Manifestasi peradangan akut kantung hawa pert (acute abdominal airsacculitis) oleh infeksi buatan Mycoplasma gallisepticum pada ayam modern. Pada kondisi riil di lapangan, infeksi Mycoplasma gallisepticum umumnya terjadi secara subklinis dan berlangsung subkronis sampai dengan kronis.
Oleh: Tony Unandar*
Kasus peradangan kantung hawa atau airsacculitis pada industri ayam modern, khususnya ayam broiler, tampaknya sudah tidak boleh dianggap sepele lagi. Walaupun dampak kematian ayamnya relatif rendah, akan tetapi beberapa penelitian dalam dekade terakhir mengindikasikan bahwa airsacculitis memiliki peluang yang sangat besar mengakibatkan terjadinya septisemia pada fase lanjut kasus. Tulisan singkat ini merupakan pengalaman seorang praktisi perunggasan dalam mereduksi kasus-kasus airsacculitis di lapangan yang tentu saja disertai dengan publikasi ilmiah terbaru.
Titik lemah ayam
Ayam yang sejatinya termasuk bangsa burung (Aves) mempunyai sistem pernapasan yang kodratnya untuk hidup dan terbang di udara bebas. Mana kala ayam dipelihara dalam sistem kandang tertutup (closed house system atau CHS) dengan kepadatan ayam (bird density) yang tinggi, maka akan tampak keterbatasan toleransi ayam untuk beradaptasi dengan kondisi yang “dipaksakan” terjadi. Keterbatasan toleransi tersebut kelak akan menjadi titik lemah sistem pernapasan ayam (Carrier, 2000; Maina, 2003). 
Sejauh ini, ada beberapa titik lemah sistem pernapasan ayam yang dapat diamati dengan jelas di lapangan. Pertama, rongga hidung (cavum nasalis) yang tersekat-sekat akibat adanya tulang penyangga rongga hidung (tulang turbinatum) yang berbentuk seperti rumah siput. Ketika terbang tinggi, yang mana suhu udara relatif rendah, sekat-sekat ini bertujuan untuk memperlambat aliran udara yang masuk ke dalam paru-paru, sehingga udara akan lebih dihangatkan dan ujung-ujungnya adalah agar proses pertukaran gas dalam paru-paru berlangsung optimal. Kondisi anatomi ini tentu tidak menguntungkan jika ayam hidup dalam sistem kandang tertutup yang mana debu dan partikel mikroba jauh lebih mudah terjebak di rongga hidung. Hal ini dapat mengakibatkan iritasi dan tingginya prevalensi problem infeksi oleh mikroba patogen (rhinitis).
Kemudian, berbeda dengan mamalia, bangsa burung tidak mempunyai katup atau klep antara rongga hidung dan sinus hidung, terutama sinus infraorbitalis atau sinus bawah kotak mata. Struktur anatomi seperti ini memungkinkan burung untuk menahan udara lebih besar di area kepala saat terbang, sehingga membantu dapat mengangkat kepala dengan baik. Namun, bagi ayam yang hidup dalam sistem kandang tertutup, struktur morfologis ini memungkinkan debu dan mikroba patogen terjebak di dalam sinus, sehingga menyebabkan iritasi dan mempermudah terjadinya infeksi (sinusitis).
Titik lemah selanjutnya adalah kantung hawa atau air sac yang tersebar di seluruh rongga dada dan rongga perut atau bahkan sampai masuk ke dalam rongga tulang lengan atas atau humerus. Kantung hawa interklavikularis (interclavicularis air sac), walau hanya ada satu buah, tetapi ujung-ujungnya tersebar sampai dalam rongga tulang lengan atas kanan dan kiri. Bentuk anatomis ini bertujuan untuk membantu mengangkat sayap saat terbang dan memompa udara keluar saat ekspirasi atau proses mengeluarkan udara pernapasan. Maka jangan heran, jika kualitas udara dalam kandang tertutup buruk, misal kadar amonia >25 ppm, maka ayam akan mudah mengalami infeksi via radang kantung hawa yang tersebar di dalam rongga-rongga tubuh.
