Broiler Cornish Cross (Sumber gambar: https://www.oakhillhomestead.com/)
Oleh : Jojo, S.Pt.,MM
Sugiyanto (2019) memberikan alasan mengapa ayam di Brasil bisa lebih murah.  Pertama, ketersediaan sumber pakan yang merupakan biaya utama produksi ayam. Jagung menyusun 65% biaya pakan. Brasil merupakan produsen utama jagung dunia. Kesesuaian iklim memungkinkan mereka bisa dua kali panen jagung per tahun. Selain itu, Brasil memanfaatkan skala ekonomi, teknologi jagung hibrida, dan manajemen tanaman (crop management practices). Harga jagung di Brasil berkisar Rp2.500/kg, sedangkan di Indonesia lebih dari Rp4.000/kg. Adapun kedelai impor seharga Rp6.000/kg dan harga kedelai di Brasil  hanya Rp4.000/kg.
Kedua, pemerintah Brasil mensubsidi pembeli jagung komersial. Maka petani mereka selalu terjamin penerimaannya dan bergairah untuk bertani jagung. Dengan sokongan industri jagung tersebut, Brasil menjelma jadi eksportir daging ayam terbesar di dunia. Ketiga, struktur industri daging ayam yang terkonsentrasi. Terdapat dua perusahaan besar yang menguasai 70% produksi daging ayam nasional. Perusahaan-perusahaan lain beroperasi secara terintegrasi dengan peternak. Dengan demikian terjamin standar kualitas produksi, standar pakan, dan efisiensi. Keempat, industri ayam Brasil berprinsip zero waste, memungkinkan penggunaan input produksi seefisien mungkin.
Sementara itu, Indonesia negara kepulauan, sulit mencapai skala produksi yang ekonomis disebabkan biaya angkut antar pulau tinggi. Struktur produksi jagung dan ayam tersebar dalam skala kecil. Petani jagung memiliki lahan terbatas, hasil produknya dikelola pedagang pengumpul, kemudian diproses perusahaan pakan ternak. Demikian pula gambaran peternak ayam tak jauh beda. Produksi jagung dan ayam umumnya terintegrasi vertikal dengan perusahaan pengolah. Berbeda dengan Brasil yang memberikan insentif bagi petani melalui jaminan harga. Sisi yang lain, petani jagung dan peternak kita dibiarkan mengikuti mekanisme pasar, berhadapan langsung dengan perusahaan besar dan ancaman liberalisasi global pasar jagung dan daging ayam impor.
Baca Juga: Kapan Industri Ayam dapat Berdaya Saing
Kebijakan pemerintah Brasil mendorong ekspor  produksi ayam tinggi. Reuter (2017) melaporkan total ekspor daging ayam dari Brasil mencapai nilai US$6,8 miliar/tahun. Nilai ekspor Brasil ke Indonesia diprediksi dapat mencapai nilai antara US$70-100 juta/tahun.
Untuk memasuki pasar Indonesia, Brasil harus bersaing ketat dengan negara eksportir lain. Di tingkat global, setiap tahun daging ayam yang dihasilkan oleh para produsen sekitar 85-90 juta ton. Tiga negara produsen daging ayam terbesar yaitu AS, Brasil, dan China memproduksi sekitar setengahnya dari total produksi tersebut.  
Berdasarkan data USDA (2017), pada 2016, Brasil memiliki pangsa pasar ekspor daging ayam dunia berdasarkan nilainya sebesar 36,4 %, diikuti oleh Amerika Serikat sebesar 28,2 %, Uni Eropa sebesar 11,9 %, dan Thailand sebesar 6,5 %. Bagian terbesar dari ayam ekspor adalah daging ayam dingin dan daging ayam beku. Kelas ini menyumbang 88 % dari total berdasarkan volume dan 76 % berdasarkan nilai, sisanya 12 % berupa  ayam olahan.
Brasil memiliki organisasi bisnis yang terintegrasi, beroperasi secara global di seluruh rantai produksi dari pakan ternak, produksi ayam di kendang, dan kemudian daging ayamnya diproses. Hal ini memungkinkan mereka untuk mengendalikan biaya, memanfaatkan skala ekonomi (economies of scale) dan skala cakupan (economies of scope).
Daya saing
Keberhasilan industri perunggasan sangat tergantung bagaimana kecepatan dan kesungguhan semua pemangku kepentingan perunggasan untuk meningkatkan daya saing.  Daya saing kita masih rendah dibandingkan negara pemasok utama Brasil, Thailand, dan AS. Daya saing industri perunggasan nasional perlu bertransformasi dari model yang tidak berdaya saing menjadi model ke yang lebih berdaya saing. Tak salah kita belajar dari pemain utama broiler dunia yang telah duluan maju. 
Faktor-faktor penentu daya saing industri ayam meliputi, pertama, adanya dinamika pasar  bahwa negara maju mengonsumsi terutama daging putih (white meat), sementara bagian daging cokelat (brown meat) yang diekspor. Kedua, adanya aneka distorsi pemberian subsidi pakan dan subsidi tersembunyi di sepanjang rantai nilai. Terdapat peningkatan biaya  input untuk bahan baku pokok pakan, biaya listrik dan tenaga kerja. Peningkatan impor bagian daging ayam cokelat dimana dari negara maju dianggap sebagai by products dengan menerapkan praktik-praktik perdagangan yang tidak adil. Kemudian yang ketiga, ada peningkatan penggunaan prinsip-prinsip SPS (sanitary and phytosanitary) sebagai penghalang masuk pasar.
Sementara itu, menurut Daryanto (2018), ada beberapa kunci keberhasilan industri perunggasan yang berdaya saing seperti kecocokan iklim yang sesuai yang membuat biaya pengelolaan di kandang menjadi lebih murah di samping tenaga kerja rendah; ditopang dukungan kuat produksi bahan pokok pakan ayam (jagung dan kedelai) lokal  melimpah; produksi yang terintegrasi (contract farming) antara perusahaan inti dan peternak plasma (dapat menggunakan skema koperasi); perusahaan besar menerapkan prinsip manajemen yang baik, peralatan yang modern, inovatif dan berbasis pasar (market driven). Kemudian, itu semua ditunjang adanya iklim investasi yang kondusif.
Pengampu kebijakan dan pemangku kepentingan perlu bergerak cepat, bertindak tepat, berbenah kebijakan, jangan sampai terlena dengan keberhasilan produksi yang telah dicapai. Jika terlambat,  keberadaan peternak lokal akan tergilas produk impor unggas yang lebih menjanjikan. Tak sekadar kerja, kerja, kerja, akan tetapi harus terus berupaya menelurkan kebijakan cermat supaya perunggasahttps://poultryindonesia.com/antisipasi-ayam-brasil/n nasional mampu bertahan dan berdaya saing. *Kandidat doktor ekonomi pertanian IPB University
Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel Majalah Poultry Indonesia edisi Januari 2021 dengan judul “Antisipasi Ayam Brasil”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153