POULTRYINDONESIA, Jakarta – Aksi mogok kerja yang dilakukan oleh para sopir truk yang tergabung dalam Gerakan Sopir Jawa Tengah dan Jawa Timur (GSJT) sejak Senin (17/6) hingga direncanakan Sabtu (21/6), menimbulkan dampak signifikan terhadap rantai distribusi logistik sektor perunggasan.
Dalam selebaran resmi yang tersebar, GSJT menyuarakan penolakan terhadap kebijakan Over Dimension Over Load (ODOL). Mereka menuntut evaluasi kebijakan tersebut serta revisi UU No. 22 Tahun 2009 yang dinilai merugikan para sopir. Selain itu, mereka juga meminta perlindungan hukum, revisi tarif logistik, pemberantasan premanisme dan pungutan liar, serta kesetaraan perlakuan hukum di sektor logistik.
Dihubungi secara daring pada, Kamis (19/6), Muchlis Wahyudi, selaku Sekretaris Jenderal Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar Indonesia) mengungkapkan bahwa aksi mogok ini sudah mulai menghambat kegiatan peternakan, khususnya di daerah Subang.
Menurutnya, aksi ini telah berdampak langsung terhadap peternak broiler. Dimana harga ayam hidup (livebird) yang seharusnya per hari ini dipatok di angka Rp18.000 per kilogram tidak dapat terserap maksimal karena pedagang enggan mengambil risiko distribusi.
“Para pedagang takut ambil barang karena kondisi tidak pasti. Selain panen terganggu, pengiriman pakan dan DOC juga ikut tersendat. Kalau ini terus terjadi, ada potensi dimanfaatkan oleh pihak perantara untuk menekan harga ke peternak,” tambahnya.
Di wilayah lain, seperti Kendal, dampak mogok juga sudah terasa. Ketua Koperasi Unggas Sejahtera Kendal, Suwardi, mengaku bahwa sejak beberapa hari terakhri distribusi telur di daerah Kendal tersendat. “Hari ini kami tidak bisa kirim ke mana pun. Telur numpuk di gudang. Kalau kondisi ini terus berlanjut, bisa-bisa telur membusuk. Sementara di daerah konsumsi seperti Jakarta, pasokan bisa menipis dan harga nya,” kata Suwardi.
Di Blitar, situasi serupa juga dikeluhkan oleh Eti Marlina, selaku Koordinator Rumah Kebersamaan Peternak Layer Mandiri Blitar Kediri Tulungagung Malang Trenggalek (BKT NT). Ia menyebutkan bahwa distribusi telur dari Blitar Raya ke Jabodetabek dan luar pulau sudah terhambat sejak tiga hari terakhir.
“Setiap hari ada ribuan ton telur yang harus dikirim dari Blitar. Tapi sekarang, para sopir truk tidak beroperasi atas nama solidaritas. Al hasil, telur tidak bisa dikirim dan menumpuk di gudang. Hari ini harga telur di Blitar kisaran Rp22.200–22.500, sedangkan di Jakarta Rp27.000 dan di Bandung bahkan Rp28.000. Saat ini peternak mulai panik. Kemarin masih ada yang nekat kirim, tapi hari ini semuanya sudah berhenti. Besok (Jumat, 20/6), menurut informasi akan ada aksi besar-besaran di Jawa Timur” ungkap Eti.
Ia mengaku sudah melaporkan kondisi ini ke Satgas Pangan, Kemenko Perekonomian, dan Badan Pangan Nasional (Bapanas). Dirinya berharap pemerintah bisa segera mengambil langkah cepat untuk menyelesaikan persoalan ini agar distribusi sapronak kembali lancar dan serapan produk perunggasan tidak tersendat lagi.