Selain itu, kantung hawa juga minim kapiler darah atau avaskularisasi. Hal ini berarti sistem imunitas pada tataran kantung hawa lebih mengandalkan innate immunity yang memiliki keterbatasan. Contoh, jika total inoculum atau jumlah partikel patogen yang terhisap dan tertelan sangat tinggi, maka innate immunity umumnya tidak berdaya. Oleh karena itu, jika ventilasi kandang sangat buruk dimana kadar amonia dan total mikroba per-cc udara sangat tinggi, maka ayam juga dengan mudah mengalami radang kantung hawa atau airsacculitis. Singkatnya, kantung hawa merupakan salah satu titik lemah sistem pernapasan pada ayam modern.
Mengenal airsacculitis
Pada ayam, khususnya pada broiler, airsacculitis merupakan problem yang sangat jamak dan penyakit infeksius penting yang kebanyakan melibatkan bakteri Avian Pathogenic E. coli (APEC), baik sebagai agen penyebab sekunder maupun primer (Dozois, 1994). Ditandai dengan kekeruhan, penebalan, dan peradangan kantung hawa, gejala airsacculitis juga disertai dengan eksudat fibrinoid, perikarditis (radang selaput jantung), perihepatitis (radang selaput hati), dan tidak jarang disertai juga dengan koliseptisemia dan kematian ayam (Gross, 1994; Ewers et al., 2009; Kabir, 2010). Dari sisi gejala klinis, problem airsacculitis umumnya tidak spesifik dan hanya berupa depresi ringan, batuk sesekali, bersin ringan, serta kesulitan bernafas (Pesek, 2000).
Di lapangan, prevalensi airsacculitis yang disebabkan oleh APEC sebagai agen penyebab primer biasanya diinisiasi oleh adanya faktor stres subkronis hingga kronis. Selain itu, kepadatan ayam yang sangat tinggi dan adanya problem imunosupresi yang disebabkan oleh mikotoksin dan atau virus-virus tertentu seperti Infectious Bursal Disease (IBD), Chicken Anemia Virus (CAV), Mareks Disease Virus (MDV), Inclusion Bodies Hepatitis (IBH), serta Reovirus juga turut menginisiasi penyakit ini (Mellata et al., 2003). Ditambah dengan buruknya ventilasi dalam kandang yang membuat amonia, debu, serta kepadatan partikel bakteri APEC per-cc udara sangat tinggi, maka airsacculitis semakin mudah terjadi. 
Jika kasus airsacculitis disebabkan oleh APEC sebagai agen penyebab sekunder, maka faktor primernya biasanya adalah infeksi mikoplasma sublinis secara subkronis sampai kronis (Kleven et al., 1972; Feizi et al., 2013; Karthik et al., 2018), infeksi oleh bakteri Ornithobacterium rhinotracheale (Post et al., 1999; McMullin, 2004, Yousseff et al., 2008), serta infeksi lapangan atau reaksi terhadap vaksin aktif ND dan atau IB (Cattoli et al., 2011; Akanbi et al., 2020; Najimudeen et al., 2020; Hoerr, 2021).
Airsacculitis pada ayam modern bisa juga disebabkan oleh infeksi jamur Aspergillus fumigatus dan Aspergillus niger (Spanamberg et al., 2013; Sultana et al., 2013; Cheng et al., 2020). Spora jamur bisa menyerang ayam pada semua umur, tetapi gejala klinisnya sangat tergantung dari jamur yang tumbuh di organ pernapasan. Manifestasi subklinis yang kronis umumnya terjadi pada ayam besar alias berusia diatas 3 minggu (Tell, 2005; Charlton et al., 2008). Pada DOC, airsacculitis akibat aspergillosis biasanya ada hubungan yang erat dengan penanganan telur tetas (hatching-eggs handling) dan sanitasi pada proses penetasan di hatchery (Lima et al., 2001; Tessari et al., 2004; Vilela et al., 2004).
Pencegahan untuk tekan kasus airsacculitis 
Ada beberapa langkah di lapangan yang bisa dilakukan untuk mengurangi problem AS pada ayam modern, salah satunya reduksi populasi kuman koli (coliform) dalam kandang. Langkah ini dapat dilakukan dengan istirahat kandang yang cukup (down-time) dan memastikan implementasi biosekuriti proses kosong kandang yang tepat dan konsisten. Selain itu, kualitas litter juga perlu dijaga agar tidak terlalu lembab. Aktifitas air dalam litter atau kadar uap air litter diharapkan rendah, maksimum 25-30%.
