Air sangat penting bagi kehidupan. Tidak hanya sebagai nutrisi vital, air juga terlibat dalam banyak fungsi fisiologis, seperti pencernaan dan penyerapan, termoregulasi (pengaturan suhu tubuh), pelumasan sendi dan organ, serta pembuangan limbah sisa metabolisme, dan merupakan bagian esensial dari darah serta jaringan tubuh. Sekitar 70% dari berat badan unggas adalah air, sehingga pengurangan asupan atau hilangnya kelembapan sekecil apa pun akan berdampak mendalam pada performa secara keseluruhan. Hal ini terutama berlaku bagi anak ayam (chicks) yang baru tiba di peternakan. Air minum yang bersih, sejuk, dan layak minum harus tersedia segera setelah unggas ditempatkan dan tetap tersedia selama sisa waktu mereka di peternakan.
Seringkali, perubahan konsumsi air merupakan tanda peringatan dini adanya masalah di kandang unggas. Sangat disarankan agar setiap kandang memiliki meteran air mandiri, dan pemantauan harian dilakukan secara rutin. Umumnya, asupan air adalah sekitar dua kali lipat dari asupan pakan, meskipun bisa jauh lebih tinggi dalam kondisi panas. Seiring bertambahnya usia unggas dan meningkatnya asupan pakan, konsumsi air juga meningkat. Peningkatan permintaan ini harus dipenuhi dengan memastikan ketersediaan tempat minum yang memadai dan dengan meningkatkan laju aliran air seiring bertambahnya usia unggas. Asupan air pada jantan lebih tinggi daripada betina, terutama karena ukuran tubuh yang lebih besar dan tuntutan metabolisme yang terkait.
Permintaan air pada unggas akan meningkat sebesar 6–7% untuk setiap kenaikan 1°C di atas suhu lingkungan 21°C. Tidak hanya suhu lingkungan yang memengaruhi konsumsi, tetapi suhu air juga berpengaruh. Unggas menyukai air yang sejuk, dan asupan air akan menurun jika air menjadi terlalu panas. Jika suhu air secara rutin melebihi 24°C, maka perlu dipertimbangkan bagaimana air tersebut disimpan dan apakah perlu didinginkan.
Kebanyakan kandang unggas modern menggunakan sistem nipple, yang mengurangi tenaga kerja, menjaga kebersihan air, dan meminimalkan penyebaran penyakit; namun, sistem ini memerlukan perawatan yang efektif. Jalur pipa (lines) harus diatur pada ketinggian dan tekanan yang tepat sesuai dengan usia dan ukuran unggas. Jalur tersebut juga harus dibilas (flushed), dirawat, dan dibersihkan secara rutin.
Laju aliran (atau tekanan air) dalam pipa harus diatur untuk memastikan pasokan air cukup untuk memenuhi asupan air harian maksimal. Untuk anak ayam, laju ini relatif rendah dan akan meningkat seiring bertambahnya usia. Kandang dengan tekanan yang lebih tinggi cenderung mendorong aktivitas makan dan minum tambahan, yang menghasilkan pertumbuhan awal yang lebih tinggi, tetapi lebih rentan terhadap kebocoran, pemborosan air oleh unggas, dan kualitas litter (alas kandang) yang buruk, yang dapat menyebabkan masalah kesejahteraan hewan. Di sisi lain, laju aliran yang rendah, terutama saat kepadatan kandang tinggi dan jumlah unggas per nipple terbatas, dapat menghasilkan laju pertumbuhan yang lebih rendah. Sebagai panduan kasar, rumus (minggu usia x 7) + 20 ml/menit dapat digunakan sebagai perkiraan awal kebutuhan aliran air.
Untuk peternakan dengan tempat minum model lonceng (bell drinkers), pastikan alat tersebut dikosongkan dan dibersihkan setiap hari untuk mencegah penumpukan bahan organik. Seperti halnya sistem nipple, ketinggian dan tekanan pada tempat minum ini harus diperiksa secara konsisten.
Mineral yang diekskresikan oleh ginjal memicu hilangnya kelembapan. Kadar mineral yang berlebihan atau bahkan protein berlebih (melalui proses deaminasi) dalam pakan dapat menyebabkan ekskresi air yang tinggi. Natrium, kalium, dan klorida semuanya diketahui dapat meningkatkan aktivitas minum dan menyebabkan kotoran basah (wet droppings). Jumlah natrium dalam air harus diperhitungkan saat menyusun formulasi pakan untuk menghindari kelebihan natrium di peternakan. Kalium biasanya tidak menjadi masalah kecuali jika kedelai digunakan dalam kadar tinggi dalam pakan, terutama pada pakan starter berprotein tinggi. Masalah klorida biasanya dapat diatasi dengan mengganti sebagian garam dalam pakan dengan natrium bikarbonat.
Kualitas air yang dipasok ke peternakan harus dipantau secara rutin, terutama jika pasokan air berasal dari sumur bor, sumur gali, atau bendungan, karena kualitas air dapat berubah drastis sesuai musim. Tabel 1 menunjukkan kriteria kualitas air untuk unggas.
Kebersihan sistem minum harus dinilai selama masa pemeliharaan kelompok unggas (flock). Pastikan pipa dibilas sebelum pengambilan sampel untuk menghindari bahan organik yang berlebihan, dan ambil sampel pada nipple terakhir. Program sanitasi air dan pembersihan pipa yang terstruktur diperlukan untuk mengendalikan kontaminasi bakteri melalui air dan proliferasi (pertumbuhan cepat) biofilm di dalam pipa. Meskipun bakteri dalam air dapat secara langsung memengaruhi performa unggas dan mengurangi efektivitas vaksinasi atau pengobatan, pembentukan biofilm menyediakan reservoir yang persisten bagi pertumbuhan mikroba dan dapat mengurangi laju aliran air.
Program klorinasi yang menghasilkan 3–5 ppm klorin bebas pada nipple, atau sanitasi UV, dapat membantu mengendalikan kontaminasi bakteri. Pengendalian bakteri lebih menantang pada operasional yang menggunakan sistem minum terbuka. Sistem ini memerlukan pembersihan yang lebih sering, penggantian air secara berkala, dan pemantauan sanitasi air yang lebih ketat. Di antara masa pemeliharaan (between flocks), semua pipa air harus diolah secara fisik atau kimiawi untuk menghilangkan biofilm dan penumpukan mineral.
Pasokan air bersih harus tersedia bagi anak ayam segera setelah mereka ditempatkan di peternakan. Segala pembatasan pada asupan air dapat menurunkan performa kelompok unggas. Banyak faktor yang dapat memengaruhi asupan air, termasuk usia dan jenis kelamin unggas, suhu kandang dan air, serta jenis tempat minum. Sangat penting bagi beban mikrobial dan kualitas fisik air untuk dipantau dan tindakan korektif diambil jika diperlukan guna memastikan performa unggas yang optimal.
Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi Info Center di www.aviagen.com atau pindai kode QR.