Hamparan tanaman kunyit
Oleh: drh. Dewi Prabuwati*
Antibiotik tidak selamanya dapat mengobati infeksi bakteri pada broiler. Antibiotik yang digunakan secara terus menerus tanpa memerhatikan cara pakai, dosis, dan waktu henti obat akan menimbulkan resistensi antibiotik. Bakteri yang sudah resisten terhadap antibiotik tertentu berpeluang menimbulkan wabah baru karena bakteri ini sudah tidak dapat dieliminasi lagi dengan antibiotik yang sama sementara penemuan antibiotik baru membutuhkan waktu lama. Wabah resistensi bakteri tidak hanya mengancam dunia peternakan tetapi dapat juga mengancam dunia kesehatan manusia karena 70% penyakit yang ada di dunia merupakan penyakit zoonosis (penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia).
Salah satu contohnya yaitu colistin merupakan pilihan terapi terakhir untuk pengobatan infeksi bakteri Escherichia coli pada manusia. Antibiotik lain yang mulai dibatasi penggunaannya antara lain antibiotik golongan fluoroquinolon dan cephalosporin (golongan 3 dan 4). Kementerian Pertanian juga mengeluarkan wacana untuk mengurangi penggunaan produk antibiotik gabungan yang sudah biasa digunakan di peternakan utamanya pada broiler. Kekhawatiran ini didukung juga dengan kabar dari WHO yang menyebutkan bahwa lebih dari dua per tiga dari 711 sampel yang diambil dari 72 negara memiliki tingkat pencemaran antibiotik yang melebihi standar.
Resistensi antibiotik
Penelitian menunjukkan jika bakteri yang resisten dengan antibiotik tertentu sudah semakin banyak. Penelitian yang dilakukan oleh Yurianti (2019) yang berjudul Profil Resistensi Antibiotik Bakteri Escherichia coli Hasil Isolasi Swab Kloaka Ayam Broiler dari Pasar Tradisonal Surabaya menyimpulkan bahwa pada 100% sampel swab kloaka yang positif Escherichia coli 67% resisten terhadap antibiotik ciprofloxacin, 65% terhadap tetracycline, 37% terhadap gentamycin, 23% terhadap kloramfenikol, dan 3% terhadap azreonam. E. coli juga merupakan bakteri yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia.  
Resistensi antibiotik harus menjadi perhatian peternak, pemangku kepentingan, perusahaan obat hewan, dan masyarakat umum sebagai konsumen. Kesadaran konsumen terhadap bahaya dari resistensi antibiotik diperlukan karena konsumen dapat mendorong peternak untuk mengurangi bahkan menghentikan penggunaan antibiotik pada peternakan. Pasar produk peternakan non antibiotik bisa saja tercipta di Indonesia jika ada dorongan dari konsumen. Perusahaan obat hewan juga terdorong untuk menciptakan inovasi-inovasi produk alternatif antibiotik. Tugas pemerintah adalah selalu mengawasi dan memberi pembinaan kepada peternak dan perusahaan obat hewan tentang pengurangan penggunaan antibiotik di peternakan unggas. Peneliti sebaiknya berinovasi menemukan produk-produk yang dapat mengurangi penggunaan antibiotik di peternakan.
Produk-produk yang sudah banyak diteliti, murah, dan mudah diaplikasikan adalah asam organik dan produk herbal. Asam-asam organik (acidifier) dapat digunakan sebagai alternatif penggunaan antibiotik terutama untuk infeksi-infeksi saluran pencernaan unggas. Asam-asam organik yang sering dipakai yaitu asam laktat, asam propionat, asam format, asam asetat, dan lain-lain. Acidifier bekerja dengan cara meningkatkan kualitas enzim pencernaan, serta mengurangi populasi bakteri patogen di saluran pencernaan.
Baca Juga: Peran Hatchery dalam Produksi Bebas Antibiotik
Acidifier juga berfungsi untuk mengurangi populasi bakteri patogen yang tidak tahan asam seperti Salmonella sp. karena dapat menurunkan nilai pH dalam saluran pencernaan. Penurunan bakteri patogen selain mengurangi risiko infeksi dapat juga mengurangi persaingan penyerapan nutrisi antara ayam dengan bakteri. Asam laktat dapat menurunkan nilai FCR dengan meningkatkan populasi bakteri baik seperti Lactobacillus sp yang akan meningkatakan kecernaan pakan ayam. Acidifier dapat diberikan melalui pakan dan air minum. Penambahan acidifier pada pakan dan air minum juga dapat mengurangi kontaminasi bakteri dan jamur yang terkandung dalam pakan dan air minum.
Bahan-bahan alami atau yang sering disebut dengan bahan herbal juga dapat menggantikan peran antibiotik utamanya untuk pencegahan penyakit. Bahan herbal yang mengandung kandungan antibakteri seperti kunyit dengan kandungan kurkuminnya. Rahmawati et al. (2014) dalam tulisannya yang berjudul Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Herbal terhadap Bakteri Escherichia coli menuliskan bahwa kunyit memiliki sifat antibakteri yang paling besar jika dibandingkan dengan jahe dan temu putih. Kurkumin memiliki aktivitas antibakteri dengan spektrum luas dan berpotensi sebagai pengganti antibiotik di masa depan.
Bahan alami lain yang berpotensi sebagai pengganti antibiotik karena memiliki efek antibakteri di masa depan antara lain eugenol yang terkandung dalam cengkeh dan jambu biji. Beberapa minyak esensial yang dihasilkan dari tanaman juga dilaporkan memiliki efek antibakteri karena dapat meningkatkan permeabilitas membran sel bakteri sehingga bakteri akan mati karena kebocoran sel. Beberapa herbal juga memiliki potensi sebagai immunostimulan yang akan mencegah ayam sakit dan mempercepat persembuhan jika ayam terlanjur sakit. Bahan herbal yang berpotensi sebagai imunostimulan yaitu jahe merah, sambiloto, temulawak, kunyit, temu ireng, dan jintan hitam.
Kendala pemakaian bahan herbal sebagai alternatif antibiotik adalah kandungan zat antinutrisi. Zat ini misalnya tanin dalam tanaman herbal dapat mengganggu penyerapan pakan yang akan mengganggu pertumbuhan broiler. Sisi positif penggunaan bahan herbal di Indonesia adalah masyarakat Indonesia sudah familiar dengan penggunaan jamu. Para peneliti dan produsen obat hewan tinggal membuat formulasi bahan herbal yang mudah diaplikasikan dan dapat meningkatkan potensi kadar aktif yang terkandung dalam produk herbal tersebut.
Potongan artikel Majalah Poultry Indonesia edisi November 2020 ini dilanjutkan pada judul Langkah Untuk Mengurangi Antibiotik”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153