Menjaga kualitas litter juga dapat dilakukan dengan memperhatikan rasio bahan litter dan kotoran ayam. Rasio yang baik adalah 7:3 bahan litter dengan material kotoran ayam. Jika sudah terjadi penggumpalan, maka dapat dipastikan rasio material kotoran ayam lebih tinggi dari bahan litter. Sanitasi dan membolak-balik bahan litter secara rutin dapat bertujuan untuk mengencerkan dan mengurangi debu kandang serta keterpaparan ayam dengan APEC dalam litter. Kepadatan ayam juga harus diperhatikan karena sangat menentukan kualitas litter selama pemeliharaan. Semakin tinggi kepadatan ayam, maka kualitas litter akan semakin cepat turun.
Dalam pencegahan kasus airsacculitis, menjaga ventilasi udara dalam kandang juga merupakan langkah yang penting. Dengan ventilasi yang baik, selain terjaminnya suplai oksigen dan terbuangnya gas-gas beracun, juga secara tidak langsung akan terjadi pengenceran konsentrasi kuman koli dalam udara kandang. Dalam tempo satu menit, seluruh udara dalam kandang harus diganti dengan udara yang baru. Kecepatan angin dalam kandang sebaiknya berkisar antara 1,8 sampai 2,4 m per-detik, tergantung pada tipe kandang.
Di awal kehidupan ayam, untuk mencegah terjadinya kontaminasi lanjut APEC dalam populasi ayam yang ada, maka tindakan afkir selektif (culling) DOC pada fase sedini mungkin atau kurang dari 3 hari pertama sejak ditebar sangat dianjurkan, terutama pada DOC yang mengalami omphalitis. Kemudian, perlakuan khusus dengan klorinasi pada sumber air yang terkontaminasi oleh kuman koli dan atau dengan kandungan mikroba total >30 CFU/cc air juga dapat dilakukan. Klorin dalam tempat penampungan air dapat diberikan sebanyak 5 ppm dan biarkan selama minimal 6 jam sebelum siap digunakan untuk keperluan air minum atau keperluan lainnya. Dalam tempat air minum ayam (drinker atau nipple), kadar klorin aktif diharapkan maksimum 3 ppm.  
Preparat peroksida atau preparat metal yang sudah diproses dengan teknologi nano seperti CuSO4 atau AgNO3 dapat juga digunakan sebagai antiseptika air minum ayam dan mereduksi keberadaan biofilm pada sistem distribusi air minum di kandang. Pemberian preparat prebiotika (seperti MOS, FOS, β-1,3-Glucan), probiotika (Bacillus subtilis, Lactobacillus acidophylus, Enterococcus faecium), herbal (saponin, cucurmin, carvacol, thymol) atau asifier (asam format, asam butirat) tertentu dapat digunakan untuk mengurangi populasi bakteri koli patogen (APEC) dalam lumen usus ayam, memelihara keseimbangan mikrobiota usus dan mengaktivasi sistem imunitas di tataran mukosa usus. Tujuan lainnya adalah untuk mengurangi shedding APEC ke lingkungan ayam, baik dalam litter atau di udara kandang.
Jika perlu, dapat diberikan preparat antibiotika yang strategik, efektif, dan selektif terhadap APEC, terutama antibiotika yang lama berada pada tingkat kantung hawa pada fase-fase rawan selama pemeliharaan setelah dilakukan observasi lapangan yang cermat.
Pada long-live birds, seperti ayam petelur komersial atau ayam bibit (breeder), penggunaan vaksin koli sangat dianjurkan. Program vaksinasi biasanya dikombinasi antara vaksin aktif dan vaksin inaktif. Pada ayam bibit, vaksinasi terhadap APEC ternyata dapat mereduksi kontaminasi APEC pada progeninya.
Langkah lainnya adalah lakukan evaluasi terhadap program vaksinasi Newcastle Disease (ND) dan atau Infectious Bronchitis (IB). Proteksi yang baik terhadap ND dan IB terbukti dapat mereduksi problem airsacculitis pada ayam modern, terutama pada broiler. Pada penelitian terakhir, terbukti bahwa ada korelasi yang erat antara kejadian ND dan IB subklinis dengan tingginya persentase condemnation di rumah potong unggas (slaughter house). *Anggota Dewan Pakar ASOHI
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Kesehatan pada majalah Poultry Indonesia edisi Agustus 2023. Baca selengkapnya pada majalah Poultry Indonesia edisi Agustus 2023. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com