Telur cage-free punya banyak keunggulan, terutama dari sisi nutrisi dan juga kesejahteraan hewan. Nilai ini perlu digaungkan lebih kencang ke masyarakat umum, dan tentunya dengan dukungan seluruh stakeholder.

Tidak banyak orang berani berjalan sendirian melawan arus, apalagi dalam industri perunggasan yang serba dinamis dan penuh risiko. Pada awal 2000-an, ketika isu kesejahteraan hewan bahkan belum dikenal oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, Roby Cahyadi Dharma Gandawijaya justru memutuskan untuk membangun peternakan ayam petelur cage-free pertama di Indonesia. 

Sistem ini membiarkan ayam bergerak bebas di area luas, terpapar sinar matahari, mendapat sirkulasi udara yang baik, serta bisa berjalan dan berlari sesuai nalurinya. Ketika ayam dipelihara dengan cara ini, tingkat stres menurun dan telur yang dihasilkan menjadi lebih berkualitas.

Menariknya, keputusan besar itu justru berawal dari penyakit asmanya yang sering kambuh. “Saat masih menjalankan peternakan broiler dan breeder keluarga, saya cukup sering belajar dan  berkeliling ke peternakan-peternakan layer yang ada di Indonesia. Saya main ke Sumatra, Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur. Setiap kali pulang dari kunjungan kandang, asma saya selalu kambuh. Jadi saya berpikir, ‘Kalau saya saja sakit dalam waktu singkat, bagaimana dengan karyawan saya nanti?’ Dari situ saya sadar bahwa model peternakan layer konvensional tidak cocok untuk saya,” tuturnya saat ditemui di kediamannya, Rabu (22/10).

Roby sudah pernah memelihara broiler, breeder, dan layer sehingga memahami masing-masing karakter ayam. Bekal pengalaman itu membuatnya mantap mencoba sistem cage-free di tahun 2002, ketika belum ada yang menjalankan sistem peternakan tersebut sama sekali. Karena belum ada rujukan, panduan, atau mentor, ia mencari jawabannya sendiri melalui praktik langsung dan rutin mengikuti pameran untuk menambah wawasan. 

“Di pameran saya bertemu para breeder dari luar negeri. Pada masa itu ternyata mereka masih belum paham tentang peternakan tipe cage-free. Padahal kalau kami lihat sejarahnya, kandang cage-free itu sudah ada sejak tahun 1980. Karena mungkin belum semua paham dan terbiasa dengan metode ini, jadi mereka pun tidak punya management guide nya,” kenangnya.

Jauh dari Kata Mulus

Belajar otodidak mempertemukannya dengan kegagalan di periode pertama. Dengan berbekal kandang terbuka broiler yang dimiliki, populasi cage-free pertamanya diawali dengan 15 ribu ekor. Karena dahsyatnya serangan penyakit bertubi-tubi, di akhir periode pemeliharaanya hanya tersisa 2 ribu ekor saja. 

“Saya masih ingat waktu pertama pelihara ayam cage-free. Dalam satu periode, semua penyakit ayam di buku kitab Poultry Disease muncul. Mulai dari macam-macam penyakit pernafasan, cacar, cacingan, pencernaan, kolera, pullorum, sampai bengkak hati, hingga kanibal telah saya temui. Semua lengkap. Tapi dari situ saya belajar banyak. Periode kedua membaik, dan seterusnya makin lama makin baik,” ujarnya.

CEO PT Inti Prima Satwa Sejahtera (IPSS) ini tidak menampik banyaknya masalah yang muncul seiring perjalanan membangun usaha cage-free di Indonesia 20 tahun lalu. Tapi pembenahan tidak berhenti dilakukan, mulai dari manajemen, fasilitas kandang, hingga nutrisi pakan selalu ditingkatkan.

“Dari upaya yang terus kami lakukan, akhirnya saya tahu, yang jadi masalah saat itu adalah karena menggunakan pakan layer dari pabrikan. Bukan pakannya yang salah, tapi karakteristik ayam dan pola pemeliharaannya yang berbeda, sehingga membutuhkan pakan khusus. Ini juga karena saya menggunakan panduan dari pola pemeliharaan kandang baterai layer yang saya aplikasikan sama persis ke kandang cage-free. Padahal harusnya sangat berbeda,” ucapnya.

Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Profil pada majalah Poultry Indonesia edisi Desember 2025. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Desember 2025, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com