Ainur Rahmatin Founder & Owner CV. Sabiq Bejo, Lamongan,  Timur menceritakan pada Poultry Indonesia ketika diwawancarai via telepon Sabtu (24/2)  bahwa awal mula beternak bebek pada tahun 2009 sebanyak 25 ekor. Bebek tersebut merupakan hasil pemberian bapaknya, karena tempat tinggalnya berada di wilayah sekitar tambak dan sawah yang banyak ditemukan bahan sumber pakan. Sehingga beternak bebek menjadi sebuah hal yang potensial.
Ia mengaku, kala itu semua pakan murni dari alam, seperti keong sawah. Setiap hari ke pematang tambak atau sawah sambil menggendong anak pertama. Dimana hasil mencari hari itu untuk pakan hari itu. Dan besok mencari lagi. Menurutnya pemberian bebek dari bapaknya tersebut menjadi suatu hal yang sangat berarti. Mengingat perekonomian keluarga yang sedang minus, masih menanggung hutang akibat sang suami kalah dalam kontestasi pemilihan kepala desa ( Pilkades). Sembari memelihara bebek, ia juga mengajar di TPQ setempat dengan bisyaroh (atau gaji) Rp.75.000 per bulan. 
“Sebetulnya Pilkadesnya sebelum menikah. Namun, setelah menikah hutang itu masih ada, Saya menikah tahun 2007. Dan 2008 Alhamdulillah punya anak. Kemudian 2009 pertama memelihara bebek. Pada awalnya, hasil telur bebek dijual mentah dengan harga per butir sekitar Rp 1000,00. Dalam perjalannya, saya berpikir untuk mendapat keuntungan yang lebih baik. Hingga akhirnya menemukan ide untuk membuat telur asin. Saya pun belajar membuat telur asin dari seorang teman yang berada di Brebes via telepon,” terangnya.
Dan benar saja, dengan niat dan tekad Ainur akhirnya bisa membuat telur asin. Namun, menurutnya produk awal telur asinnya masih mempunyai standar keasinannya yang terlalu tinggi. Sehingga masih kurang cocok dengan kebiasaan wilayah setempat. Akhirnya dilakukan penyesuaian dan didapat racikan yang pas.
Sambil bernostalgia, kala itu Ia bertekad untuk membuat telur asin, dengan modal uang bisyaroh mengajar di TPQ setempat yang sebesar Rp 75.000,00. ” Uang itu aya belanjakan alat – alat untuk kepentingan membuat telur asin. Termasuk untuk membeli telur bebek. Memang telurnya dari produksi sendiri. Namun, saya tetap memberlakukan sistem pembelian diproduksi sendiri,” terangnya.
Lika-liku berbisnis
Di awal usaha telur asin, Ainur hanya bisa memproduksi 20 butir setiap minggunya. Dan sisanya tetap dijual mentah. Dirinya menjual telur asin dengan harga Rp 1.700/ butir. “Dalam 3 bulan berjalan,  kami tetap diproduksi 20 butir. Hingga akhirnya menambah produksi, karena berharap keuntungan semakin bertambah banyak lagi. Dulu saya berpikir, seandainya produksinya  50 butir maka untungnya  menjadi sekian. Dan bagaimana juga jika 100 butir,” katanya.
Untuk pemasaran, ia menitipkan telur asin itu ke kios-kios atau ke pedagang soto dengan sistem konsinyasi. Tentu dengan sistem ini perputaran uang yang terjadi sangat lambat dan banyak yang tidak lancar. Ia bercerita bahwa ada kejadian menarik saat menawarkan telur asin ini ke pedagang. Dimana pada suatu ketika ia menawarkan telur asin ke warung soto, namun pemilik warung menolaknya karena sudah ada yang lain.
“Dan pada kesempatan lain, ada pelanggan soto itu yang memberikan saran kepada penjual soto untuk membeli telur asin ke saya. Katanya karena enak. Dan akhirnya pelanggan soto itu memberi nomor HP saya  ke penjual soto itu. Akhirnya pedagang soto itu menghubungi saya untuk dikirimi telur asin. Dan pada saat saya sampai ke warung tersebut, pedagang soto itu bengong dan kaget. Sebab, yang mengirim ternyata yang pernah ditolaknya pada waktu sebelumnya,” tambahnya.

 

Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Profil pada majalah Poultry Indonesia edisi April 2024. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi April 2024, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com