipraject® adalah alat suntik tabung tunggal elektronik yang didukung oleh Internet of Things (IoT) dengan keunggulan yang dimilikinya seperti memberikan dosis yang sangat akurat dan presisi selama proses vaksinasi, kemudahan dalam penggunaan dan pemeliharaannya karena telah memiliki sistem otomatis, dan telah di dukung dengan konektivitas dan pelacakan di seluruh proses vaksinasi.

Smart Vaccination menjadi konsep unggulan yang dimiliki HIPRA yakni melalui teknologi Hipraject® yang menjamin pemberian dosis secara tepat pada kecepatan maksimum yaitu sekitar 3.500 anak ayam per jam. Selain itu didukung pula RFID dan adanya konektivitas 3G untuk memberikan data informasi secara realtime ke ruang penyimpanan online (cloud) yang dapat diakses melalui aplikasi perangkat lunak HipraLink® Vaccination milik HIPRA. Adv