POULTRYINDONESIA, Malang – Sektor perunggasan diperkirakan tetap memegang peranan penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional pada 2026. Proyeksi tersebut disampaikan dalam Kuliah Tamu Nasional tentang Unggas yang digelar Program Studi Sarjana Terapan Agribisnis Unggas, Fakultas Vokasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Selasa, (20/1/2026).
Forum yang digelar di Malang tersebut menjadi ruang diskusi antara akademisi kampus UMM dan pelaku industri untuk membahas berbagai tantangan aktual dalam sektor perunggasan, termasuk volatilitas harga pakan, penyusutan margin usaha, serta tuntutan peningkatan efisiensi dan keberlanjutan produksi di tengah dinamika iklim bisnis yang ada.
Bambang Rudianto selaku konsultan bisnis ayam broiler dan petelur, menyebut peluang usaha unggas masih terbuka, namun tidak dapat lagi dijalankan dengan pola-pola konvensional yang selama ini dilakukan. Menurutnya, kelemahan utama peternakan rakyat terletak pada pengelolaan usaha yang belum terstruktur.
“Peternakan hari ini harus dikelola secara profesional, tidak cukup hanya fokus pada outputnya saja. Tanpa perencanaan produksi yang jelas, pengendalian biaya yang tertata, dan manajemen risiko, usaha akan sulit bertahan,” ujar Bambang.
Ia menambahkan, bahwa orientasi usaha unggas perlu bergeser dari sekadar produksi menuju pengelolaan bisnis modern. Masih menurutnya, pendekatan bisnis modern yang penuh dengan strategi dan perhitungan akan membantu peternak menurunkan break even point (BEP).
Dari sisi kesehatan ternak, Suyud selaku Ketua Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) Jawa Timur, menegaskan bahwa produktivitas unggas sangat bergantung pada pengelolaan kesehatan yang tepat. Ia mengingatkan pentingnya penggunaan obat dan suplemen ternak yang aman serta sesuai regulasi.
“Selain manajemen budi daya, kesehatan ternak harus jadi menjadi perhatian utama. Penggunaan obat hewan yang tepat berpengaruh langsung terhadap kinerja produksi. Sekali saja salah pilih obat, akibatnya bisa panjang dan fatal,” jelasnya.
Ia juga menyoroti perlunya kolaborasi antara peternak, industri obat hewan, dan pemerintah dalam membangun sistem perunggasan yang sehat sekaligus meningkatkan kepercayaan pasar.
Sementara itu, Dekan Fakultas Vokasi UMM, Lailis Syafaah, menyampaikan bahwa perunggasan memiliki nilai strategis, baik sebagai penggerak ekonomi maupun penyedia protein hewani bagi masyarakat. Ia menilai pendidikan vokasi harus mampu menjawab kebutuhan nyata industri.
Menurutnya, melalui kuliah tamu nasional ini, Program Studi Sarjana Terapan Agribisnis Unggas Fakultas Vokasi UMM menegaskan komitmen untuk menghadirkan pembelajaran yang aplikatif dan relevan, sekaligus menyiapkan lulusan yang adaptif terhadap perubahan industri perunggasan.