Aksi Damai Peternak Petelur Kediri
POULTRY INDONESIA, Kediri– Bersamaan dengan Hari Kesaktian Pancasila (1/10) paguyuban peternak petelur se-kecamatan : Ringinrejo, Kabupaten Kediri, pagi hari pembagian bingkisan telur di Terminal sambi, dengan 500 paket bingkisan. Selanjutnya, aksi diteruskan secara berpindah, dengan keliling kampung-kampung.
Baca juga : Heboh Peternak Demo Jagung GOPAN dan PINSAR Adakan Rapat Koordinasi
“Pada aksi kali ini, kami menyediakan sekitar 2 ton telur, dimana telur-telur itu kami kemas dalam paket bingkisan, dengan per paket bingkisan berisi 8 butir telur,” tegas Nafi Rojulus, selaku koordinator lapangan (korlap) pada Aksi ini.
Nafi menambahkan aksi ini adalah aksi tertib, aksi damai, aksi lanjutan seperti yang di Blitar pada Selasa (28/9),yang bertujuan untuk menyampaikan unek-unek serta
menyampaikan tuntutan agar pemerintah memberikan perlindungan pada peternak kecil.
“Peternak sedang dalam masa keterpurukan, peternak butuh perlindungan, harga pakan yang terlalu mencekik, sedang harga telur yang terus terpuruk. Kita sebagai peternak kecil, mengharap pada pemerintah untuk mengayomi. Sebab, selama ini pemerintah belum optimal dalam memberi perlindungan ke peternak rakyat, banyak peternak yang gulung tikar, biaya operasional kandang jauh lebih besar, bila dibandingkan dengan harga jual telur,” ungkapnya.
Arif, salah seorang peternak petelur yang ikut aksi ini mengaku sangat berat untuk melaksanakan usaha ini saat ini. Sebab, dalam per kilogram telur yang ia jual, ia harus nombok sekitar Rp5000. Tak mengherankan jika kondisi ini membuat banyak peternak yang melakukan afkir dini, yang produksinya 70 persen sudah ada yang diapkir.
“Banyak obralan ayam apkir, ada yang Rp100.000 dapat empat ekor, bahkan ada yang sampai Rp50.000 dapat 3 ekor,” terangnya.
Pembagian telur dilaksanakan di Terminal Sambi, dan berlanjut keliling kampung. Saat keliling kampung Majalah Poultry Indonesia bertemu dengan peternak bebek dengan kapasitas 8000 ekor. Senin, begitu sapaan peternak itu, ia sangat menyetujui aksi yang dilakukan oleh para peternak petelur. Padahal, sebetulnya hal itu terjadi juga pada peternakan bebek yang ia jalani.
” Harga telur bebek hanya Rp 1.650 per butir, padahal normalnya bisa mencapai Rp.1.850 per butir, sedang biaya pakan per 100 ekornya sebanyak Rp75000, dikalikan 8000 ekor sudah berapa. Makanya demi untuk bertahan. saya sudah menjual sawah saya,” terangnya
Tidak ada pilihan dalam beternak, kecuali berusaha bertahan dengan diri sendiri, sedang pemerintah cenderung diam, hal ini diperparah oleh pihak perbankan tempat dirinya mengajukan pinjaman juga terus menagih, tanpa mau peduli dengan kondisi peternak.