Terlahir dengan kehidupan yang pas-pasan tak sedikit pun membuat laki-laki yang lahir di Kabupaten Boyolali 51 tahun silam ini patah semangat dalam belajar. Ia yang dibesarkan dari orang tua yang berprofesi sebagai guru membuat aktivitas belajar menjadi makanan sehari-hari. Berbekal kehidupan yang seadanya, ternyata membuat sosok kalem yang satu ini beserta kedua saudaranya bisa meneruskan sekolah sampai jenjang perguruan tinggi dengan mendapatkan beasiswa.
Kerja keras, tekun, disiplin, dan fokus untuk tujuan yang ingin dicapai menjadi kunci keberhasilan dalam usaha peternakan ayam.
Masuknya Agus muda ke Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro Semarang pun juga mengisahkan cerita yang unik. Agus yang kala itu tinggal di desa tentu sering melihat orang yang berprofesi sebagai petani yang setiap hari pergi ke sawah atau melihat masyarakat memelihara berbagai hewan peliharaan di rumah. Maka suatu ketika terlintas dibenaknya bahwa jurusan peternakan menjadi jurusan yang mantap ia pilih karena baginya kala itu dengan bisa menjadi seorang peternak saja, ia akan bisa menghidupi keluarganya nanti. Baginya pada saat itu, sukses tidak melulu menjadi seorang karyawan yang bekerja di kantor.
Sebelum menjadi peternak mandiri, cukup banyak perjalanan karier yang ia alami. Lulus dari Fakultas Peternakan Undip pada tahun 1993, Agus Suwarna kemudian bekerja di peternakan broiler milik Sido Agung di Magelang. Kemudian kurang dari satu tahun ia pindah bekerja di breeding farm milik PT Charoen Pokphand Indonesia di Subang. Dua tahun setelahnya, kebosanan akan hidup di kandang melandanya dan akhirnya ia melanjutkan kariernya menjadi seorang TS (Technical Support) di PT Sierad Corporation. Selang beberapa tahun kemudian, ia kembali lagi ke PT Charoen Pokphand Indonesia yang kala itu membuka divisi baru, sebelum akhirnya ia memutuskan menjadi seorang peternak mandiri.
Interaksinya dengan banyak peternak membuatnya tersinspirasi untuk menjadi peternak. Agus bercerita, ada yang dulunya pernah menjadi sopir angkot, ada yang pernah menjadi tukang di pelabuhan, mereka semua akhirnya bisa sukses memelihara ayam. Bermula dari menyewa kandang, kemudian ia mulai beternak ayam dengan populasi sebanyak 4.000 ekor dan mulai membangun usahanya sedikit demi sedikit. Agus juga sempat menikmati masa emas, di mana kala itu siapa saja yang memiliki ayam dan telur, sudah pasti mendapatkan untung. Hal tersebut karena saat itu Indonesia mengalami krisis, sehingga ayam dan telur ini seolah menjadi primadona. Sampai akhirnya usahanya terus berkembang, terus mendapatkan untung, dan kemudian bisa membeli lahan sendiri untuk peternakan broiler miliknya.
Bagi Agus Suwarna, 6 Januari 2001 menjadi hari yang bersejarah untuknya karena pada hari itu lahirnya sebuah perusahan miliknya yang diberi nama Berkah Putra Chicken. Pengambilan namanya pun juga mengisahkan cerita tersendiri baginya. Kisahnya yakni pada saat menjadi TS, selama 6 bulan pertama dirinya sulit mendapatkan pelanggan. Akhirnya pelanggan pertamanya madalah Cak Hartono yang mempunyai peternakan ayam dengan nama Berkah Farm. Dirinya juga sangat dibantu olehnya pada awal-awal merintis peternakan. Sampai pada akhirnya terjadi kelangkaan DOC, Agus kemudian mencari tempat lain untuk menopang usahanya.
Kunci sukses menjadi peternak mandiri
Agus bercerita bahwa dalam beternak ayam ini hal yang sangat perlu diperhatikan adalah performa ayam. Menurutnya tidak ada sejarahnya ayam itu tidak habis terjual, berapun harganya. Agus juga berpesan jika menjadi seorang peternak janganlah terlalu fokus pada harga pakan, DOC, maupun harga jual, yang terpenting menurutnya adalah bagaimana bisa memelihara ayam agar mencapai IP (Index Performance) dan FCR (Feed Convertion Ratio) yang baik.
Kunci lain dalam kesuksesan beternak adalah menjalankan sistem kontinuitas produksi dalam usaha ayamnya. Maksudnya adalah kapan pun orang mencari ayam di tempatnya, pihaknya selalu siap untuk melayaninya. Hal itu juga yang membuat banyak pelanggan terutama para pemotong ayam selalu mengambil ayam ditempatnya. Mereka juga rela setiap hari mengantre, bahkan adanya selisih harga pun sudah tidak menjadi kendala bagi mereka, karena mereka lebih memilih ketersediaan ayam kapan pun mereka butuhkan. Sistem tersebut yang selalu Agus pertahankan sampai sekarang. Chusnul
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Mei 2021 dengan judul “Agus Suwarna – Ketekunan dan Keuletan yang Membawa Keberhasilan”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153
Menyukai ini:
Suka Memuat...